Home Kehutanan SiPongi: Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

SiPongi: Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia

kebakaran hutan dan lahan

Agrozine.id – Indonesia diberkahi dengan hutan-hutan tropis terluas dan dilimpahi keanekaragaman hayati berupa flora fauna. Indonesia memiliki hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia yakni 94,1 juta hektare atau 50,1% ┬ádari total daratan di Indonesia. Namun, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia telah menjadi masalah serius dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai upaya perbaikan pengelolaan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah dilakukan termasuk pengelolaan data dan informasi.

Oleh sebab itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengembangkan sistem informasi peringatan dan deteksi dini untuk kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bernama SiPongi yang dapat diakses di http://sipongi.menlhk.go.id.

Sipongi

SiPongi yang dikembangkan Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK, menjadi rujukan utama informasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Sipongi mensinergikan data dan informasi karhutla yang bekerjasama dengan stakeholder lain untuk berbagai data seperti LAPAN, BMKG, dan stakeholder lain yang terkait.

SiPongi juga mendorong partisipasi pemangku kepentingan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, termasuk juga masyarakat. Data dan informasi terintegrasi terkait deteksi dini karhutla.

Cara kerja dari SiPongi adalah menangkap suhu dan luasan titik api, lalu disampaikan ke pusat informasi dan ditampilkan ke web. Aplikasi ini ada dua tampilan yang bisa dibuka masyarakat maupun khusus pihak internal KLHK dengan unit-unit terkait dalam permasalahan karhutla.

Sistem ini disinkronkan setiap 30 menit dan mendekati waktu nyata, sehingga dapat meningkatkan efektivitas waktu pemantauan dan respons menjadi hanya 1 hari dan meningkatkan koordinasi karhutla di Indonesia.

Inovasi ini menggabungkan data peringatan dan deteksi dini seperti Fire Danger Rating System (FDRS), hotspot (Terra, Aqua, SNPP, NOAA dan Landsat 8), informasi polutan udara dan masih banyak lagi. Sistem ini dilengkapi dengan aplikasi Android yang didukung oleh media sosial agar mudah diakses oleh masyarakat luas. Untuk area yang tidak memiliki koneksi internet, SiPongi juga menyediakan SMS blast.

SiPongi juga meningkatkan waktu respon dan pelaporan personel lapangan dari 3 hari menjadi 1 hari yang berkontribusi pada pengurangan area yang terbakar hingga 37% pada 2019 (1,55 juta Ha) dibandingkan dengan tahun 2015 (2,5 juta Ha).

Dengan adanya SiPongi, upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan akan lebih efektif dan terkoordinasi sehingga dapat mengurangi bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

baca juga : Kenali Penyebab Karhutla dan Dampaknya bagi Ekosistem

SiPongi hadir untuk menyelamatkan hutan indonesia, menyelamatkan paru-paru bumi dan menyelamatkan masa depan dunia. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here