Home Perikanan Sistem Sawah Terpadu, Bisa Panen Padi, Ikan, dan Itik Dalam Satu Lahan

Sistem Sawah Terpadu, Bisa Panen Padi, Ikan, dan Itik Dalam Satu Lahan

Agrozine.id – Sistem sawah terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu lahan yang sama. Sistem sawah terpadu dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan. Sistem ini memanfaatkan seluruh potensi energi sehingga dapat dipanen secara seimbang. Selain hemat energi, keunggulan lain dari sistem ini adalah petani akan memiliki beberapa sumber penghasilan dalam satu lahan dan satu masa panen.

Sistem sawah terpadu memadukan budidaya padi, ikan, itik/bebek, dan tanaman refugia yang dibudidayakan pada satu area lahan yang sama. Tanaman refugia adalah tanaman yang berbunga seperti kenikir, jengger ayam, tapak dara, bunga matahari, dan bunga krisan. Tanaman ini ditanam di pinggiran sawah. Bunga tanaman tersebut akan mengeluarkan nektar yang baunya menarik serangga musuh alami maupun serangga hama tanaman untuk datang.

Dengan sistem sawah terpadu petani akan mendapatkan penghasilan lebih selain dari padi, yaitu hasil panen ikan, itik, dan telur itik sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani. Biaya untuk pestisida, pemupukan dan penyiangan juga berkurang. Dalam sistem sawah terpadu terjadi daur ulang yang saling menguntungkan, yaitu itik dan ikan dapat menekan populasi gulma dan hama (pengendalian hayati), serta kotoran ikan dan itik menjadi pupuk padi.

Syarat lahan sawah yang akan digunakan sebagai lokasi budidaya sawah terpadu adalah sawah yang memiliki pengairan teratur agar ikan tidak kekurangan air, tanah sawah agak liat/berlempung, hindari tanah yang mudah longsor pada lahan sawah berteras, kontur tanah sawah agak landai agar jika sawah sewaktu-waktu dikeringkan ikan-ikan tidak kekurangan air, lokasi sawah dekat dengan pemukiman agar mudah diawasi, serta luas  petakan sawah ideal untuk sawah terpadu  adalah 500 – 1.000 m2 dan terletak pada satu hamparan untuk memudahkan pengawasan dan pengaturan air.

Pematang sawah dibuat berukuran lebar dasar 40-50 cm, lebar atas 30-40 cm, dan tinggi 30-40 cm. Pematang dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pembuangan air pada ketinggian yang dikehendaki. Parit dibuat sebelum tanah diratakan dengan ukuran lebar 30-40 cm, tinggi 20-30 cm, dan panjang sesuai ukuran petakan. Parit berguna sebagai tempat berlindung ikan bila air mendadak turun, ikan bisa bergerak ke segala penjuru petakan, memudahkan pemberian pakan tambahan, menampung ikan saat pemupukan, dan memudahkan saat pemanenan ikan.

Padi yang cocok dengan sistem budidaya ini adalah varietas padi berperakaran dalam, cepat bertunas, batang kuat, daun tegak, tahan hama dan penyakit, dan produksinya tinggi. Varietas yang cocok misalnya IR 64, Cisadane, Ciliwung, dan Inpari 30 Ciherang Sub 1. Penanaman dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo 2 atau 3 baris menggunakan jarak tanam dalam barisan 20 cm x 10 cm dan jarak tanam legowo 40 cm x 10 cm. Setelah dilakukan penanaman, padi didiamkan selama kurang lebih 14 hari setelah tanam supaya perakaran menjadi kuat.

Pemupukan disesuaikan dengan rekomendasi  daerah setempat. Pupuk dasar mutlak diberikan untuk memacu pertumbuhan tanaman. Dosis pupuk keseluruhan bila dikehendaki bisa dikurangi sebanyak 25 persen dosis anjuran. Untuk penggunaan pestisida tidak diperlukan karena ikan, itik, dan tanaman refugia berperan sebagai pengendali hayati yang efektif.

Ikan yang cocok dibudidayakan adalah ikan mas atau nila. Ikan disebar 15-20 hari setelah padi ditanam. Ukuran benih ikan 5-8 cm dengan padat penebaran 2.000-3.000 ekor/ha. Lama pemeliharaan dibatasi sampai 45-60 hari setelah padi ditanam. Sebagai pakan tambahan boleh diberikan dedak halus, sisa makanan, dan kotoran ternak. Pemanenan dilakukan dengan cara mengeluarkan air secara perlahan agar ikan berkumpul di caren. Lakukan pada pagi atau sore hari saat temperatur rendah.

Itik yang dianjurkan dalam sistem ini adalah itik jenis lokal unggul agar mudah beradaptasi. Jika tujuannya untuk menghasilkan telur, sebaiknya pilih itik yang telah berumur 4-6 bulan. Itik dimasukkan ke petakan sawah setelah padi berumur 2-3 minggu. Bibit itik tersebut tidak langsung dilepas di areal persawahan, melainkan perlu diadaptasikan terlebih dahulu selama 1-2 hari di kandang yang telah disiapkan sebelumnya. Untuk luasan lahan 1.000 m2 dilepaskan sebanyak 50-70 ekor itik. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa gabah, menir, atau dedak halus sebanyak 2 ons/ekor. Kandang dibuat di dekat lokasi sawah. Itik dikandangkan pada malam hari. Itik dapat dipanen pada umur 75 hari dengan bobot 2-2,5 kg. Hubungan padi dengan itik ini menciptakan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Pada tanaman padi, itik mampu memberikan pupuk berupa kotorannya, membersihkan gulma, dan juga menjadi predator untuk hama keong mas. Sementara dari sisi pemeliharaan itik, biaya pakan untuk itik bisa dihemat hingga 50% karena itik sudah memakan serangga, wereng, keong, dan sebagainya di sawah dengan bebas.

Adanya sistem sawah terpadu antara padi, ikan, itik, dan tanaman refugia ini diharapkan mampu mendukung terciptanya sistem pertanian berkelanjutan, dimana sistem pertanian tersebut mampu mengurangi penggunaan bahan-bahan yang menimbulkan pencemaran, seperti pupuk anorganik, pestisida, dan bahan bakar, serta mampu menjaga keseimbangan ekosistem. (das)

(Sumber Foto: inspirasipertanian.com)

(content partnership IG @amani.jungle, tiktok amani.jungle)

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here