Home Perkebunan Menilik Topografi Kapuas dan Pulang Pisau untuk Lumbung Pangan Nasional

Menilik Topografi Kapuas dan Pulang Pisau untuk Lumbung Pangan Nasional

Agrozine.id– Merespon peringatan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengenai ancaman krisis pangan di tengah pandemi Covid-19,kini pemerintah tengah serius mengembangkan proyek lumbung pangan nasional (food estate) yang akan dikembangkan di dua lokasi berbeda yaitu Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau provinsi Kalimantan Tengah. Pengembangan proyek tersebut bukanlah percetakan sawah baru melainkan mengoptimalisasi lahan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di Kapuas dan Pulang Pisau. Keseriusan pemerintah terlihat saat Presiden beserta menteri pertanian dan menteri pertahanan melakukan peninjauan Kapuas dan Pulang Pisau yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan lumbung pangan nasional (food estate) pada Kamis (09/07/2020).

Selain presiden Joko Widodo yang didampingi oleh menteri pertanian dan menteri pertahanan,pada Senin (13/07/2020),menteri PUPR didampingi oleh dinas PUPR Kalimantan Tengah juga melakukan peninjauan di sejumlah lokasi yang telah ditunjuk sebagai lokasi pengembangan proyek lumbung pangan nasional ini. Proyek yang direncanakan akan dikembangkan diatas lahan seluas 165.000 ha ini telah memiliki lahan fungsional seluas 89.500 ha yang sudah berproduksi setiap tahunnya,sedangkan sisanya seluas 79.500 merupakan semak belukar yang memerlukan pembersihan lahan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa proyek lumbung pangan ini ditargetkan akan dimulai pada awal musim tanam bulan Oktober 2020 mendatang. Dari total keseluruhan lahan yang ditargetkan,pemerintah menyebut akan mengupayakan pemanfaatan lahan seluas 30.000 ha di tahun ini dan selanjutnya 1,5 sampai 2 tahun mendatang target penyelesaian di seluruh lokasi akan diselesaikan.

Menilik dari sisi topografi Kapuas dan Pulang Pisau yang akan dijadikan lokasi pengembagan lumbung pangan nasional ini,ada beberapa pertimbangan yang diambil oleh pemerintah mengingat kedua lokasi yang ditunjuk adalah lahan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) pada era pemerintahan Soeharto.

Lalu mengapa pemerintah justru memilih kedua lokasi tersebut? Mari kita menilik dari sisi topografi keduanya:

Kondisi Topografi Kabupaten Kapuas

Secara administrasi kabupaten Kapuas terbagi menjadi 2 wilayah yaitu,wilayah bagian utara dan wilayah bagian selatan. Desa Bentuk Jaya Kecamatan Dadahup Kabupaten Kapuas yang ditunjuk sebagai lokasi lumbung pangan berada di wilayah bagian selatan Kapuas. Lahan potensial yang ada di wilayah tersebut seluas 20.704 ha dan lahan fungsional yang telah dimanfaatkan sebelumnya ada seluas 5.480 ha.

Daerah kabupaten Kapuas memiliki sungai,danau dan rawa yang menjadi sumber drainase juga pengairan ke sawah-sawah yang dikelola oleh petani.Secara topografi seluruh bentangan wilayah kabupaten Kapuas relatif datar (0-8%) dengan ketinggian antara 0-500 meter diatas permukaan laut (mdpl).

Bagian Selatan (lokasi pengembangan lumbung pangan nasional) memiliki topografi yang didominasi rawa-rawa dan pantai dengan ketinggian antara 0-5 mdpl dan dipengaruhi oleh pasang surut dan tanah yang mendominasi adalah tanah gambut dan aluvial yang terbentuk dari endapan air sungai. Jika ditilik dari aspek fisiografisnya,lokasi kabupaten Kapuas rentan terhadap banjir dan abrasi akibat pasang surut air laut,juga kebakaran lahan gambut. Namun lokasi tersebut potensial sebagai lahan pertanian pangan dan hortikultura.

Seperti diketahui bahwa nantinya proyek pengembangan lumbung pangan nasional ini akan dikembangkan dengan basis korporasi petani yang mencakup pertanian,perkebunan dan peternakan. Komoditas pertanian yang akan dikembangkan juga bukan hanya padi dan jagung saja melainkan juga komoditas lainnya seperti sayuran dan buah-buahan.Lahan potensial di Kapuas untuk pertanian pangan dan hortikultura dipilih untuk pengembangan lumbung pangan nasional berpotensi untuk dikembangkan,namun perlu adanya penggunaan teknologi yang tepat agar pengolahan lahan berhasil.

Hanya saja melewati rawa dan gambut akan menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan proyek lumbung pangan nasional di kabupaten Kapuas ini.

Kondisi Topografi Pulang Pisau

Lokasi kedua yang akan dijadikan lumbung pangan nasional adalah kabupaten Pulang Pisau,tepatnya di desa Belanti Siam yang ditargetkan lahan potensial seluas 10.000  yang merupakan sentra produksi tanaman padi dengan hasil produksi rata-rata mencapai 5-7 ton (varietas hibrida,impara dan impari) dan produksi padi organik rata-rata 9 sampai 10 ton. Dengan hasil produksi tersebut,Bupati Pulang Pisau,Edy Pratowo menyatakan optimis dengan dukungan pemerintah dan petani setempat bumi handap hapenat siap menjadi lumbung pangan nasional.

Jika ditilik dari segi topografinya,untuk lumbung pangan nasional Pulang Pisau seluas 28.321 ha tersebut merupakan lahan gambut dimana 8.747 ha berada di kawasan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) dan 19.574 ha di luar kawasan PLG,dijelaskan oleh menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam pernyataan tertulisnya. Seluas 19.103 ha lahan sudah memiliki irigasi yang baik sedangkan sisanya 9.218 ha masih perlu perbaikan irigasi yang akan dikerjakan secara bertahap dalam kurun waktu maksimal 2 tahun.

Menilik topografi Pulang Pisau memiliki iklim tropis dengan suhu berkisar 26.5-27.5 derajat dan rata-rata suhu tahunan maksimal 32.5 derajat dan minimum 29.5 derajat dengan kelembaban udara rata-rata 80%. Jenis tanah yang mendominasi di Palung Pisau adalah tanah gambut dan aluvial yang disebut berpotensi menjadi lahan pertanian.

Lokasi pengembangan lumbung pangan nasional di Pulang Pisau merupakan lahan dengan tanah aluvial yang merupakan endapan air sungai dan memilik kadar racun pirit. Namun lahan tersebut sedang dalam proses reklamasi untuk mengurangi kadar piritnya.

Edy Sutowo,bupati Pulang Pisau meyakinkan bahwa lahannya siap dikembangkan menjadi lumbung pangan nasional dan hal tersebut disambut baik oleh masyarakat Pulang Pisau.

Namun mengingat kedua lokasi prioritas lumbung pangan nasional ini berada di lahan eks PLG,maka dibutuhkan kerjasama yang baik antara semua pihak yang terlibat dan perlunya teknologi budidaya yang tepat,kondisi sosial ekonomi yang mendukung dan infrastruktur yang memadai agar proyek ini berhasil. Mengingat beberapa proyek lumbung pangan yang pernah digagas pemerintah di era sebelumnya sering mandek di tengah jalan.

Anggaran biaya yang besar yaitu Rp 2,5 triliun dikerahkan untuk pengembangan proyek ini dan tentu saja kita berharap agar pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat dengan memperhatikan manfaat jangka pendek dan jangka panjang yang akan timbul dari proyek lumbung pangan nasional ini. Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau memiliki topografi yang mendukung untuk dijadikan lumbung pangan nasional,namun tetap dibutuhkan teknologi yang tepat untuk mengolahnya,mengingat lahan potensial yang ditunjuk adalah lahan gambut dan tanah aluvial.

Ditulis oleh Romatio Ira Azhari Silalahi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here