Home Peternakan Penanganan Penyakit Koksidiosis Pada Ayam

Penanganan Penyakit Koksidiosis Pada Ayam

britannica.com

Agrozine – Bagi para peternak ayam, cuaca yang buruk memberikan ancaman pada kesehatan ayam peliharaannya. Mikroorganisme penyebab infeksi jumlahnya menjadi tidak terkendali sehingga mengakibatkan ayam-ayam dalam kandang menjadi sakit. Selain itu, jenis kasus penyakit pada ayam meningkat sejak 5 tahun lalu sehingga ancaman kesehatan ayam makin meningkat. Salah satunya penyakit koksidiosis yang disebabkan oleh Eimeria sp.

Ayam yang terserang Koksidiosis awalnya akan menampakkan gejala seperti mengantuk, sayap terkulai ke bawah, bulu kasar (tidak mengkilat) dan nafsu makan rendah. Penyakit ini menyebabkan kerusakan di saluran percernaan, terutama di usus halus dan sekum. Hal ini akhirnya berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal sehingga menimbulkan kerugian berupa pertumbuhan berat badan rendah, penurunan produksi telur, serta kematian hingga mencapai 80-90%. Selain itu, Koksidiosis juga dapat meurunkan daya imunitas yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lain.

Protozoa Eimeria spEimeria sp. yang menyerang peternakan unggas diantaranya adalah E. acervulina, E. necatrix, E. tenella, E. maxima, dan E. brunetti. Infeksi koksidiosis berawal dari masuknya oosista (sel telur) Eimeria yang telah mengalami sporulasi (menghasilkan spora) ke dalam tubuh ayam.

Setiap jenis protozoa Eimeria memiliki lokasi spesifik pada saluran pencernaan unggas. Eimeria acervulina menginfeksi di akhir duodenum hingga awal jejunum. Eimeria necatrix menginfeksi di pertengahan jejunum. Eimeria tenella menginfeksi di sekum. Eimeria maxima menginfeksi di pertengahan jejunum, dan Eimeria brunetti di akhir jejunum hingga kolon.

Siklus hidup Eimeria berlangsung 6-7 hari dan memiliki siklus seksual dan aseksual. Siklus hidup seksual koksidia berlangsung di dalam jaringan epitel mukosa usus. Ketika koksidia melewati siklus seksual dapat menyebabkan perdarahan pada usus sehingga terjadi feses yang disertai darah.

Jika ada kejadian berak berdarah pada suatu peternakan, perlu ditelusuri kembali kegiatan yang dilakukan satu minggu sebelumnya. Oosista ini dapat ditularkan melalui anak kandang, peralatan kandang, ransum, atau air minum yang tercemar.

Salah satu obat yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit koksidiosis adalah Amprolium. Amprolium merupakan antikoksidia yang paling aman dan tidak mengganggu produksi. Amprolium paling manjur mencegah koksidiosis yang disebabkan oleh E. tenella dan E. acervulina. Penggunaan Amprolium sangat direkomendasikan untuk digunakan pada kandang yang belum pernah terjadi kejadian koksidiosis dan dapat digunakan untuk menunjang proteksivitas dari vaksinasi koksidiosis yang dapat diberikan 10 hari pasca vaksinasi. Amprolium bekerja secara ekstraseluler dalam usus untuk menghambat pertumbuhan koksidia pada stadium aseksual (tidak bekerja di dalam sel epitel usus). Amprolium diberikan  untuk pencegahan dengan dosis 1 gram per 2 liter air minum selama 5 hari pada minggu kedua pemeliharaan.

Pengobatan koksidiosis dapat menggunakan produk yang mengandung Diclazuril dan Toltrazuril. Diclazuril dan Toltrazuril bekerja efektif pada stadium aseksual dan seksual dari koksidia. Mampu bekerja di dalam lapisan epitel usus (dapat bekerja secara intraseluler) sehingga efektif untuk memutus siklus hidup koksidia secara cepat dan menurunkan jumlah oosista (sel telur) yang dihasilkan oleh koksidia.

Untuk mengobati ayam yang mengalami kejadian koksidiosis, dapat menggunakan Diclacoxy (Mengandung Diclazuril 10 mg) selama 2-3 hari dengan dosis 1 ml per 2 liter air atau menggunakan Intracox Oral (Mengandung Toltrazuril 25 mg) selama 2 hari dengan dosis 1 ml per liter air minum.

Alternatif pengobatan koksidiosis adalah dengan pemberian obat antikoksidia. Pemberian antikoksidia dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan Eimeria dalam tubuh ayam sehingga jumlahnya bisa ditekan. Obat antikoksidia biasanya diberikan dengan metode 3-2-3 yaitu 3 hari obat, 2 hari air minum tanpa obat dan 3 hari obat. Produk yang bisa digunakan yaitu Coxy, Sulfamix (sulfonamide tunggal), Antikoksi, Duoko, atau Trimezyn (sulfonamide kombinasi). Pemakaian diberikan dengan dosis 0,2 g/kg berat badan atau 1 g/liter air minum selama 5-7 hari berturut-turut.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan untuk mencegah dan menangani penyakit koksidiosis pada ayam, yaitu:

  • Berikan multivitamin seperti Fortevit dan Vita Stress untuk terapi pendukung. Vitamin A berfungsi mempercepat kesembuhan epitel mukosa usus yang rusak. Sedangkan vitamin K akan mengurangi pendarahan yang terjadi.
  • Buang feses bercampur darah dari ayam yang sakit untuk menghindari ayam lain mematuknya.
  • Lakukan manajemen penanganan litter dengan baik agar litter selalu bersih.
  • Hindari pemeliharaan ayam dengan kepadatan tinggi, maksimal 8 ekor/m² untuk kandang postal.
  • Saat persiapan kandang, terutama untuk kandang postal, lakukan pengapuran lantai untuk mengurangi jumlah oosista yang ada. Kapur merupakan bahan yang bersifat panas, ketika ditaburkan pada lantai yang basah atau lembap, akan dihasilkan panas yang tinggi. Sementara oosista tidak tahan terhadap suhu > 55 oC.
  • Pemeliharaan ayam dengan sistem kandang panggung/baterai untuk mengurangi kasus koksidiosis.

Demikianlah penanganan penyakit koksidiosis pada ayam. Semoga bermanfaat. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here