Home Peternakan Sinatria Farm: Pelopor Sistem Kandang Domba Anti Bau

Sinatria Farm: Pelopor Sistem Kandang Domba Anti Bau

Kandang Domba Anti Bau

Agrozine.id – Biasanya jika berkunjung ke kandang domba atau kambing pasti akan tercium aroma tidak sedap atau orang biasa menyebutnya prengus. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Sinatria Farm. Sebuah peternakan domba yang menerapkan sistem kandang domba anti bau yang berlokasi di dusun Dero Wetan, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Didirikan oleh Vita Krisna Dewi, S.Pt. M.Sc. yang juga merupakan seorang mantan dosen sebuah perguruan tinggi di Kalimantan Timur.

Sinatria Farm

Sinatria Farm merupakan sebuah peternakan domba dengan konsep kandang, pakan dan management yang modern yang memiliki tujuan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Vita mengatakan alasannya memilih untuk beternak domba adalah ia melihat adanya peluang pasar yang besar, khususnya di Yogyakarta. Permintaan pasar akan domba masih sangat tinggi sedangkan produksinya rendah. Sehingga pada tahun 2018 ia memulai untuk mendirikan Sinatria Farm.

Kemudian, motivasi lain didirikannya Sinatria Farm ini adalah untuk aktualisasi ilmu pengetahuan. Selama perjalanannya mengajar di sebuah perguruan tinggi, Vita menemukan sebuah problem dimana lulusan jurusan peternakan serapannya di dunia kerja terutama di bidang peternakan itu kecil. Sehingga, ia berdedikasi tinggi untuk mengajak para pemuda generasi penerus untuk memulai bisnis di bidang peternakan.

“Ada sebuah kewajiban saya harus kasih contoh nih buat adek-adek saya. Orang peternakan bisa kok bergerak di bidang peternakan. Karena kalau tidak ada yang mulai itu mau siapa lagi. Makanya awal mula saya memulai Sinatria Farm ya karena itu,” ungkap Vita yang juga merupakan lulusan Magister Ilmu Peternakan UGM.

Dalam mendirikan peternakan domba ini, tidak semerta-merta langsung berhasil. Vita sempat beberapa kali menemukan kegagalan. Bukannya menyerah, Vita mencoba mencari solusi, membuat inovasi, dan menganalisis apa yang menjadi penyebab kegagalannya tersebut.

“Keberhasilan peternakan itu bukan sekedar dari knowledge saja. Tapi disitu ada 4M yaitu men, macchine, money, dan marketing,” ungkap perempuan asal Bantul, Yogyakarta.

Saat ini, Sinatria Farm sudah dikenal banyak orang. Setiap harinya selalu ada banyak kunjungan orang yang ingin belajar ternak domba dengan sistem yang modern. Kunci utama Sinatria Farm bisa terkenal yaitu karena berbeda dari lainnya.

Lalu, apa yang membedakan Sinatria Farm dengan peternakan yang lainnya? Sinatria Farm mencoba menciptakan sebuah inovasi kandang domba modern yang disebut dengan kandang terkoleksi.

Seperti diketahui bahwa masalah utama di peternakan adalah adanya limbah kotoran yang menyebabkan bau tidak sedap. Melihat masalah itu, Vita mencoba menemukan solusi yaitu dengan dibuatnya sistem kandang terkoleksi. Dimana kandang terkoleksi yaitu kandang domba anti bau dan bersih.

Sistem pembuatan bangunan kandang dibuat sedemikian rupa sehingga urin dan feses dapat tertampung. Kandang ini memiliki dua lapisan yaitu lapisan pertama untuk mengoleksi atau penampung feses dan lapisan kedua untuk mengoleksi urine domba.

“Biasanya kotoran akan langsung terbuang ke bawah, dan panen feses biasanya dilakukan dalam beberapa bulan sekali. Tapi, kalau kita bisa setiap hari panen. Makanya, kita tidak pernah ada stok, karena setiap hari selalu ada orang membelinya. Dan dalam 100 ekor domba setiap harinya bisa menghasilkan 4 karung feses,” ujar Vita.

Kapasitas kandang di Sinatria Farm yaitu untuk 250 ekor domba, namun saat ini terdapat 93 domba. Adapun jenisnya antara lain yaitu domba Garut, domba Merino, domba Texel, dan sebagainya.

Pakan utama domba-domba tersebut yakni hijauan. Sinatria Farm memproduksi pakannya sendiri yaitu dari rumput yang ditanam di sekitar kandang. Selain itu, pakan yang diberikan domba juga berasal dari limbah-limbah pertanian dari masyarakat sekitar. Kemudian, untuk mengatasi masalah pakan di musim kemarau, Sinatria Farm juga membuat silase atau pakan yang difermentasi.

Selama 2 tahun berjalan, Vita mengungkapkan kendala terbesar yang terjadi yaitu management sumberdaya manusia.

“Karena saya kan mengelola anak muda, sedangkan mereka itu moody, dan tidak semua itu tahan banting. Jadi kebanyakan dari mereka cepat bosan kemudian keluar. Selain itu juga masalah kompetensi,” ungkapnya.

Vita mengungkapkan, dewasa ini, pelaku usaha peternakan rakyat didominasi usia 50 tahun ke atas, maka dari itu diperlukan regenerasi. Selain itu, bonus demografi menjadi peluang yang sangat potensial untuk ketahanan pangan yang berasal sektor peternakan. Jadi, Sinatria Farm tidak hanya berorientasi pada profit semata melainkan juga ingin menjadi bagian dari edukasi yang menggerakkan pemuda untuk terlibat dalam ketahanan pangan nasional. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here