Home Pertanian Pekanbaru Green Farm: Bertanam Hidroponik di Atas Rooftop

Pekanbaru Green Farm: Bertanam Hidroponik di Atas Rooftop

Pekanbaru Green Farm

Agrozine.id – Tak banyak pemandangan hijau di Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Terletak di dataran rendah dengan iklim panas, pasokan sayur harus diambil dari daerah Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang lebih sejuk. Bila selama sini selada dianggap sebagai tanaman dataran tinggi, hal itu dipecahkan oleh Liza Ika Savitri, salah satu Co-Founder Pekanbaru Green Farm. Setelah mencoba berbagai macam cara, diakuinya posisi pun menentukan prestasi. Bisnis dua keluarga ini berhasil memasok permintaan sayuran di kota bertuah untuk skala rumahan, café, hingga hotel. Simak ulasan wawancara redaksi Agrozine bersama Bu Ika di kebun Pekanbaru Green Farm yang terletak di rooftop ruko Jalan Jendral No. 52 C Pekanbaru.

Awal Terbentuk Pekanbaru Green Farm

Pekanbaru Green Farm merupakan joint venture antara dua keluarga. Yakni pasangan Pak Johan dengan Bu LiHui serta Bu Ika bersama suaminya, Pak Dody. “Yang pertama kali mau mencoba hidroponik bapak-bapak. Cuma bapak-bapak ini bedain pakcoy sama caisim juga tidak mengerti. Dari empat orang ini, saya yang paling hobi bertanam karena dari kecil orang tua saya suka menanam sayuran. Apa yang bisa ditanam, maka akan ditanam,” ungkap Bu Ika.

Sejak tahun 2013, Bu Ika dan suami telah mencoba sistem hidroponik di rumah sendiri. Kala itu, ia masih mencoba-coba, alat dan bahan banyak dibeli dari pulau Jawa.

Pada tahun 2014, Pak Johan dan Pak Dody menyadari ternyata belum ada usaha hidroponik sama sekali lantas terpikir untuk membuka farm. Selain menanam di rooftop ruko miliknya, Bu Ika juga menyewa rooftop milik tetangga disebelahnya yang kebetulan juga merupakan teman di bangku SMA.

Jenis Tanaman Agroponik Pekanbaru Green Farm
“Dari tahun 2014 kita telah coba. Kita memang bukan orang pertanian dan tidak ada dasarnya sama sekali. Adik saya adalah seorang dokter gigi. Dia kan dari Jogja, dialah yang pertama kali memulai hidroponik. Dia bilang kalau memang ingin serius, baiknya ikut pelatihan,” tandasnya.968

Setelah mendengarkan saran adiknya, Bu Ika pergi bersama suami ke Muntilan, Yogyakarta tepatnya Rumah Hidroponik Bertha Suranto dan mengikuti pelatihan disana.

Setelah berbincang dengan Bu Bertha, Bu Ika juga menyarankannya untuk membuat pelatihan di Pekanbaru. Karena saat itu, sistem hidroponik belum banyak dikenal oleh masyarakat Pekanbaru. “Akhirnya kita ajak Bu Bertha untuk membuat pelatihan disini dan beliau datang kesini pada awal tahun 2015. Saat itu, hanya 22 orang yang ikut,” ujar ibu dua anak ini.

Misi Utama Pekanbaru Green Farm

Bu Ika menyadari ternyata sudah ada yang memulai hidroponik di Pekanbaru, namun masih membeli barang dari pulau Jawa yang terbilang mahal. “Misi utama kita adalah membuka toko peralatan hidroponik.

Nah, kalau kita buka toko, kita harus bisa ngajarin orang, dong. Kita harus mengerti benih akan jadi seperti apa, apalagi Pekanbaru memiliki udara panas. Lalu, sistem apa yang paling cocok di Pekanbaru,” jelas Bu Ika.

Rooftop Pekanbaru Green Farm menjadi “laboraturium” Bu Ika dan tim memulai usaha ini. Pada tahun pertama, yakni pada tahun 2014 hingga 2015, Bu Ika dan suami merancang instalasi hidroponik hingga berhasil membuat yang tepat.

“Kita memang lulusan teknik sipil. Jadi kita bikin desain seperti ini. Pada satu tahun pertama, kita coba-coba bikin sistem,” ujar lulusan Teknik Sipil Universitas Trisakti ini.

Agroponik Pekanbaru Green Farm
“Saya dulu punya supir yang bisa jadi tukang. ‘Ini tolong naikkan 5 cm’. Ternyata tidak bagus, bulan depan turunin lagi. Kemarin kita bikin dua jalur, ternyata yang didalam kurang paparan matahari. Kita copot lagi semuanya. Jadi kerja kita pada satu tahun pertama yaitu mencari apa yang terbaik, semua sistem hidroponik kita coba. Supaya kita tahu kelebihan dan kelemahannya kalau terpasang di Pekanbaru,” tambah wanita kelahiran Jakarta, 12 Juli 1973 ini.

Pelatihan Pekanbaru Green Farm

Setiap Sabtu, Pekanbaru Green Farm membuka pelatihan gratis yang tidak dipungut biaya dan telah berjalan selama dua tahun. Adapun yang diajarkan yakni cara penyemaian dan pembuatan nutrisi. Hasil penyemaian juga dapat dibawa pulang oleh para peserta pelatihan.

“Itulah cara kita memberi tahu ke orang-orang bahwa hidroponik itu ada dan caranya seperti ini. Inilah misi utama kami. Pada dua tahun pertama, mulai dari tahun 2015, kami membuat pelatihan di toko setiap Sabtu secara gratis,” ujar Bu Ika.

Pada tahun 2017, Bu Ika menyadari bahwa peserta akan mengikuti pelatihan saat memiliki waktu luang namun tidak memberikan feedback. Sejak itu, Bu Ika mulai mengenakan charge, dengan pelatihan berbayar. Hingga akhirnya, Pekanbaru Green Farm membuka green house yang terletak di Jalan Tulip No. 23 Pekanbaru.

“Di green house, kita mengadakan pelatihan yang lebih professional. Mulai dari jam 10 pagi sampai jam 3 sore, peserta diajarkan cara menyemai, membuat nutrisi, hingga panen, packaging, dan menempelkan label. Jadi dalam sehari, kita menjadi petani hidroponik,” jelasnya.

Inkubasi Pekanbaru Green Farm
Dengan biaya Rp 100ribu, peserta juga mendapatkan makan siang, snack, minum, dan hasil panen yang dapat dibawa pulang. Setelah kunjungan, para peserta juga dapat berkonsultasi dengan Bu Ika melalui group WhatsApp yang melayani 24 jam.

Selain pelatihan untuk orang dewasa, Pekanbaru Green Farm juga membuka kunjungan untuk murid Taman kanak-kanak. Setiap anak dikenakan biaya Rp 20.000 dan akan diajak berkeliling green house untuk dikenalkan berbagai jenis sayuran.

“Sebelum pulang, mereka disuruh kasih makan ikan dan mereka senang sekali. Semenjak pandemi Covid-19, saya sudah tidak visit ke green house,” papar Bu Ika. Pelatihan yang diadakan Pekanbaru Green Farm juga dihentikan sementara mengingat situasi yang belum kondusif di tengah pandemi.

Komoditas yang Ditanam

“Semua tanaman kita mulai. Apalagi karena kita mau jualan, kita coba semua tanaman yang bisa ditanam dan ingin dibeli orang. Jadi, semuanya kita semai. Obsesi saya dari dulu itu selada. Karena selada di Pekanbaru tidak cocok, selada itu tanaman high land,” ungkap Bu Ika.

Selama ini, selada yang ada di Pekanbaru dipasok dari Medan. Ia telah mencoba berbagai macam merk dan benih selada hingga menemukan yang tepat.

“Kita cuma punya 6000 lubang, dan panen raya hanya hari Selasa. Kecuali support ke café, kita panen tiap hari. Karena volume kita kecil, kita cari tanaman yang tinggi harganya. Misi kita, apa yang susah ditanam, kita tanam. Apa yang tidak ada di Pekanbaru, kita coba,” paparnya.

Selada Air di Pekanbaru Green Farm
Di Pekanbaru, selada harus ditanam dengan sistem rakit apung saat remaja, karena tidak dapat bertahan dengan cuaca panas dalam green house. Diakui Bu Ika, sistem rakit apung memang tergolong mahal karena membutuhkan banyak air.

“Kita sudah mencoba berbagai cara. Posisi pun menentukan prestasi. Yang disini, berada di lantai 4. Kebayang kan panasnya seperti apa. Harus segera dimasukkan dalam freezer,” jelas Bu Ika.

Secara keseluruhan, green house Pekanbaru Green House ditanami selada merah, selada hijau, kailan, pakcoy, siomak, dan kale. Tanaman yang sering mati mendadak seperti rosemary dan fumak ditanam baik di farm dan green house.

Fumak sendiri menurut Bu Ika, merupakan jenis selada yang menjadi makanan kura-kura mahal. Ia menambahkan, biji fumak sulit dicari di toko pertanian maupun marketplace, dan belum ditanam di Pekanbaru.

Bu Ika mendapat biji fumak dari pemelihara kura-kura torto yang enggan membudidayakannya. Tanaman fumak dan siomak yang ditanam PGF, dijual daunnya seharga Rp 10.000 per 100 gram.
Bu Ika selaku petani hidroponik juga menanam pegagan air, yang biasanya dikonsumsi anak-anak untuk menambah kecerdasan.

Alasan lainnya menanam pegagan air yakni daun yang dapat dijadikan sebagai edible flower. “Ada dua jenis, yakni pegagan air dan pegagan darat. Kalau pegagan air daunnya seperti ada lilin, jadi kalau ditaruh di makanan cantik dan mengkilap,” ujarnya.

Menariknya lagi, PGF juga membudidayakan lobster air tawar dan ikan gurame dalam kolam terpal yang terletak di area green house. Hal ini dilakukan agar sayur yang tidak terjual tidak terbuang begitu saja, dan dapat dialihkan menjadi pakan ikan dan lobster.

Hasil Kebun Pekanbaru Green Farm

Rencana Pekanbaru Green Farm

Pekanbaru Green Farm dirintis oleh dua pasangan suami istri. Dalam formasi ini, Bu Ika berperan sebagai petani yang melakukan kegiatan penanaman dan melayani konsultasi. Sementara suaminya Pak Dody berperan sebagai instalator yang membangun instalasi hidroponik dan green house.

Sementara itu, Pak Johan mengelola pemasaran untuk skala ritel, sedangkan Ibu LiHui mengelola keuangan. “Sekarang kita sudah jalan, belum ada rencana pengembangan farm. Karena diluar sana banyak yang bisa menanam tapi tidak bisa jualan,” ungkap Bu Ika.

Pekanbaru Green Farm juga mulai menjual anakan dalam pot. Satu anakan dibanderol dengan harga Rp 15.000 untuk setiap jenis tanaman. PGF memiliki total lubang tanam sebanyak 6000 lubang, dengan rincian 2000 lubang tanam di green house, 3000 lubang tanam di farm rooftop, dan 1000 lubang tanam di ruko Bu LiHui.

Pekanbaru Green Farm
Proses penyemaian dilakukan oleh Bu Ika. Ia juga memiliki jadwal perawatan sistem hidroponik. Pada hari Senin, semua nutrisi tanaman diperiksa, sementara hari Selasa adalah panen raya. “Misalnya nutrisi sudah turun, baru ditambahkan kembali karena itu saya membuat schedule. Tidak banyak kegiatan yang harus dilakukan dengan sistem hidroponik, berbeda dengan penanaman di tanah,” pungkasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here