Home Kehutanan Potensi Karbon Biru untuk REDD+ di Kawasan Pesisir Indonesia

Potensi Karbon Biru untuk REDD+ di Kawasan Pesisir Indonesia

REDD+ merupakan skema yang dikembangkan untuk memberi insentif positif bagi negara berkembang untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. REDD+ tidak hanya mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca saja, namun juga menggunakan pendekatan pengelolaan hutan berkelanjutan dan meningkatkan peran konservasi, manajemen hutan, dan peningkatan cadangan karbon dari hutan di negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara yang berperan aktif dalam kegiatan terkait REDD+.

Pemerintah Indonesia telah melakukan langkah-langkah dalam melaksanakan program REDD+ sejak pertama kali masuk dalam agenda COP-11 di Montreal tahun 2005. Hingga saat ini sejumlah perangkat arsitektur dan infrastuktur telah dibangun dan sebagian lainnya dalam proses pengembangan. REDD+ dilaksanakan pada seluruh penutupan lahan yang terkait ruang lingkup REDD+.

Dalam pelaksanaan program REDD+ terdapat tantangan yang cukup besar yaitu semakin berkurangnya lahan hutan akibat ulah manusia. Penyebabnya ada banyak hal, namun yang menjadi sorotan dunia terhadap Indonesia saat ini yaitu maraknya penebangan dan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab menurunnya kemampuan ekosistem alami untuk menyerap, mengikat, dan menyimpan karbon.

Upaya yang dapat dilakukan untuk peningkatan cadangan karbon yaitu salah satunya dengan memperbaiki ekosistem karbon biru yang memiliki peran nyata dalam peningkatan cadangan karbon di dunia. Karbon biru adalah karbon yang diserap ekosistem pantai dan laut. Indonesia sebagai negara kepualauan memiliki kawasan pesisir yang menjadi rumah bagi seperempat hutan mangrove dunia. Sebuah penelitian di Indonesia menemukan bahwa hutan mangrove Indonesia mengandung 14 miliar metrik ton karbon (PgC) yang mewakili sepertiga dari cadangan karbon pesisir global. Dalam satu hektar hutan mangrove di Indonesia, tersimpan potensi karbon yang jumlahnya 5 kali lipat lebih banyak dari karbon hutan dataran tinggi.

Hal ini menjadi potensi besar yang ada di kawasan pesisir untuk peningkatan potensi karbon biru. Upaya perlindungan dan restorasi di wilayah pesisir perlu dilakukan untuk menjamin fungsi optimal ekosistem pesisir. Karena selain bermanfaat menyimpan karbon, ekosistem karbon biru juga menyediakan manfaat dari segi ekonomi dan ekologi. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here