Home Biodiversitas Revitalisasi Tujuan Pembangunan, Indonesia Bentuk Tim Ahli Lahan Basah

Revitalisasi Tujuan Pembangunan, Indonesia Bentuk Tim Ahli Lahan Basah

Agrozine.id – Untuk memenuhi revitalisasi tujuan pembangunan berkelanjutan internasional dan memprioritaskan pembangunan rendah karbon, Indonesia membentuk tim ahli lahan basah untuk bertanggung jawab atas perencanaan, sinkronisasi kebijakan, data dan informasi serta pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan dalam mengerampingkan tugas negara memenuhi tujuan pembangunan rendah karbon.

Indonesia sebagai negara dengan lahan gambut terluas ketiga di dunia merupakan rumah bagi lahan gambut tropis terluas dai dunia dan menyimpan sekitar 60 miliar ton karbon. Indonesia juga memiliki hutan bakau yang sangat banyak dan menyimpan lebih dari 3 miliar ton karbon. Oleh karena itu, Indonesia adalah bagian dari Global Peatlands Initiative dan merupakan pendiri International Tropical Peatlands Centre.

Menjaga simpanan karbon sangat penting untuk menjaga pemanasan global tetap terkendali dan memenuhi target di bawah Perjanjian Paris PBB tentang perubahan iklim menurut para ilmuwan. Perjanjian tersebut menetapkan pencegahan suhu naik lebih dari 1,5 hingga 2 derajat celcius rata-rata diatas waktu pra industri.

Berdasarkan fakta terseut, setiap negara diwajibkan untuk menyediakan data tentang emisi gas rumah kaca dan target pengurangan yang ingin dicapai pasca 2020. Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 29-41 persen pada tahun 2030 melalui Kontribusi yang ditentukan secara nasional.

Baca Juga: Target Net Zero 2040 NFU:Mengurangi Emisi Karbon dari Pertanian

Prof Daniel Murdiyarso selaku ilmuwan utama di Pusat Penelitian Kehutanan International (CIFOR) mengatakan bahwa sudah menjadi pusat penelitian internasional tentang ekosistem lahan basah dan mengembangkan strategi untuk mengatasi perubahan iklim, upaya untuk memperbaharui efisiensi dengan koordinasi lintas departemen pemerintah dan pemangku kepentingan lain dari komunitas penelitian sangat tepat waktu.

Disampaikannya juga bahwa pihaknya akan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pengambilan dan pengelolaan data dan informasi bersama dengan perwakilan dari Conservation International Indonsia dan Wetlands International Indonesia serta Badan Restorasi Gambut Indonesia, juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta berbagai pihak lainnya.

Baca Juga: Bayer AG Berkomitmen Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca pada Tahun 2029

“Mitigasi, adaptasi melalui konservasi dan mata pencaharian berkelanjutan di ekosistem gambut dan mangrove Indonesia sebagai bagian dari Inisiatif Iklim Internasional (IKI) didukung oleh Kementerian Federal Jerman Lingkungan dan Konservasi Alam dan Keselamatan Nuklir (BMU)”.

Conservation International mengkoordinasikan proyek untuk mendukung pemerintah nasional, provinsi dan kabupaten dalam melestarikan dan mengelola ekosistem lahan gambut dan bakau untuk mencapai revitalisasi tujuan pembangunan dengan lokasi percontohan yang terletak di Sumatera Utara dan Papua Barat.

“Indonesia menjadi tuan rumah bagi ekosistem lahan gambut tropis dan mangrove terbesar, yang menghadapi tekanan luar biasa”, ujar Prof Daniel Murdiyarso. Dari 17 SDG yang ditetapkan oleh PBB yang akan dicapai pada tahun 2030 baru tercentan kotak pada tujuan ke-13 yang memiliki tujuan luas untuk memerangi perubahan iklim. Prioritas lainnya seperti SDG 14 berfokus pada konservasi lautan, laut dan sumber daya laut sedangkan SDH 15 berfokus pada pelestarian dan pemulihan ekosistem darat dan keanekaragaman hayati.

“Mengingat potensi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dari lahan basah Indonesia, kami hanya dapat menghargai inisiatif dan bangga menjadi bagian darinya,” kata Robert Nasi, Direktur Jenderal CIFOR.

Sebagai ekosistem penyimpanan karbon tinggi, ekosistem lahan gambut dan mangrove memiliki peran strategis sebagai solusi berbasis alam untuk mitigasi dan adaptasi iklim. Secara berturut-turut, lahan gambut dan bakau menyimpan hingga dua hingga 10 kali lebih banyak daripada hutan karbon.

Ketut Sarjana Putra, Wakil Presiden Konservasi Internasional Indonesia juga memuji kemajuan yang dicapai oleh pemerintah Indonesia dan mengatakan bahwa dia sangat senang dapat mendukung negara dalam membangun strategi yang efektif untuk melindungi dan mengelola ekosistem karbon tinggi, lahan gambut dan bakau. “Ini adalah bagian dari pendekatan solusi berbasis alam untuk mencapai SDGs,” katanya.

Baca Juga: Global Safety Net: Platform Onlien untuk Melindungi Keanekaragaman Hayati dan Mencegah Perubahan Iklim

“Tim Koordinasi Strategis akan mengembangkan strategi dan roadmap pengelolaan lahan basah di Indonesia untuk mendukung revitalisasi tujuan pembangunan rendah karbon dan SDGs”, kata Arifin Rudiyanto, Wakil Menteri Kelautan dan Sumber Daya Alam Bappenas, seraya menambahkan akan diikuti dengan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dengan pemerintah subnasional dan multi-pemangku kepentingan untuk mencapai pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove yang berkelanjutan.

“Tim ini akan membantu implementasi strategi dan roadmap yang menampilkan mekanisme pemantauan dan pelaporan untuk mendukung SDGs dan revitalisasi tujuan pembangunan pembangunan rendah karbon di Indonesia melalui adanya pembentukan tim ahli lahan basah ini”,  ujarnya. (ira)

 

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here