Home Kampus Penentuan Pola Tanam Optimum pada Rehabilitasi Lahan

Penentuan Pola Tanam Optimum pada Rehabilitasi Lahan

pola tanam optimum

Agrozine.id – Sebelum melaksanakan penanaman, pemegang  Izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH)  wajib  menyusun  rancangan  kegiatan  penanaman. Salah satu rancangan kegiatan penanaman yaitu penentuan pola tanam. Penentuan alternatif pola tanam optimum pada lahan rehabilitasi dapat kita ketahui melalui penelitian yang dilakukan oleh Dewi Yala Samudra, alumni Fakultas Kehutanan UGM yang berjudul “Pola Tanam Optimum pada Rehabilitasi Lahan Kompensasi Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan oleh PT. Semen Indonesia di Blok Besokor dan Sumurpitu, Kabupaten Kendal.”

Izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) adalah izin yang diberikan untuk menggunakan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah fungsi dan peruntukan kawasan hutan. Seperti halnya yang dilakukan oleh PT. Semen Indonesia yang telah menggunakan lahan milik Perhutani untuk dibangun sebuah pabrik di Kabupaten Rembang. Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, perusahaan pemegang IPPKH tersebut memiliki kewajiban untuk memberikan kompensasi lahan.

Adapun kriteria calon kompensasi penggunaan kawasan hutan yaitu, statusnya jelas dan tidak dalam sengketa, letaknya berbatasan langsung dengan kawasan hutan, terletak di dalam Sub DAS yang sama atau pada wilayah DAS lain pada provinsi yang sama, serta dapat dihutankan kembali dengan cara konvensional.

Oleh karenanya, untuk memenuhi kewajiban izin pinjam pakai kawasan hutan oleh PT. Semen Indonesia melakukan rehabilitasi lahan yaitu dengan melakukan reboisasi atau penanaman lahan pengganti yang berada di Blok Besokor dan Blok Sumurpitu di Kabupaten Kendal. Sebelum adanya izin pinjam pakai kawasan hutan, lahan pengganti tersebut merupakan hak guna usaha milik PT.  Sumurpitu  Wringinsari.

Pada awalnya sebagian besar kawasan hutan merupakan lahan eks perkebunan PT.  Sumurpitu  Wringinsari yang didominasi tanaman karet sedangkan sebagian kecil adalah tanaman randu dan sengon. Sejalan dengan penurunan aktivitas produksi perusahaan, sebagian kawasan menjadi lahan kosong.

Lahan kosong itulah yang nantinya akan direboisasi atau dihutankan kembali. Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu harus disusun rancangan kegiatan penanaman yaitu salah satunya pola tanam.

“Untuk dapat menentukan alternatif pola tanam harus diketahui terlebih dahulu bagaimana karakteristik dan kemampuan lahannya, kemudian jenis tanaman yang akan ditanam apa saja,” ungkap Yala, panggilan akrab perempuan asal Gunungkidul, Yogyakarta ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan karakteristik lahan yang digunakan untuk mengukur kemampuan lahan yaitu kelerengan, tekstur tanah, bahaya erosi, permeabilitas, dan kepekaan erosi. Dari hasil analisis kemampua lahan didapatkan kelas kemampuan lahan dilokasi penelitian yaitu VI, VII, dan V. Analisis  kemampuan lahan ini digunakan sebagai  acuan dalam penyelenggaraan reboisasi.

Selanjutnya, setelah diketahui karakteristik dan kemampuan lahan, untuk mengidentifikasikan alternatif pola tanam sebelumnya perlu diketahui jenis-jenis tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam. Selain memiliki fungsi ekologis, pemilihan alternatif jenis tanaman juga dapat berfungsi untuk sosial masyarakat dan ekonomi. Menurut Yala, jenis-jenis tanaman yang disarankan untuk ditanam yaitu sengon, kopi, petai, durian, dan kaliandra.

“Dari jenis-jenis tanaman tersebut selanjutnya dapat disusun alternatif pola tanam. Pada penelitian ini digunakan dua pola tanam yaitu untuk tujuan non agrowisata dan agrowisata,” katanya.

Altematif pola tanam pada rehabilitasi lahan di Blok Besokor dan Sumurpitu untuk tujuan produksi dan rehabilitasi daya dukung lingkungan disusun 3 alternatif pola tanam, sedangkan untuk tujuan agrowisata disusun 2 pola tanam alternatif.

Kemudian, untuk dapat menentukan pola tanam yang optimal untuk rehabilitasi lahan, maka dari alternatif pola tanam yang sebelumnya disusun harus dievaluasi terlebih dahulu. Evaluasi dilakukan dengan menyusun kritesia dan indikator yang mampu mempresentasikan dan mendukung tercapainya tujuan.

Pada penelitian ini menggunakan tiga kriteria dalam strategi penentuan pola tanam rehabilitasi kawasan  untuk  lahan kompensasi IPPKH PT. Semen Indonesia antara lain yaitu ekologi, sosial, dan ekonomi. Dari setiap kriteria tersebut memiliki indikator dan penelian masing-masing.

Dari hasil analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) yang dilakukan, terpilih pola tanam 2 non agrowisata sebagai pola tanam optimum pada pola tanam untuk tujuan produksi dan rehabilitasi daya dukung lingkungan dengan skor total 2,180. Pada pola tanam ini, sengon sebagai tanaman pokok dan penanaman kaliandra di dalam lungkang kopi. Pola tanam optimum pada pola tanam tujuan agrowisata yaitu pola tanam 2 agrowisata dengan skor total 1,742.  Pada pola tanam ini, pohon   utama menggunakan jenis durian. Pada tengah lungkang pohon durian ditanami kaliandra dan kopi.

“Hasil penelitian ini menurut saya sudah sesuai seperti yang diharapkan, saya merasa puas. Mungkin memang ada sedikit kendala saat pengambilan data maupun saat pengolahan data. Untuk pengujian tanah itu sendiri membutuhkan waktu yang panjang sekitar 5 bulan.” Ujar Yala.

“Harapannya hasil penelitian saya ini dapat bermanfaat dalam penentuan pola tanam pada rehabilitasi lahan di lokasi lain,” pungkasnya. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here