Home Perkebunan Mengenal Sosok Mbah Lasiyo, Sang Profesor Pisang dari Bantul

Mengenal Sosok Mbah Lasiyo, Sang Profesor Pisang dari Bantul

Mbah Lasiyo Profesor pisang

Agrozine.id – Kisah inspiratif datang dari sosok Mbah Lasiyo, pria paruh baya asal Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Mbah Lasiyo adalah seorang petani pisang yang berhasil “go international”. Ia dikenal sebagai “Profesor Pisang” oleh para ilmuwan dunia, terutama di bidang pertanian. Pada kesempatan kali ini, kita akan lebih mengenal sosok Mbah Lasiyo dan temuan-temuannya dalam budidaya pisang.

Satu Tandan Dibanderol hingga Rp 500 Ribu • Radar Jogja

Kisahnya berawal dari peristiwa gempa 5,6 skala Richter di Yogyakarta pada tahun 2006 yang telah menghancurkan seluruh tempat tinggal, harta benda hingga mengakibatkan ia kehilangan pekerjaan tetapnya sebagai pekerja di toko bangunan. Hingga akhirnya, Mbah Lasiyo pun memutuskan untuk beralih menjadi petani pisang.

Alasan Mbah Lasiyo memilih untuk membudidayakan pisang karena dia menganggap bahwa pohon pisang adalah tanaman yang mudah ditanam dan memiliki waktu panen yang relatif cepat. Selain itu, banyak pekarangan produktif yang dapat dimanfaatkan untuk membudidayakan pisang-pisang tersebut.

Mbah Lasiyo mengajukan bantuan kepada lurah setempat agar mendapat pendanaan bibit pohon pisangnya difasilitasi. Namun, hal itu baru bisa direalisasikan pada akhir tahun 2007. Berawal dari situ, ia bersama warga setempat mendapatkan pembelajaran dari pemerintah tentang budidaya pisang mulai dari proses pembibitan, pemberantasan hama penyakit, pasca panen, pengolahan, dan pasca pemasaran.

Seiring berjalannya waktu, Mbah Lasiyo mulai mendatangkan varietas-varietas pisang lainnya dari berbagai tempat. Khususnya pisang-pisang lokal Indonesia. Saat ini terdapat 18 varietas pisang yang tumbuh subur di Dusun Ponggok. Antara lain raja bagus, raja bulu, raja sere, raja jengkel, kapok kuning, ambon kuning, ambon lumut, raja pulut, raja kidang, kojo atau pisang susu, raja sewu, pulut, klutuk, mas kirana, gabu atau koprek, byok, dan pisang moro sebo.

Konservasi Pisang Organik Lasiyo - Ilmu dan Teknologi - majalah.tempo.co

Mbah Lasiyo dalam membudidayakan pisang tidak menggunakan bahan kimia sedikitpun. Ia meracik sendiri pupuk organiknya. Dalam usaha pencegahan hama, ia bahkan membuat pestisida nabati dari tanaman rimpang. Mbah Lasiyo juga membuat sendiri zat perangsang tumbuh dari fermentasi daun kucai.

Berkat pengembangan secara otodidaknya tersebut, Mbah Lasiyo mampu mempersingkat masa pembibitan dari empat bulan menjadi dua bulan. Pisang yang dihasilkan pun sangat berkualitas. Hingga pada suatu waktu, Ia mulai didatangi oleh para ilmuwan dari berbagai negara, seperti Jepang, Belanda, Thailand, Australia hingga Italia.

Hingga pada akhirnya tahun 2016, penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Lasiyo dapat mengantarkannya untuk mengikuti pertemuan Salone del Gusto Terra Madre 2016 (SGTM) di Turin, Italia. SGTM sendiri merupakan pertemuan internasional yang menghadirkan para penggerak pangan dan gastronomi yang ramah lingkungan.

Sangat membanggakan! meski hanya mengantongi ijazah paket B, Mbah Lasiyo sang “Profesor Pisang” mampu membudidayakan pisang dari hulu hingga hilir dengan mengajak warga sekitar. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here