Home Perkebunan Mengenal Sistem Tebang Angkut Tebu di Gunung Madu

Mengenal Sistem Tebang Angkut Tebu di Gunung Madu

Sistem Tebang Angkut Tebu

Agrozine.id – Di Gunung Madu, terdapat 3 cara tebang dan angkut tebu yaitu sistem tebu ikat, tebu urai dan tebu potong. Ketiga sistem tersebut dikembangkan berdasarkan jenis wilayah kebun yang memanjang dan sebagai upaya meminimalkan pemampatan tanah akibat penggunaan kendaraan untuk mengangkut tebu. Berikut ini adalah sistem tebang angkut tebu yang dilakukan di Gunung Madu.

Panen Tebu Dengan Sisten Tebang Angkut

1. Tebang Ikat

Cara ini dilakukan dengan memotong pangkal batang tebu rata dengan permukaan tanah menggunakan golok. Setelah itu sekitar 30 batang tebu diikat di sekitar bagian pangkal dan ujungnya dengan tali bambu atau bisa juga memanfaatkan daun tanaman tebu.

Cara ini dilakukan sudah sejak tahun 2002 dan membawa sampah sampai ke pabrik sekitar 8 persen dari keseluruhan tebu. Sedangkan setelah tali pengikatnya diganti menjadi tali bambu, sampah yang dihasilkan hanya 2,87 persen. Tali bambu untuk mengikat tebu dinilai lebih efektif dan mengurangi sampah.

Baca Juga: Sound Agriculture Luncurkan Produk Baru Penambah Nutrisi untuk Kedelai

2. Tebu Urai

Cara tebang angkut tebu yang kedua adalah tebu urai. Cara ini hampir sama dengan cara pertama yaitu batang tebu dipotong rata dengan tanah menggunakan golok.

Namun setelah dipotong, tebu tidak diikat melainkan ditumpuk sehingga membentuk onggokan besar sebesar cakupan mesin pemuat (grab loader). Gunung Madu memiliki 15 unit mesin pemuat.

Penghitungan untuk pembayaran setiap orang yang menebang tebu didasarkan pada luasan area yang telah ditebang. Setelah tiba di pabrik, tebu yang disusun membentuk onggokan tadi dan dibawa menggunakan truk kemudian dibongkar menggunakan alat yang bernama gantry dan electric cane.

Baca Juga: CROWDE Targetkan 100.000 Petani Sudah Terdigitalisasi di Tahun 2021

3. Tebu Potong

Metode yang ketiga adalah tebu potong. Agak berbeda dengan dua cara diatas, panen tebu dengan metode tebu potong menggunakan mesin pemotong (sugarcane harvester). Tebu dipotong-potong dengan ukuran minimal 25 cm, kemudian potongan tebu tersebut disusun ke dalam box truk.

Sistem ini hanya dioperasikan ketika jumlah tenaga kerja menurun. Misalnya pada saat hari raya Idul Fitri atau libur hari raya lainnya. Kontribusi pengiriman tebu dengan sistem tebu potong sebesar 5 persen dari total tebu dalam sekali panen.

Perlu diketahui juga bahwa syarat bakunya adalah tebu tertinggal di kebun tidak boleh melebih 1 ton per hektar, serasah yang terangkut ke pabrik tidak boleh melebihi 5 persen dan tebu harus sudah dikirim ke pabrik kurang dari 2 x 24 jam.

Itulah sistem tebang angkut tebu Gunung Madu. Sebenarnya semua sistem ini memiliki standar kualitas yang harus dipenuhi guna memperlancar siklus bisnis nasional juga internasional untuk kecukupan kebutuhan gula.  (ira)

 

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here