Home Biodiversitas Udang Windu, Primadona Ekspor Perikanan Indonesia

Udang Windu, Primadona Ekspor Perikanan Indonesia

globalseafood.org

Agrozine – Udang windu udang atau disebut udang pancet bernama ilmiah Penaeus monodon. Dalam bahasa inggris, udang ini disebut giant tiger prawn, asian tiger shrimp, atau black tiger shrimp.

Udang windu adalah udang laut asli Indonesia dan merupakan komoditi ekspor perikanan nomor satu di Indonesia. Udang windu dijual di pasaran dengan harga yang lebih tinggi dari harga udang pada umumnya. Tidak heran jika udang windu masuk dalam jajaran udang spesial yang banyak diburu.

Udang windu terdistribusi alami di Pasifik barat Indonesia, berkisar antara pantai Afrika, dari Semenanjung Arab sampai Asia Tenggara, dan Laut Jepang. Udang ini dapat juga ditemukan di Australia, dari Austria timur, di Laut Tengah melalui Terusan Suez, Hawaii, dan Lautan Atlantik termasuk Amerika Serikat (Florida, Georgia dan South Carolina).

Habitat udang windu biasanya di perairan dangkal di tepi pantai. Namun, saat mencapai usia dewasa, udang ini akan mencari tempat yang dalam di tengah laut.

Udang windu bersifat Euryhaline, yakni secara alami bisa hidup di perairan yang berkadar garam dengan rentang yang luas, yakni 5-45%. Kadar garam ideal untuk pertumbuhannya adalah 19-35%. Sifat lain yang juga menguntungkan adalah ketahanannya terhadap perubahan temperatur.

Tubuh udang ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala hingga dada dan abdomen yang meliputi bagian perut dan ekor. Bagian kepala dada disebut cephalothorax, dibungkus kulit kitin yang tebal yang disebut carapace. Bagian ini terdiri dari kepala dengan 5 segmen dan dada dengan 8 segmen. Bagian abdomen terdiri atas 6 segmen dan 1 telson.

Bagian kepala hingga dada terdapat anggota-anggota tubuh lain yang berpasang–pasangan berturut-turut dari muka kebelakang adalah sungut kecil (antennula), sirip kepala (Scophocerit), sungut besar (antenna), rahang (mandibulla), alat-alat pembantu rahang (maxilla) yang terdiri dari dua pasang maxilliped yang terdiri atas tiga pasang, dan kaki jalan (periopoda) yang terdiri atas lima pasang, tiga pasang kaki jalan yang pertama ujung-ujungnya bercapit yang dinamakan chela.

Bagian perut terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda). pada ruas keenam kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Ujung ruas keenam kearah belakang membentuk ekor (telson).

Udang windu memiliki kulit tubuh yang keras, berwarna hijau kebiruan, dan berloreng-loreng besar. Kulitnya tidak elastis dan akan berganti kulit selama pertumbuhan. Frekuensi pergantian kulit ditentukan oleh jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi, usia, dan kondisi lingkungan.

Setelah kulit lama terlepas, udang dalam kondisi lemah karena kulit udang baru belum mengeras. Pada saat ini udang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat diikuti dengan penyerapan sejumlah air. Semakin cepat udang berganti kulit maka pertumbuhan semakin cepat.

Saat muda, udang windu berada di perairan dangkal tepi pantai. Setelah dewasa, udang ini mencari tempat yang dalam di tengah laut. Pertumbuhannya mencapai 35 cm dan berat sekitar 260 gram. Namun, jika dipelihara ditambak, panjang tubuhnya hanya mencapai 20 cm dan beratnya sekitar 140 gram.

Udang windu termasuk hewan heteroseksual, yaitu mempunyai jenis kelamin jantan dan betina yang dapat dibedakan dengan jelas. Jenis udang betinanya dapat diketahui dengan adanya telikum pada kaki jalan ke-4 dan ke-5. Telikum berupa garis tipis dan akan melebar setelah terjadi fertilisasi. Sementara jenis kelamin udang jantannya dapat diketahui dengan adanya petasma, yaitu tonjolan diantara kaki renang pertama.

Udang windu bersifat omnivora dan seringkali bersifat kanibal karena memakan udang yang sedang moulting (ganti kulit). Udang ini tergolong hewan nocturnal karena sebagian besaraktifitasnya seperti makan dilakukan malam hari.

Udang ini memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan manusia. Satu ekor udang windu mengandung kadar protein yang tinggi, vitamin, dan mineral lainnya. Selain itu, udang ini juga memiliki asam amino yang lengkap, baik esensial ataupun non-esensial.

Selain dari manfaatnya, udang windu juga menjadi jenis udang favorit karena banyak memiliki kelebihan. Kelebihan udang ini diantaranya memiliki ukuran panen yang lebih besar, rasa dagingnya yang manis serta gurih, serta peluang penjualannya yang besar dan laku di pasaran.

Meskipun udang windu menjadi komoditas unggulan, tetapi jenis udang ini terancam punah. Sebab, udang ini rentan terkena wabah penyakit bercak putih (white spot) yang membuat banyak petambak udang gagal panen dan berhenti membudidayakannya. Penyakit ini bisa dicegah dengan pemberian prebiotik pada udang, penerapan biosekuriti yang tepat, memastikan benur udang yang ditebar bebas penyakit, serta rutin melakukan pengecekan kualitas air dan kondisi tubuh udang. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here