Home Perikanan PBB Ungkap Tantangan Keanekaragaman Hayati Dunia

PBB Ungkap Tantangan Keanekaragaman Hayati Dunia

Keanekaragaman Hayati

Agrozine – Pada tahun 2010, UN Convention on Biological Diversity (CBD) telah menetapkan 20 target untuk mencoba, memperlambat, kemudian menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati, yang disepakati di Aichi, Jepang. Satu dekade kemudian, keputusannya telah ditetapkan bahwa hal ini harus diakhiri. Laporan Global Biodiversity Outlook 5 menyimpulkan bahwa enam dari 20 tujuan awal telah dicapai sebagiannya. Terdapat keberhasilan pada berbagai bidang termasuk pengelolaan spesies asing invasif serta perlindungan daratan dan lautan.

Namun, beberapa target tidak tercapai, seperti mencegah hilangnya keanekaragaman hati dalam pertanian, mengendalikan polusi, melindungi terumbu karang, dan beragam ekosistem lainnya. Namun, laporan ini bukanlah tanda kegagalan. Sebaliknya, laporan ini menunjukkan bahwa kita berada pada jalur yang salah, dengan keputusan yang harus dibuat.

Delapan transisi ini dapat membendung hilangnya keanekaragaman hayati, mulai dari mempromosikan sistem pangan berkelanjutan dan membuat kota lebih hijau. Tema ini disampaikan oleh KTT Dampak Pembangunan Berkelanjutan pada Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum’s Sustainable Development Impact Summit).

A range of actions could help reduce biodiversity loss.

Target yang Telah Tercapai

Analisis CBD terhadap enam target keanekaragaman hayati yang telah tercapai sebagian mengungkapkan, beberapa pencapaian yang signifikan. Program restorasi lanskap, termasuk penanaman pohon, telah menjadi sebuah terobosan. Platform Forum 1t.org untuk gerakan penanaman pohon massal berupaya menyatukan keberhasilan target. Namun laporan tersebut juga menunjukkan keberhasilan yang tidak merata dan tidak diterapkan ke dalam perubahan yang lebih luas.

 

  1. Spesies asing yang invasif

CBD menyadari bahwa terdapat kemajuan yang baik dalam mengidentifikasi, memprioritaskan, dan melihat kelayakan pengelolaan spesies invasif, dengan sejumlah program yang berhasil dilaksanakan. Forum 1t.org telah menyoroti beberapa, termasuk ikan robotik untuk menakut-nakuti salah satu spesies paling invasif di dunia, yakni mosquitofish. Namun, tidak ada bukti perlambatan perkenalan baru spesies asing.

 

  1. Kawasan lindung

Pada tahun 2010, telah ditetapkan target untuk melindungi keanekaragaman hayati pada tahun 2020, setidaknya 17% perairan darat dan darat serta 10% wilayah pesisir dan laut. Tim UN Protected Planet kini memperkirakan bahwa lebih dari 27.000.000 km2 lautan dilindungi. Pada observasi pertama, CBD yakin bahwa kawasan lindung kemungkinan akan mencapai target pada tahun 2020 dan mungkin berkelanjutan. Namun, terdapat kekhawatiran apakah tetap ada perlindungan habitat yang paling penting, dan apakah kawasan lindung menguntungkan lingkungan yang lebih luas dan tidak terlindungi.

  1. Akses terhadap sumber daya genetik

Target pada Aichi ditetapkan untuk memastikan sumber daya genetik seperti tumbuhan, hewan, biji dan spora terbagi secara adil, dengan manfaat yang didistribusikan pada negara-negara penghasil dan konsumen. Kini, terdapat sebagian dasar hukum untuk hak ini. Pada Juli 2020, 126 orang pihak CBD telah meratifikasi langkah tersebut dan 87 orang telah menerapkan langkah-langkah yang mendukung prinsipnya.

 

  1. Strategi keanekaragaman hayati nasional

Pada juli tahun ini, 85% pihak dalam target Aichi telah membuat dan mulai menerapkan strategi dan rencana national biodiversity strategy yang efektif, partisipatif dan terkini. Namun, diperlukan partisipasi dari 15% pihak lainnya.

 

  1. Pengetahuan keanekaragaman hayati

Inilah dimana teknologi berperan membantu planet Bumi. Pada tahun 2010, telah ditetapkan target untuk membagikan informasi terkait keanekaragaman hayati, ilmu pengetahuan dan teknologi dibaliknya, dan dampak dari hilangnya keanekaragaman hayati. Sejak itu, CBD menyadari bahwa agregasi data besar, kemajuan dalam pemodelan, dan artificial intelligence membuka peluang baru untuk meningkatkan pemahaman tentang biosfer. Namun masalah utamanya tetap: siapa yang memiliki akses data tersebut? Ketidakseimbangan informasi tetap ada.

  1. Sumber daya keuangan

Keanekaragaman hayati memerlukan investasi. Pendanaan konservasi meningkat dua kali lipat sejak 2010, namun pendanaan ini masih belum cukup. Jumlah yang dibutuhkan untuk sumber daya konservasi alam yang memadai diperkirakan sekitar USD 300-400 miliar setiap tahun, namun saat ini hanya tersedia sekitar USD 52 miliar. CBD mengatakan, terdapat masalah lain: pendanaan ini kerap digunakan untuk aktivitas yang merusak keanekaragaman hayati.

 

Apa yang dapat kita lakukan sekarang?

Laporan tersebut dengan jelas menjelaskan bahwa pendekatan bisnis tidak cukup, negara dan organisasi di seluruh dunia harus mengambil langkah. Forum merencanakan program Great Reset dan membagikan aspirasinya. CBD menguraikan delapan transisi yang dapat membantu keanekaragaman hayati berkelanjutan. Pada daftar teratas yakni transisi lahan dan hutan: melestarikan ekosistem dan membalikkan degradasi. Gerakan ini mendapatkan dukungan secara global, dengan kesuksesan yang luar biasa.

CBD juga menyarankan negara-negara untuk beralih ke pertanian yang lebih berkelanjutan dengan desain ulang untuk memasukkan lebih banyak pendekatan “agroekologis” guna meningkatkan produktivitas. Jika tidak ada perubahan, sektor pertanian pangan dapat menghasilkan setengah dari seluruh emisi gas rumah kaca pada tahun 2050. Penggunaan sistem pangan, termasuk perikanan dan kelautan juga harus berkelanjutan, tegas International Monetary Fund, sehingga memungkinkan kita hidup lebih sehat.

The report recommends eight ‘transitions’ that can restore ecosystems.

Menurut PBB, tingkat obesitas sangat tinggi, namun 820 juta orang juga kelaparan. Pihak CBD mengatakan, minim memakan daging dan menghasilkan minim limbah dapat memberikan pengaruh. Inti dari kebijakan ini ialah transisi tindakan iklim yang berkelanjutan, melalui langkah-langkah seperti percepatan transisi ke energi terbarukan dan penghentian menggunakan bahan bakar fosil.

Selaras dengan transisi One Health, yang menghubungkan ekosistem sehat dengan orang yang sehat. “Perubahan transformatif memungkinkan bila harus dilakukan. Keputusan dan tindakan yang kita ambil sekarang akan memiliki konsekuensi yang baik ataupun buruk, pada semua spesies, termasuk kita,” pungkas Executive Secretary CBD Elizabeth Maruma Mrema. (rin)

Dilansir dari World Economic Forum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here