Home Kampus Menilik Pemasaran Ekspor Komoditas Manggis di Tasikmalaya

Menilik Pemasaran Ekspor Komoditas Manggis di Tasikmalaya

Agrozine – Manggis merupakan komoditas buah unggulan Indonesia. Buah manggis telah banyak dibudidayakan dan menjadi penyumbang devisa negara sebagai komoditas ekspor. Produksi manggis terbesar di Indonesia berada di provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Tasikmalaya. Pada tahun 2016, Tasikmalaya menjadi sentra produksi manggis tertinggi dengan kontribusi 57,97 persen dari total produksi di Jawa Barat.

Kecamatan Puspahiyang yang terletak di Tasikmalaya tidak kalah potensial. Diantara kecamatan lain yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Kecamatan Puspahiyang dapat menghasilkan produksi buah manggis terbanyak mencapai 122.751 kwintal pada tahun 2015. Para petani manggis di Kecamatan Puspahiyang memasarkan manggis melalui eksportir Java Fresh yang berada dibawah PT. Nusantara Segar Global.

Bila Java Fresh melaksanakan manajemen pemasaran dengan baik, maka sistem pemasaran akan berjalan efisien. Hal inilah yang mendasari Ayu Elizabeth untuk menulis skripsi dengan judul “Manajemen Pemasaran Ekspor Manggis di Tingkat Ekspor (Studi Kasus di PT. Nusantara Segar Global Sebagai Eksportir Manggis di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya)”. Lulusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unpad 2015 ini ingin meneliti mekanisme dan sistem pemasaran ekspor manggis di Java Fresh sebagai eksportir buah manggis.

Penelitian ini dilakukan pada awal Januari 2019 di PT Nusantara Segar Global yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya. Java Fresh adalah label produk ekspor buah Indonesia yang fokus pada pengembangan buah tropis premium. Java Fresh telah memasarkan ke 16 negara yang tersebar di Eropa, Asia, Australia, dan New Zealand. Java Fresh telah memperoleh Global GAP (Good Agricultural Practice) serta sertifikasi dari Kementerian Pertanian dan Instalasi Karantina Tumbuhan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ayu, mekanisme pemasaran yang dilakukan oleh PT Nusantara Segar Global sudah optimal. Kegiatan penyimpanan barang yang dihasilkan sampai dijual dan diolah sangat baik. Manggis yang baru dipanen disimpan dalam gudang untuk dilakukan sortasi. Manggis yang memasuki kriteria untuk ekspor kemudian dipindahkan ke dalam keranjang untuk dibersihkan.

Buah manggis kemudian dikemas untuk pasar ekspor agar tidak cepat rusak dalam box sterofoam. Box ini dapat menampung sekitar 10-12 buah dan tiap buah diberi label Java Fresh. Selain itu, dilakukan wrapping agar kondisi manggis tetap aman dan tidak rusak saat tiba di lokasi. Sementara packaging manggis untuk pasar lokal dimasukkan dalam satu box berisi 2 buah dengan berat 1 kg tiap packnya. Box juga dilapisi kain kasa untuk melindungi buah dan ditempel label Java Fresh.

Hasil penelitian yang dilakukan Ayu juga menjukkan bahwa efisiensi pemasaran secara teknis dan ekonomis adalah saluran pemasaran III. Pemasaran yang melibatkan Java Fresh, pedagang pengecer, dan konsumen luar negeri dinilai paling efisien karena tidak melibatkan banyak pihak. Ayu memilih topik ini setelah berdiskusi dengan dosen Fakultas Pertanian Dini Rochdiani yang kerap melakukan penelitian untuk komoditas manggis.

Desa Puspahiyang yang merupakan sentra produksi manggis di Jawa Barat juga menjadi alasannya meneliti topik ini. Selama penelitian, Ayu melihat langsung proses packaging yang dilakukan oleh Java Fresh. “Di Java Fresh sistemnya PO, bukan dikirim tiap hari. Paling lama ada spare waktu 1 hari untuk karantina sebelum dikirim. Selama berada di ruang karantina, buahnya dicek satu persatu untuk memastikan manggis sesuai SOP,” jelas Ayu.

Ayu menambahkan, ruang karantina buah benar-benar tertutup untuk menghindari kontaminasi dari faktor eksternal yang dapat merusak kondisi buah. Suhu dan cuaca dalam ruangan benar-benar diperhatikan, begitu pula penempatan label. “Manggis yang layak kirim termasuk supergrade 1, ga ada getah, ga mudah pecah, ga keras, dan ga burik,” jelas wanita kelahiran 3 Februari 1997 ini.

Adapun kendala yang dihadapi Java Fresh sebagai eksportir adalah kualitas buah yang tidak sesuai SOP. “Biasanya yang ga lulus SOP akan dijual ke pasar lokal,” tambah Ayu. Menurut Ayu, perusahaan harus menetapkan standar kualitas buah yang akan dibeli dari petani untuk meminimalisir kerusakan buah saat grading sehingga keuntungan dapat dimaksimalkan dengan sedikitnya jumlah buah yang rusak. (rin)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here