Home Perikanan Mengenal Teknologi Bioflok untuk Budidaya Lele dan Nila

Mengenal Teknologi Bioflok untuk Budidaya Lele dan Nila

Agrozine – Budidaya ikan air tawar merupakan jenis usaha yang banyak diminati. Beberapa jenis ikan tawar yang sering dibudidayakan antara lain ikan lele dan ikan nila. Selain mudah, langkahnya juga minim modal. Kendati demikian, para pembudidaya dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ikan melalui teknologi bioflok. Teknik pemeliharaan ikan ini memaksimalkan jumlah tebar ikan dan memanfaatkan kotoran ikan sebagai pakannya. Selain itu, bioflok telah dikenalkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2017 dibawah instruksi Menteri Susi Pudjiastuti.

Lantas apa saja kelebihan teknologi bioflok? Bagaimana cara membuatnya? Dalam artikel ini kita akan mengenal teknologi bioflok untuk budidaya lele dan nila.

  1. Teknik Bioflok

Bioflok terdiri dari dua suku kata, bio yang berarti kehidupan dan floc yang berarti gumpalan. Dalam teknik bioflok, kotoran lele yang berubah menjadi gumpalan kecil digunakan sebagai pakan alami ikan. Bioflok merupakan perpaduan dari alga, ganggang, jamur, dan bakteri yang kaya protein dan baik untuk dikonsumsi ikan.

 

Teknologi Bioflok atau Biofloc Technology (BFT) memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  1. Meningkatkan kualitas air dengan menyeimbangkan karbon dan nitrogen.
  2. Ketersediaan protein bakteri sebagai sumber makanan, mengurangi biaya pakan ikan dan ramah lingkungan.
  3. Kolam lebih bersih karena sebelum ikan lele dan nila diberi pakan, air kolam dikeluarkan terlebih dulu dan diisi air mengalir.
  4. Pengaliran air yang bersih, membuat budidaya ikan terbebas dari bau amis.

 

  1. Pembuatan Kolam Bioflok

Pada budidaya lele dan nila dengan teknologi bioflok, kolam yang digunakan berbentuk tabung (silinder).  Untuk membuatnya, kamu perlu menyiapkan bahan berupa terpal, pagar besi, juga paralon ¾.

  • Buatlah lubang sedalam 20 hingga 30 cm dengan diameter 1,5 sampai 2 meter. Lalu pasangkan terpal.
  • Pada dasar kolam, pasang pipa paralon yang berfungsi sebgai jalan keluar kotoran ikan. Bila perlu, gunakan lem dan karet pengikat agar tidak bocor.
  • Pasang kerangka membentuk lingkaran diatas kolam untuk mengalirkan air ke dalamnya.
  • Buatlah naungan diatas kolam untuk menghalangi air hujan dan paparan sinar matahari langsung.

 

  1. Persiapan Air

Dalam kolam bioflok, isilah air bersih hingga terisi penuh dan berikan pupuk organik terlebih dulu. Kemudian, masukkan molase (gula) dengan kadar 250 ml/m3 yang berguna sebagai sumber energi bakteri pengurai. Selanjutnya, masukkan bakteri probiotik jenis Bacilus sp. sebanyak 5 ml/m3 dan diamkan air minimal 2 minggu hingga berubah warna. Namun pada hari ketiga, kamu perlu menambahkan prebiotik molase sebanyak 250 ml/m3 dan dolomite 150-200 gram/m3 pada malam hari. Jika air berwarna merah kecoklatan, berarti air sudah dipenuhi oleh bakteri dan ganggang.

 

  1. Perawatan Ikan

Untuk budidaya lele dan nila dalam kolam bioflok, gunakanlah bibit ikan yang telah berusia 1bulan. Kamu juga perlu mengurangi porsi pakannya secara bertahap tiap minggu, mulai dari 10, 20, hingga 50 persen. Ikan dalam kolam bioflok telah mendapatkan pakan alami kaya protein dari airnya, selain itu kamu akan lebih hemat dalam pemberian pakan. Pakan ikan diberikan 3 kali sehari, yakni pada pukul 9 pagi, 3 siang, dan 9 malam. Pastikan jumlah pakan adalah 2,5 persen dari total berat badan ikan. Untuk menjaga kestabilan kadar mikroorganisme dalam kolam bioflok, tambahkan probiotik secara rutin. Lakukan seminggu sekali agar kolam tetap didominasi mikroorganisme bermanfaat.

 

Nah, sekarang sudah lebih mengenal teknologi bioflok untuk budidaya lele dan nila. Melalui teknik ini, kamu dapat panen ikan lebih cepat karena asupan nutrisi ikan dalam kolam bioflok senantiasa terpenuhi. (rin)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here