Home Biodiversitas Ngengat dan Ulat Istimewa Penghasil Sutra

Ngengat dan Ulat Istimewa Penghasil Sutra

ahi-intl.farm

Agrozine.id – Siapa yang tak kenal sutra? Kain ini terkenal sebagai kain yang memiliki tekstur mulus, lembut, tetapi tidak licin. Tampilan berkilauan yang menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti prisma segitiga dalam serat tersebut yang membuat kain sutra dapat membiaskan cahaya dari berbagai sudut. Keistimewaan sutra tersebut menjadikan kain ini berharga mahal.

Sutra merupakan serat protein alami yang dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutra yang paling umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan larva ulat sutra murbei (Bombyx mori) yang diternakkan. Sutra juga dihasilkan oleh beberapa jenis serangga lain, tetapi hanya jenis sutra dari ulat sutra yang digunakan untuk pembuatan tekstil.

Ngengat sutra adalah serangga dari kelas Bombycidae. Hewan ini disebut ngengat sutra karena dalam tahap metamorfosis berbentuk ulat menghasilkan kepompong yang menjadi benang sutra yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Manusia diperkirakan mulai membudidayakan ngengat sutra untuk pertama kalinya sejak 5.000 tahun yang lalu di daratan Cina.

Bentuk tubuh ngengat sutra panjang dan agak gemuk dengan diselubungi bulu tebal berwarna putih kecokelatan. Di bagian punggung terdapat dua pasang sayap lebar yang panjangnya bisa mencapai 6 cm. Di bagian kepalanya terdapat sepasang antena berbentuk menyerupai bulu unggas, sepasang mata majemuk berwarna gelap, dan sebuah mulut berbentuk silinder. Walaupun memiliki mulut, namun ngengat sutra tidak memerlukan makan karena ia mengandalkan cadangan makanan yang dikumpulkannya semasa masih berwujud ulat. Dibandingkan dengan ngengat jantan, ngengat betina memiliki abdomen berbentuk lebih gempal dan berwarna kekuningan karena berisi telur.

Bentuk ulat (larva) yang sering disebut ulat sutra lebih dikenal orang daripada bentuk ngengat (imago) dari hewan ini. Hewan ini sering diternakkan untuk diambil sutranya. Ulat sutra hanya memakan daun murbei (Morus alba).

Ngengat mengalami metamorfosis sempurna yang mengalami 4 fase daur hidup, yaitu telur, larva (ulat), kepompong, dan dewasa (imago). Ngengat jantan dan ngengat betina kawin dan menghasilkan telur yang diletakkan di daun murbei. Telur ngengat sutra membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas. Ulatnya membentuk kepompong sutra mentah, yang setelah dipintal bisa menghasilkan benang sutra yang panjangnya 300 – 900 meter. Seratnya berdiameter sekitar 10 mikrometer.

Ulat sutra makan sepanjang siang dan malam sehingga tumbuh dengan cepat. Saat warna kepalanya sudah menjadi semakin gelap, ulat ini akan segera berganti kulit/cangkang. Dalam hidupnya, ulat sutra mengalami empat kali ganti kulit. Pada fase ke-4, warnanya kekuningan dan lebih ketat, tanda hewan ini akan segera membungkus dirinya dengan kepompong.

Kepompong untuk benang sutra diambil sebelum ulat keluar dari kepompong. Sebab, saat hewan ini berusaha keluar dari kepompongnya, kepompong akan digigiti hingga rusak sehingga tidak layak digunakan untuk pembuatan benang sutra yang bagus. Kepompong yang masih utuh direbus untuk memudahkan penguraian seratnya.

Tentu tidak semua kepompong diambil untuk menjadi benang sutra. Sebagian lagi dibiarkan hingga keluar menjadi ngengat. Namun, tidak seperti serangga umumnya, ngengat dewasa yang dipelihara untuk bibit ulat sutra tidak bisa terbang. (das)

Yuk, tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here