Home Perkebunan Potensi dan Konservasi Aren di Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur

Potensi dan Konservasi Aren di Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur

Agrozine.id – Aren (Arenga pinnata) merupakan salah satu tumbuhan dari famili Arecaceae yang memiliki nilai ekologi dan nilai ekonomi yang tinggi. Salah satu wilayah konservasi yang di dalamnya terdapat aren tumbuh dengan baik adalah Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Primadhika Al Manar,  dibawah bimbingan Prof Dr Ir Ervizal AM Zuhud (Prof Amzu) dan Dr drh Zuraidah MSi melakukan penelitian potensi dan konservasi aren di Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur.

Sebelum memulai penelitian untuk menyelesaikan studi sarjananya di IPB University, Primdahika mengaku sempat bingung mengenai kajian yang akan ditelitinya. “Awalnya ingin meneliti tumbuhan obat, tapi penelitian tentang TO kan udah terlalu banyak, jadi agak susah juga mencari gap yang bisa diteliti lebih lanjut. Atas saran bapak (sebutannya untuk Prof Amzu) akhirnya aku memilih untuk meneliti potensi dan konservasi aren ini. Karena menurut beberapa referensi yang kubaca juga di TN Meru Betiri katanya ada aren yang bisa untuk diteliti sejak 20 tahun lalu, sementara orang yang melakukan penelitian tentang aren belum banyak apalagi di Meru Betiri”, ungkapnya.

 

Tumbuhan aren selain digunakan sebagai pangan dan kerajinan oleh masyarakat tradisional juga digunakan sebagai bahan obat. Hampir semua bagian tumbuhan aren dapat dimanfaatkan mulai dari getah, nira dan akarnya. Akar aren dipercaya dapat digunakan sebagai bahan pembuat obat kuat.

Dalam penelitiannya Primadhika menggunakan metode analisis vegetasi untuk mengetahui keanekaragaman aren dan komunitas tumbuhan lain di sekitarnya. Selain itu ia juga menggunakan metode wawancara pada masyarakat sekitar Taman Nasional untuk mengetahui pemanfaatan aren oleh masyarakat.

Selama masa penelitian yang dilakukannya pada bulan Maret 2019, Primadhika menemukan beberapa masyarakat yang mengolah kolang-kaling dari tanaman aren. Namun selain itu pemanfaatan lainnya tidak ia temukan. Potensi aren masih banyak yang bisa dimanfaatkan, namun sayangnya masyarakat tidak terlalu paham pengolahannya. Selain itu keberadaan aren yang jauh dari perkampungan juga membuat pemanfaatannya tidak maksimal.  Namun secara ekologi, jika dilihat dari kerapatan tegakannya aren di Taman Nasional Meru Betiri khususny di desa Andongrejo yang menjadi lokasi penelitian masih stabil karena keberadaan semainya lebih banyak dibandingkan tingkat pertumbuhan lainnya seperti pancang, tiang dan pohon.

Pemanfaatan masyarakat dengan cara mengambil buah aren diperkirakan dapat menyebabkan tumbuhan aren sulit melakukan penyebaran individu melalui biji yang ada dalam buah,sehingga dapat mengakibatkan sulitnya regenerasi aren di masa yang akan datang.

Di desa Andongrejo yang menjadi lokasi penelitian, masyarakat setempat hanya memanfaatkan buah aren untuk diolah menjadi kolang-kaling karena dapat langsung dijual kepada pengepul dan langsung mendapatkan uang untuk keperluan sehari-hari. Sulitnya menjangkau keberadaan aren di dalam hutan menjadi penyebab pemanfaatn potensi aren di kawasan TN Meru Betiri tidak maksimal.

Hal tersebut juga diakui Primadhika menjadi kendala yang dialaminya pada saat penelitian. “Akses menuju TN tergolong sulit karena hanya ada satu saja kendaraan yang lewat sana, pagi jam 6 dan sore sekitar jam 5. Selain itu ya bakal ketinggalan, nunggu besok lagi baru bisa berangkat”, ucapnya.

Selain akses menuju TN yang sulit, lokasi penelitian yang berada jauh di dalam hutan dan medan yang terjal juga menjadi kendala berikutnya. Tak hanya sampai disitu, ketidaktahuan pihak TN akan keberadaan aren di dalam kawasannya juga menjadi kendala dalam penelitian. “Aku ditemani pegawai TN dalam mengambil data penelitian, tapi ternyata mereka juga ngga tau kalau di lokas itu ada aren. Jadinya ya harus aku sendiri yang mencari titik pengambilan data, selain itu kondisi medan yang terjal juga menyebabkan pegawai TN yang mendampingi ke lapang tidak bisa ikut turun langsung. Jadinya bisa dibilang aku melakukan penelitian hanya sendiri”, lanjut Primadhika.

Selanjutnya Primadhika berharap penelitian yang dia lakukan bisa memperbaharui data TN dan jika memungkinkan ada penelitian lebih lanjut yang tidak hanya meneliti soal potensi aren saja tetapi juga penelitian terhadap potensi dan pemanfaatan aren serta pengolahan produk dari aren yang dilakukan sesuai dengan standar pasar, agar masyarakat desa sekita TN dapat meningkat taraf ekonominya mengingat potensi aren di Taman Nasional Meru Betiri sebenarnya cukup untuk dikelola dan tidak menutup kemungkinan bisa menjadi mata pancaharian yang meningkatkan taraf hidup masyarakat. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here