Home Pertanian Peran Masyarakat Adat Menjaga Keanekaragaman Hayati  

Peran Masyarakat Adat Menjaga Keanekaragaman Hayati  

Masyarakat Adat

Agrozine – Bila tidak mengambil tindakan, kita akan kehilangan alam dan keanekaragaman hayati, meningkatnya risiko pandemi adalah akibatnya, seperti yang dipaparkan dalam laporan utama yang dirilis oleh Konvensi PBB terkait Keanekaragaman Hayati. Laporan pelengkap yang dirilis pada pertemuan, “Local Biodiversity Outlooks 2” menunjukkan perlunya perubahan strategi dalam menghadapi krisis ini.

“Pengabaian kontribusi masyarakat adat dan komunitas lokal (IPLCs) pada konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan berkelanjutan menjadi peluang besar yang terlewatkan pada United Nations Decade on Biodiversity 2011-2020,” ujar Joji Cariño, (Filipina) Forest Peoples Programme, mewakilkan Centres of Distinction on Indigenous and Local Knowledge, International Indigenous Forum on Biodiversity, dan salah satu penulis LBO-2.

“Pengabaian ini mempengaruhi rendahnya pencapaian 20 Aichi Biodiversity Targets, dan menunjukkan bahwa masih harus dipelajari cara menjaga keberlanjutan alam dan budaya di masa depan,” ujar Joji. “Menempatkan budaya dan hak masyarakat adat dan komunitas lokal merupakan inti utama 2050 biodiversity strategy, yang akan memberikan mata pencaharian, kesejahteraan yang berkelanjutan, dan dampak positif bagi keanekaragaman hayati dan iklim,” jelasnya.

 

Keanekaragaman Hayati Membutuhkan Masyarakat Adat

IPBES Global Assessment menunjukkan, sebagian besar keanekaragaman hayati dunia berada di tanah masyarakat adat dan komunitas lokal. Diperkirakan 35% dari wilayah global secara formal dilindungi dan 35% dari semua wilayah daratan yang tersisa dengan intervensi manusia sangat rendah, keanekaragaman hayati tumpang tindih dengan tanah adat. Ketika tanah masyarakat lokal ditambahkan, persentasenya bahkan lebih tinggi.

Peran masyarakat adat dan komunitas lokal dalam melindungi keanekaragaman hayati didukung oleh banyaknya badan penelitian, termasuk Science, Nature and the Proceedings of the National Academy of Sciences. Namun, jauh dari pandangan sebagai sekutu, masyarakat adat dan komunitas lokal seringkali mendapat serangan dari yang akan mengeksploitasi alam maupun mereka yang berusaha melindunginya secara paksa.

Mereka juga terkena dampak kekerasan dari perampasan tanah di perbatasn area perluasan industry pertanian, produksi daging, dan tanaman.

LBO-2 didedikasikan untuk orang-orang yang mempertaruhkan hidupnya melindungi tanah, hutan, dan sungai, serta keanekaragaman hayati yang mereka pelihara. Seperti dikutip dalam laporannya, “Kami mendukung para pembela hak asasi manusia lingkungan, pemberani yang kerap dikriminalisasi, beberapa bahkan dibunuh, karena membela hak-hak mereka dan menjaga alam,”

 

Kekuatan Tindakan Lokal dan Kolektif

Menjelang UN Biodiversity Summit pada 30 September 2020, lebih dari 50 penulis dan komunitas adat telah berkontribusi pada LBO-2, memberikan perspektif mereka tentang apa yang harus dilakukan untuk melengkungkan kurva hilangnya keanekaragaman hayati dan mengubah arah perjalanan kita.

Elizabeth Maruma Mrema, Sekretaris Eksekutif Sekretariat PBB untuk Convention on Biological Diversity mengatakan, “LBO-2 mewujudkan optimisme bahwa kerusakan alam dan hilangnya keanekaragaman hayati dan budaya dapat dibalik dengan menerapkan nilai-nilai, membuat tindakan kolektif dan lokal dari masyarakat adat dan komunitas lokal dunia.” Para penulis publikasi ini berpendapat, tujuan keanekaragaman hayati global di masa depan harus menyertakan peran penting masyarakat adat dan komunitas lokal. (rin)

Dilansir dari Scoop

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here