Home Kampus Potensi Sektor Kehutanan Terhadap Ketahanan Pangan Dengan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Potensi Sektor Kehutanan Terhadap Ketahanan Pangan Dengan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Agrozine.id – Himpunan mahasiswa Silvikultur yang tergabung dalam TGC IPB University kembali menggelar Webinar pada Sabtu (15/08/2020). Webinar TGC kali ini membahas tentang “Potensi sektor kehutanan terhadap ketahanan pangan dengan pengelolaan hutan berkelanjutan”.

Pada webinar kali ini hadir 3 orang pembicara yakni Prof Dr Ir Nurheni Wijayanto MS (Guru Besar Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Bidang Agroforestri IPB), Hariadi Propantoko S.Hut MSi yang akrab disapa Kang Ropan dari Manajemen Program Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan dan Marinus Kristiadi Harun S.Hut MSi (Peneliti Muda Balai Litbang dan Inovasi LHK Banjarbaru).

Webinar dibuka dengan sambutan dari ketua departemen Silvikultur Dr Ir Nur Farekha Haneda MS. Selepas sambutan acara dilanjutkan dengan materi oleh ketiga pembicara yang dipandu oleh M.Miftah F mahasiswa TGC sekaligus Menteri LH BEM KM IPB University.

Pada sesi pertama materi diisi oleh Prof Nurheni yang membawakan topik “Hutan, Agroforestri dan Pangan”. Dalam penyampaian materinya Prof Nurheni menyampaikan “ada 200 desa berada dalam kawasan hutan dan kebutuhan pangannya diambil dari sumberdaya hutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa agroforestri rasional dengan kondisi hutan kita”,ujar Prof Nurheni.

Lebih lanjut Prof Nurheni mengatakan bahwa dengan melihat kondisi hutan saat ini memberikan harapan bagi generasi milenial agar ke depannya lebih amanah dalam pengelolaan potensi hutan sehingga dapat mewujudkan ketahanan pangan dengan sumberdaya yang disediakan oleh hutan.

Agroforestri menjadi andalan teknologi untuk perhutanan sosial dimana sistem ini dapat diterapkan di hutan lindung,hutan alam, hutan tanaman, hutan tanaman rakyat dan zona pemanfaatan pada hutan konservasi. Sistem agroforestri dapat dikombinasikan dengan tanaman pertanian dan ternak sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangan lokal bagi masyarakat yang tinggal dan bergantung pada hutan.

Prof Nurheni memberikan beberapa contoh pengelolaan agroforestri yang berhasil di Indonesia seperti kopi malabar di hutan Perum Perhutani Pangalengan Bandung, Repong Damar di Krui Lampung dan Tumpang Sari di Hutan Jati Inti Sukabumi yang dirintis oleh beberapa dosen fakultas kehutanan IPB bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanah Perbenihan Hutan.

Keberhasilan agroforestri dipengaruhi oleh tiga faktor penting yaitu faktor ekologi, ekonomi-bisnis dan sosial budaya. Kebijakan pemerintah yang mendukung sangat dibutuhkan dalam pengembangan agroforestri sehingga bisa tercapai hutan lestari,masyarakat berseri dengan agroforestri.

Selanjutnya pada sesi kedua diisi oleh Kang Ropan dengan topik “Hutan Pangan”. Di awal penyampaian materinya kang Ropan menyampaikan bahwa “pangan dilihat sebagai hak asasi manusia bagian dari hak ekonomi, sosial dan budaya yang harus dipenuhi negara sehingga jika masih ada kasus gizi buruk, kelaparan dan stunting maka artinya pemerintah masih harus bekerja lebih keras untuk mewujudkan ketersediaan pangan”.

Dalam konteks ketersediaan pangan semestinya kita tidak cukup hanya berpikir yang penting cukup.  Kalau sumberdaya  kita mencukupi semestinya kita harus mendorong untuk ketersediaan pangan itu terpenuhi,lanjut Kang Ropan. Dalam konteks ketahanan pangan (food security) Indonesia sudah menerapkannya sejak masa orde baru,dan pada tahun 1985-an Indonesia swasembada beras.

Petani adalah aktor utama yang harus digandeng oleh pemerintah dalam upaya pemenuhan pangan. Oleh karena itu dibutuhkan peningkatan akses terhadap sumber-sumber pangan seperti lahan dan alat pertanian.

Berkaitan dengan korelasi antara pangan dan hutan, Kang Ropan menjelaskan bahwa sebagian besar daratan Indonesia adalah hutan, dan manusia adalah faktor penentu kerusakan hutan. Sumberdaya hutan menyediakan bahan pangan sangat berlimpah dan memiliki keanekaragaman tinggi. “Setidaknya ada 9 sumberdaya hutan yang saya temukan dimanfaatkan sebagai pangan yaitu durian, sagu,rotan,mangga, rambutan,kepel,nangka dan lengkeng. Salah satu yang paling banyak dimanfaatkan sebagai pangan lokal adalah sagu yang tersebar dari Sumatera hingga Papua. Selain itu rotan juga berpotensi dalam pemenuhan pangan. Satu batang sagu dapat menghasilkan pangan yang dapat digunakan berbulan-bulan oleh satu rumah tangga”,jelas kang Ropan.

Lebih lanjut dalam Permenhut No.35 tahun 2007 pengelompokan sumberdaya hutan sebagai pangan dibagi menjadi sumber lemak,pati-patian dan buah-buahan dalam jumlah banyak. Dengan ini mestinya secara regulasi bisa mendorong pemanfaatan hutan sebagai penghasil sumberdaya pangan.

Pada sesi ketiga dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Marinus Hariadi Kristiadi Harun S.Hut MSi dengan topik “Mewujudkan hutan sebagai sumber ketahanan pangan”.

“Kita harus paham bahwa sumberdaya hutan bukan hanya kayu yang bisa dimanfaatkan tetapi juga berbagai potensi lainnya seperti jamur yang bisa dijadikan sebagai sumberdaya pangan. Oleh karena itu kita membutuhkan inovasi yang diwujudkan dalam pengelolaan hutan yang smart (Sustanaible,Most beneficial,Artistic and kreatif,relevan dan trustworthy) untuk ciptakan ketahanan pangan karena memang sejak dulu hutan adalah sumber pangan”, ucap Martinus di awal materinya.

Terdapat 5 pilar smart silvikultur yang diperlukan dalam pengelolaan sumberdaya hutan yaitu itikad baik dari para pihak, penegakan hukum,kelembagaan yang tepat,tata kelola yang baik dan ilmu pengetahuan,SDM serta modal yang mendukung.

Strategi dalam pengembangan hutan sebagai sumber ketahanan pangan dibutuhkan untuk pengelolaan yang tepat. Terdapat 4 strategi yang dapat digunakan dalam pengembangan hutan sebagai sumber pangan yaitu kebijakan, kelola sosial,kelola tapak dan kelola ekonomi dimana konsep pengelolaan agroforestri bisa dijadikan sebagai pengelolaan potensi hutan untuk ketahanan pangan secara berkelanjutan. Kebijakan ketahanan pangan dan konsep pengembangan hutan sebagai sumber pangan menjadi landasan pengembangan kehutanan untuk wujudkan ketahanan pangan. (ira)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here