Home Kampus Pengaruh Ekstraksi dan Pelarut Terhadap Rendemen Minyak Biji Ketapang

Pengaruh Ekstraksi dan Pelarut Terhadap Rendemen Minyak Biji Ketapang

Ekstraksi minyak biji ketapang

Agrozine.id – Tahukah kamu biji ketapang ternyata dapat dimanfaatkan untuk berbagai olahan pangan seperti tepung, kecap, selai. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biji ketapang memiliki kandungan minyak 56,66% sehingga berpeluang sebagai sumber minyak nabati. Untuk mendapatkan minyak biji ketapang, maka harus dilakukan proses ekstraksi. Ekstraksi minyak biji ketapang dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan pelarut karena dinilai paling ekonomis dan menghasilkan rendemen yang banyak.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ekstraksi biji ketapang, diantaranya yaitu lama waktu ekstraksi dan jenis pelarut. Hal itulah yang melatarbelakangi Tunjung Desia Rusparindra, lulusan Departemen Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan UGM melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Lama Waktu Ekstraksi Dan Perbandingan Campuran Pelarut Heksana Dan Etanol Terhadap Rendemen Dan Sifat Fisiko-Kimia Minyak Biji Ketapang.”

Baca Juga : Cara Budidaya Nilam, Tanaman Penghasil Minyak Bernilai Ekspor

“Saat ini informasi mengenai ekstraksi minyak biji ketapang dengan menggunakan perbandingan campuran pelarut dan perbedaan waktu ekstraksi di Indonesia masih sangat terbatas. Atas dasar itulah saya melakukan penelitian ini,” ungkap perempuan yang kerap disapa Tunjung ini.

Menurut Tunjung, dengan adanya penelitian ini akan diketahui waktu yang paling optimal dan campuran pelarut yang tepat untuk ekstraksi minyak biji ketapang.

Faktor lama ekstraksi pada penelitian yang dilakukan Tunjung ini terbagi menjadi 3 aras yaitu 2,4, dan 6 jam. Kemudian, untuk pelarutnya menggunakan pelarut organik (heksana dan etanol) dengan perbandingan yang terdiri dari 3 aras juga yakni 1:1, 2:1, dan 3:1.

Kemudian, biji ketapang diekstraksi menggunakan pelarut  organik dengan sokhlet ekstraktor. Minyak biji ketapang dihitung rendemennya dan diuji sifat fisiko-kimianya.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak biji  ketapang yaitu antara 52,90  – 60,06% dengan rendemen terbesar diperoleh dari hasil ekstraksi dengan lama waktu 6 jam dan perbandingan campuran pelarut heksana:etanol (1:1).

Lalu, untuk sifat fisiko-kimia dari ekstraksi minyak biji ketapang yang dihasilkan memiliki nilai bilangan asam berkisar antara 3,23 – 4,9; berat jenis 0,83 – 0,89; asam lemak bebas (%FFA) 3,48 – 4,61%; dan bilangan penyabunan 195,63  – 224,37. Komponen asam lemak utama yang terdapat pada minyak ketapang adalah asam palmitat, asam linoleat, dan asam oleat.

Kendala yang ditemukan Tunjung saat melakukan penelitiannya yakni saat pengujian komponen asam lemak menggunakan GC – MS (Gas Chromatography – Mass Spectrometry). Dari hasil analisnya terdapat banyak komponen yang kosong atau tidak terdeksi. Hal ini diduga karena pada saat analisis uji terdapat zat pengotor dan penyimpanan sampel uji yang kurang baik. Selain itu juga dikarenakan penggunaan suhu yang tinggi dan lamanya waktu ekstraksi.

Tunjung mengatakan, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kombinasi faktor lama waktu ekstraksi dan perbandingan campuran pelarut yang optimal untuk menghasilkan kualitas minyak biji ketapang yang paling baik.

“Diharapkan minyak ketapang dapat digunakan sebagai minyak pangan sehingga dapat mengurangi limbah biji ketapang agar tidak terbuang begitu saja dan nantinya dapat bernilai ekonomis bagi masyarakat,” tambahnya tentang ekstraksi minyak biji ketapang. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here