Home Kampus Pengaruh Salicylic Acid dan 1-MCP Terhadap Daya Simpan Bunga Mawar

Pengaruh Salicylic Acid dan 1-MCP Terhadap Daya Simpan Bunga Mawar

Agrozine – Florikultur dan perdagangan tanaman hias dapat memberikan keuntungan lebih baik dibandingkan dengan tanaman buah dan sayuran. Pada berbagai negara besar seperti Kenya, Zimbabwe, Uganda, dan Tanzania, florikultur telah menjadi pemutar devisa keuangan. Penggunaan bunga mawar potong dalam rangkaian bunga sangat umum digunakan sebagai hadiah wisuda, dekorasi interior, acara pernikahan, dan kegiatan lainnya. Karena permintaannya tinggi, bunga mawar potong dianggap spesial sehingga lebih diperhatikan produksinya di dalam bisnis florikultur.

Perkembangan varian bunga mawar dapat dilihat dari warna bunga yang semakin beragam dari varietasnya, seperti ‘Peach Avalanche’ yang berwarna oranye muda dan ‘Sexy Red’ yang berwarna merah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi mawar di Indonesia kian mengalami peningkatan mulai dari tahun 2012-2017. Namun, upaya produksi bunga mawar potong memiliki beberapa kendala khususnya dalam ketahanan simpan bunga yang rendah. Mutu bunga mawar potong pada beberapa varietas memiliki ketahanan simpan yang relatif pendek, yaitu sekitar 3-5 hari dalam suhu ruang.

Keberadaan etilen merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pelayuan (senescence) dan perubahan warna pada bunga. Respons tanaman terhadap selama pertumbuhan akan diatur ketat oleh sinyal internal bila mendapat rangsangan berupa stress biotik maupun abiotic seperti luka, pemanasan, ataupun penurunan suhu. Pada bunga mawar, etilen akan mempercepat proses penuaan daun akibat terjadinya degradasi klorofil. Sedangkan pada bunga, keberadaan etilen dapat mempercepat proses pemekaran kuncup dan proses pelayuan bunga.

Sementara pada tanaman hias lain seperti anggrek, etilen dapat menyebabkan warna bunga menjadi pucat, dan pada anyelir menyebabkan kuncup bunga tidak mekar. Untuk itu, diperlukan suatu upaya penanganan pasca panen untuk menjaga ketahanan segar bunga dengan menghambat keberadaan etilen. Beberapa upaya perlu dilakukan guna menghambat kinerja etilen, baik dari proses biosintesis etilen maupun aksinya terhadap pengaruh etilen dalam menurunkan kualitas bunga mawar potong.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menekan produksi etilen adalah penghambatan biosintesis etilen dengan menggunakan Salicylic Acid (SA) dan menghambat aksi etilen menggunakan senyawa kimia 1-Methylcyclopropene (1-MCP). Kedua bahan tersebut memiliki pengaruh yang bertolak belakang dengan kinerja etilen dalam proses penuaan atau senescence. Kerja 1-MCP dapat menghambat proses aksi etilen pada tanaman karena bersifat kompetitor bagi etilen saat menempel pada reseptor.

Menurut sebuah penelitian, senyawa volatil 1-MCP sebagai etilen inhibitor dapat menghambat aktivitas etilen pada bunga mawar potong putih cv. ‘Avalanche’ dan mampu mempertahankan kesegaran bunga, sehingga dapat direkomendasikan penggunaannya pada kultivar bunga mawar potong lainnya. Sedangkan, penghambatan biosintesis etilen menggunakan Salicylic Acid dapat memicu mekanisme pertahanan tanaman terhadap patogen dan bertindak sebagai molekul yang menekan penuaan.

Berdasarkan hasil penelitian yang membahas tentang efektivitas pemberian SA pada bunga mawar potong sebelum dan sesudah panen, SA sebagai senyawa alami, berasal dari tumbuhan dan bernilai ekonomis memiliki potensi untuk meningkatkan umur vas bunga mawar potong. Dampak aplikasi terlihat dari meningkatnya stabilitas membran dan penurunan lipid peroksida (H2O2). Hal inilah yang menjadi latar belakang penulisan skripsi Masning Maunah, lulusan Agroteknologi Universitas Padjadjaran 2015 yang berjudul “Penghambatan Biosintesis dan Aksi Etilen Menggunakan Salicylic Acid dan 1-Methylcyclopropene Pada Mawar Potong ‘Peach Avalanche’ dan ‘Sexy Red’”.

Penelitian ini dilakukannya untuk melihat efektivitas 1-MCP dan SA pada penghambatan biosintesis dan aksi etilen dalam meningkatkan ketahanan simpan bunga mawar (Rosa hybrida L.) varietas Peach Avalanche dan Sexy Red sehingga diketahui hasil dan efektivitas perlakuan terhadap lama kesegaran atau masa simpan bunga setelah panen. Bunga mawar potong yang digunakan memiliki kemekaran 10 persen, dengan kondisi petal terluar sedikit membuka 1-2 helai dan petal bagian dalam masih tertutup rapat. Setelah dipanen, bunga langsung disimpan dalam ember yang berisi air bersih guna menjaga kesegaran bunga.

Masning melakukan penelitiannya di Laboratorium Analisis Produksi Tanaman dan Pasca Panen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dan Laboratorium Pasca Panen dan Teknologi Proses Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor pada April 2019. Selain bunga mawar potong varietas Sexy Red dan Peach Avalanche, bahan yang digunakannya adalah larutan asam sitrat, larutan ethanol, 1-MCP dengan konsentrasi 0,5 ppm dan 1,0 ppm, larutan SA dengan konsentrasi 1,0 ppm dan 1,5 ppm.

Dari hasil penelitiannya, ditemukan bahwa aplikasi 1-MCP terhadap aksi etilen untuk menghambat aktivitas etilen dinilai efektif guna meningkatkan lama kesegaran bunga mawar varietas Peach Avalanche dan Sexy Red yang dinilai dari derajat kemekaran maksimal (120o). Namun, efektivitas pemberian SA terhadap biosintesis etilen tidak efektif dalam menghambat etilen. Perlakuan pemberian 1-MCP konsentrasi 1,0 ppm memberikan hasil terbaik dalam memperpanjang lama kesegaran lebih lama 4,67 hari pada varietas Sexy Red. Pada bunga mawar varietas Peach Avalanche, hasil terbaik ditunjukkan oleh perlakuan 1-MCP konsentrasi 0,5 ppm dengan lama kesegaran 2,33 hari lebih lama.

“Larutan 1-MCP telah banyak terbukti dalam berbagai jurnal bisa mempertahankan bunga potong dalam waktu yang cukup lama. Setelah ditelusuri, banyak literatur yang ditulis oleh Pak Syariful Mubarok, dimana beliau merupakan dosen pembimbing saya dan topik ini merupakan salah satu fokus bidangnya,” ujar Masning. Petani yang ingin menjual bunga mawar potong memerlukan bahan yang mudah ditemukan guna menjaga daya tahan bunga.

Masning menambahkan, produk untuk mempertahankan daya tahan bunga juga masih banyak yang berasal dari impor. “Setelah tanya teman-teman florist mengenai keresahannya, bunga fresh sangat mudah layu. Sedangkan mengkondisikan bunga dengan cara memotong ujung batang dan mengganti air memerlukan effort lebih,” ungkap Masning. Ia terpikir untuk membuat larutan yang dapat digunakan guna menjaga daya tahan bunga agar lebih efisien.

Keseluruhan total bunga yang ditelitinya berjumlah 168 tangkai mawar potong, yang terdiri dari 84 tangkai Peach Avalanche dan 84 tangkai Sexy Red. Tantangan yang dihadapinya ialah cara mendapatkan bunga mawar potong dengan kondisi yang sama, dipanen pada hari yang sama, dan berasal dari petani yang sama. “Bunga mawar potong sangat fragile. Semisal pasca panen dalam prosesnya salah sedikit, bunga bisa layu,” ungkapnya.

Karena topiknya masuk dalam bidang pasca panen, Masning harus melakukan penelitiannya di Laboratorium Pasca Panen dan Teknologi Proses FTIP Universitas Padjadjaran. Dalam prosesnya, ia melakukan pengamatan dan mencari informasi mengenai alat dan bahan yang akan digunakannya secara mandiri dan berkonsultasi dengan dosen-dosen hingga mahasiswa program studi Kimia. Selain itu, selama penelitian ia mempelajari lebih lanjut budidaya tanaman hias, khususnya bunga, yang belum banyak didapatkan di kelas. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here