Home Kampus Prediksi Laju Erosi pada Lahan Pertanian Intensif dan Agroforestry

Prediksi Laju Erosi pada Lahan Pertanian Intensif dan Agroforestry

lahan pertanian intensif
DCIM/101MEDIA/DJI_0512.JPG

Agrozine.id – Lahan kritis menjadi salah satu masalah lingkungan yang harus ditangani. Indikator suatu lahan dapat dikatakan kritis yaitu berkurangnya fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS). Salah satu contohnya yaitu bagian hulu DAS Serayu yang dijadikan DAS prioritas dalam RPJMN  2015 -2019 karena kondisinya yang kritis. Kondisi kritis ini disebabkan oleh kegiatan yang secara langsung dapat merusak daya dukung lahan seperti konversi hutan menjadi lahan pertanian intensif. Pada artikel kali ini, tim Agrozine.id akan mengulas mengenai prediksi besaran laju erosi pada lahan pertanian intensif dan lahan agroforestry yang ada di bagian hulu DAS Serayu.

Desa Leksana, Karangkobar, Banjarnegara merupakan salah satu bagian dari hulu DAS Serayu yang harus dilindungi karena daerah ini rawan akan erosi dan longsor.  Hal ini disebabkan tingginya tingkat ketergantungan hidup masyarakat Desa Leksana terhadap lahan. Mereka memanfaatkan  lahan untuk  ditanami sayuran seperti kubis, kentang, jagung, kacang maupun sawi. Kelerengan lahan di Desa Leksana terbilang cukup curam, sehingga dalam budidaya tanaman pertanian apabila tidak diimbangi pengolahan lahan sesuai kaidah konservasi akan berpotensi menyebabkan erosi.

Erosi merupakan faktor pertama yang harus ditangani dalam pengelolaan DAS. Besaran erosi yang terkendali mampu mendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Namun, erosi yang terjadi di Desa Leksana ini terjadi secara terus menerus hingga mengubah kondisi fisik-kimia tanah.  Apabila hal ini terus dibiarkan maka produktivitas lahan akan menurun karena hilangnya lapisan top soil, bahan organik dan unsur hara, selain itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman itu sendiri.

Erosi  dapat dikendalikan melalui pemberian teknik konservasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air (KTA). Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengendalikan erosi yaitu dengan menerapkan pola tanam wanatani (agroforestry).

Di desa Leksana, dalam usaha budidaya tanaman pertanian, masyarakat mengadopsi dua pola tanam, yaitu pertanian intensif dan agroforestry. Maka dari itu, melalui kajian yang dilakukan oleh Paras Marcella dari Fakultas Kehutanan UGM di Desa Leksana, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara terkait pendugaan erosi menggunakan metode erossion bridge, maka dapat diketahui perbandingan besaran erosi di kedua lahan tersebut.

lahan agroforestry

“Sebenarnya prediksi erosi menggunakan metode erossion bridge ini masih baru dan belum banyak digunakan. Jadi, disini saya mencoba menggunakan metode tersebut dengan membandingkan besaran laju erosi di lahan pertanian intensif dan agroforestry,” jelas Marcella.

Kedua lahan pertanian di Desa Leksana mendapatkan perlakuan yang sama, dengan teknik konservasi berupa teras guludan dengan dua variasi yaitu memotong kontur dan sejajar kontur. Namun, apakah penerapan dua teknik konservasi di kedua lahan tersebut berpengaruh terhadap besaran laju erosi? Melalui penelitian ini, gadis yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Kehutanan UGM mencoba membuktikannya.

Ia melakukan pengambilan data saat musim hujan, karena salah satu penyebab utama terjadinya erosi yaitu hujan. Intensitas  dan  curah  hujan  yang tinggi  menyebabkan  terjadinya  limpasan  permukaan. Erosi  terjadi karena tanah  tidak dapat lagi mampu menahan  air.

Setelah dilakukan pengambilan dan pengolahan data, diketahui besaran erosi yang terjadi pada lahan agroforestry yaitu 0.18 ton/ha dengan rincian erosi yang diberi pola tegak lurus kontur menghasilkan erosi sebesar 0.057 ton/ha dan erosi pada lahan yang diberi pola sejajar kontur sebesar 0.127 ton/ha.

Sedangkan pada lahan pertanian, erosi yang terjadi pada lahan yang diberi pola tegak lurus kontur menghasilkan erosi sebesar 0,22 ton/ha, sedangkan lahan yang diberi pola sejajar kontur menghasilkan erosi sebesar 0,28 ton/ha. Total laju erosi pada lahan pertanian yaitu 0,50 ton/ha.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa erosi yang tejadi pada lahan pertanian lebih besar daripada erosi yang terjadi pada lahan agroforestry. Penerapan teknik konservasi pada kedua lahan tersebut menghasilkan perbedaan pengaruh yang tidak signifikan.

Adapun faktor utama yang mempengaruhi perbedaan besaran laju erosi di lahan pertanian intensif dan agroforestry adalah tutupan tajuk. Di lahan pertanian memiliki persen penutupan tajuk yang lebih rendah dibandingkan dengan lahan agroforestry.

“Minimnya tutupan tajuk di lahan pertanian menyebabkan erosinya semakin besar. Karena dengan intensitas hujan yang tinggi, air yang jatuh mengenai tanah terbuka akan menyebabkan aliran permukaan yang besar,” ujarnya, yang dihubungi oleh tim Agrozine.id, Rabu (14/08/2020).

Harapannya setelah mengetahui hasil penelitian ini, masyarakat yang tinggal di Hulu suatu DAS dapat lebih bijaksana lagi dalam penggunaan lahan. Penerapan teknik-teknik konservasi tanah dan air dalam pengelolaan kawasan di daerah hulu DAS yang tepat guna dan tepat sasaran sehingga memberikan keuntungan ekonomi tetapi tetap melindungi lahan dan lingkungan. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here