Home Biodiversitas Semut Rangrang, Si Galak Pengusir Hama dan Produsen Kroto

Semut Rangrang, Si Galak Pengusir Hama dan Produsen Kroto

ispotnature.org

Agrozine.id – Semut rangrang, begitulah semut ini biasa dipanggil oleh umumnya orang Indonesia. Nama ilmiahnya Oecophylla smaragdina,  nama lainnya semut kerangga dan orange gaster. Semut ini adalah spesies semut arboreal (hidup pada pohon) yang ditemukan di Asia tropis dan Australia.  Jangkauannya membentang dari India melalui Indonesia dan Filipina hingga Northern Territory dan Queensland di Australia.

Ada dua jenis semut rangrang yang masih bertahan di dunia. Jenis lainnya ditemukan dalam bentuk fosil. Jenis pertama adalah rangrang asia (O. smaragdina) yang tersebar luas dari Pakistan sampai Australia bagian utara dan rangrang afrika (O. longinoda) yang menghuni kawasan tropis di Afrika.

Semut ini bersifat teritorial (menjaga tempat hidupnya) dan bertemperamen galak. Rangrang tidak segan-segan menyerang apa pun yang mendekati wilayahnya. Karena perilaku ini, banyak pemilik pohon buah di Asia Tenggara memanfaatkannya untuk menjaga buah yang mulai ranum.

Rangrang sebagaimana banyak semut lain adalah serangga sosial dan membentuk koloni. Koloni rangrang dapat sangat tinggi populasinya. Koloni semut ini terdiri dari ratu, semut pejantan, semut pekerja, dan semut prajurit yang masing-masing memiliki peran sebagai berikut.

Semut Ratu

Setiap koloni memiliki satu ratu yang hidup di salah satu sarang. Semut ratu berperan sebagai penghasil telur. Sekali bertelur bisa mencapai ribuan. Ukuran semut ratu paling besar, panjangnya sekitar 20-25 mm. Warnanya cokelat kehijauan seperti zamrud sehingga spesies ini dberi nama smaragdina (bahasa Latin yang berarti ”zamrud” ). Semut ratu ini ketika belum kawin memiliki sayap. Ratu dapat ditemui di lokasi yang aman dari gangguan dan selalu berada pada daun yang masih segar.

projectnoah.org

Semut Pejantan

Semut pejantan berperan untuk mengawini sang ratu. Ukuran semut jantan lebih kecil dari ratu. Umur semut jantan sangat singkat. Setelah mengawini sang ratu, semut ini akan mati.

Semut Pekerja

Semut pekerja berperan mengasuh semut muda yang dihasilkan ratu. Semut pekerja merupakan semut betina yang mandul. Pekerja memiliki panjang 5–6 milimeter. Namun, semut rangrang bersifat fleksibel, pekerja mampu berfungsi sebagai prajurit saat situasi membutuhkan.

Semut Prajurit

Semut prajurit berperan sebagai penjaga sarang, melindungi koloni dari gangguan, dan mengangkut makanan. Semut prajurit ini jumlahnya paling banyak dalam koloni. Ukuran semut prajurit sekitar 8-10 mm, memiliki rahang dan kaki yang kuat, di kepalanya terdapat sepasang antena yang panjang.

Dalam setiap koloni bisa terdapat hingga setengah juta ekor semut. Satu koloni semut terdiri dari beberapa sarang. Setiap sarang dihuni oleh sekitar 4.000-5.000 ekor semut, tergantung ukurannya. Daerah kekuasaan koloni semut rangrang bisa mencapai luasan 1.000 m². Semut rangrang merupakan jenis hewan teritorial yang sangat mempertahankan daerahnya. Apapun yang mengganggu daerah kekuasaannya bisa dijadikan santapan koloni.

Semut rangrang menyukai pohon yang memiliki daun yang lentur dan lebar atau daun yang kecil-kecil dan rimbun. Semut ini membentuk koloni dengan banyak sarang di pohon. Setiap sarang terbuat dari daun yang dijahit menjadi satu menggunakan sutra yang dihasilkan oleh larva semut. Oleh karena itu, semut ini disebut juga weaver ant atau semut penenun.

Sarangnya dibangun pada malam hari, dengan pekerja utama menenun ke arah luar dan pekerja kecil menyelesaikan struktur interior. Koloni semut bisa memiliki beberapa sarang dalam satu pohon atau dapat tersebar di beberapa pohon yang berdekatan.

Semut rangrang memangsa serangga dan invertebrata lainnya, terutama kumbang, lalat, dan hymenoptera. Mereka tidak menyengat, tetapi memiliki gigitan yang menyakitkan di mana mereka dapat mengeluarkan bahan kimia yang dapat mengiritasi dari perut mereka. Di Singapura, koloni sering ditemukan di kembang sepatu laut dan pohon mengkudu yang memikat semut dengan nektar, pohon-pohon sebagai imbalannya menerima perlindungan dari serangga herbivora.  Di Indonesia, koloni semut ini ditemukan di pohon pisang, kelapa, kelapa sawit, karet, kakao, jati, nangka, mangga, salam cina, petai, jengkol, duku, rambutan, jambu air, dan kedondong.

Semut mengunjungi tempat kutu daun, serangga skala, dan homoptera lainnya untuk memakan embun madu yang mereka hasilkan, terutama di kanopi pohon yang dihubungkan oleh liana. Untuk tujuan ini, mereka mengusir spesies semut lain dari bagian kanopi tempat serangga penghisap getah ini hidup. Tempat berteduh dapat dibangun oleh semut yang dekat dengan sarangnya secara khusus untuk melindungi aset ini.

Larva dan pupa dikumpulkan dan diolah menjadi makanan burung dan umpan ikan di Indonesia, digunakan dalam pengobatan tradisional Cina dan India, dan dikonsumsi sebagai makanan lezat di Thailand dan negara lain.

Di Jawa, Indonesia larva dan pupa semut ini dikenal sebagai kroto dan dipanen secara komersial untuk digunakan sebagai makanan penangkaran burung berkicau dan sebagai umpan memancing. Burung berkicau sangat populer di Jawa dan jentik semut menyediakan makanan seimbang yang baik dari protein, mineral dan vitamin. Kroto dapat dibeli dari toko hewan peliharaan atau dapat dikumpulkan segar dari pedesaan. Sebagai umpan ikan, larva dicampur dengan telur ayam, jagung, kacang-kacangan dan madu.

Di beberapa daerah jelajah semut ini, koloni digunakan sebagai bentuk pengendalian hama alami. Tanaman yang dilindungi dengan cara ini antara lain kacang tunggak, jambu mete, jeruk, mangga, kelapa, kakao dan kopi. Catatan tertulis tertua tentang penggunaan semut ini untuk mengendalikan hama adalah penggunaannya di Cina pada tahun 304 M untuk mengendalikan hama pada jeruk.

Semut rangrang berkembangbiak dengan bertelur. Seluruh koloni secara bersama-sama menjaga telur tersebut di dalam sarang. Kroto memiliki fase bertelur yang terprogram. Tahap pertumbuhan dimulai dari telur, larva, pupa hingga menjadi semut dewasa. Secara keseluruhan, dari telur menuju semut dewasa berlangsung sekitar 30 hari. Lamanya proses dari telur sampai dewasa:

  • Telur ke Larva = 7 Hari
  • Larva ke Pupa = 14 Hari
  • Pupa ke Semut Dewasa = 9 Hari

Untuk berkembang biak dan membuat sarang, semut cenderung akan menjauh dari gangguan. Oleh karena itu, mereka sering ditemukan membuat sarang di tajuk-tajuk pohon yang tinggi. Namun di musim panas, semut akan memindahkan sarangnya ke tempat yang lebih rendah untuk berteduh dari terik matahari.

Semut rangrang menyukai makanan yang mengandung protein dan gula yang tinggi. Kebutuhan gula didapatkan dari nektar dan simbiosis mutualisme dengan kutu-kutuan jenis aphid, penghasil embun madu. Semut mendapatkan cairan manis kutu daun, sementara kutu mendapat perlindungan dari serangan predator lainnya.

Kebutuhan protein dan lemak semut rangrang didapat dari mangsa berupa serangga, cicak, dan hewan kecil lainnya. Semut ini juga bisa memangsa hewan yang ukurannya ratusan kali lipat lebih besar dari tubuhnya dengan menyerang dan melumpuhkan mangsanya secara berkelompok. Semut rangrang merupakan makanan bagi beberapa spesies laba-laba pelompat, seperti Cosmophasis bitaeniata. (das)

Yuk teman, tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here