Home Kehutanan Siti Maimunah : Sang Pelopor Hutan Pendidikan Mungkubaru Kalimantan Tengah

Siti Maimunah : Sang Pelopor Hutan Pendidikan Mungkubaru Kalimantan Tengah

Agrozine.id –  Dalam artikel ini Agrozine akan membahas tentang seorang pelopor hutan pendidikan Mungkubaru di Palangkaraya,provinsi Kalimantan Tengah. Seorang perempuan bernama Siti Maimunah adalah akademisi pelopor berdirinya hutan pendidikan Mungkubaru Kalimantan Tengah.

Sebagai seorang akademisi, Siti Maimunah menjadikan hutan pendidikan Mungkubaru menjadi sarana pembelajaran. Melalui program Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang digagasnya pada tahun 2017 lalu Siti Maimunah berhasil melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk meningkatkan perekonomian tanpa harus mengeksploitasi hutan.

Sama seperti kota lain di Kalimantan, Palangkaraya dikelilingi hutan. Salah satu hutan yang masih memiliki keanekaragaman hayati tinggi di Kalimantan Tengah adalah hutan di kelurahan Mungkubaru. Di hutan ini dapat ditemukan beragam spesies tanaman.

Berkat seorang perempuan bernama Siti Maimunah keberadaan hutan Mungkubaru kini lestari. Sebagai seorang akademisi di bidang kehutanan, Siti melakukan aksi pelestarian hutan bukan tanpa upaya. Untuk menuju hutan Mungkubaru,Siti harus menggunakan klotok,perahu kecil yang biasa digunakan sebagai alat transportasi sungai di Kalimantan.

Perjalanan yang harus ditempuh dari pusat kota Palangkaraya tidaklah dekat. Ia harus menempuh jarak sekitar 60 km dari Pelabuhan Takaras. Tak cukup hanya menggunakan klotok, untuk menuju hutan Mungkubaru harus melewati sungai beberapa kali. Air sungai yang berwarna merah menjadi ciri khas di Kalimantan karena tingginya kandungan zat organik yang terlarut dalam kandungan asam humus.

Sebelum Siti melakukan upaya pelestarian dengan membuat hutan pendidikan Mungkubaru, konon pembakaran hutan adalah hal yang lumrah dilakukan di Palangkaraya, sehingga di sepanjang jalan menuju hutan Mungkubaru akan ditemui banyak sisa-sisa pembakaran hutan.

Hutan Pendidikan Mungkubaru digagas oleh Siti Maimunah sejak tahun 2012 lalu yang dibagi menjadi lima zona.

“Yang pertama ada hutan dataran rendah yang didominasi oleh ulin, ke bawah lagi kita akan menemukan huta kerangas. Hutan kerangas pun akan dibedakan menjadi dua hutan kerangas dengan pasir hitam, hutan kerangas dengan pasir putih mempunyai spesifikasi sendiri. Kalau hutan kerangas dengan pasir hitam didominasi oleh tanaman Gymnospemae,ada tanaman yang dikenal dengan nama alal disitu, yang dikatakan pakar kehutanan sudah punah pun ternyata disitu masih ada. Hutan kerangas dengan pasir putih itu didominasi oleh jenis-jenis yang menghasilkan bioenergi seperti nyamplung, kapurnaga dan bintangr. Di sebelahnya lagi hutan rawa,itu didominasi oleh jenis-jenis tanaman dengan pertumbuhan lambat”, jelas Siti seperti dilansir oleh CNN Indonesia.

Di tengah hutan Mungkubaru yang dijadikan Siti sebagai hutan pendidikan ia membangun sebuah camp yang biasa digunakan oleh para peneliti untuk menginap. Siti melakukan pemetaan setiap spesie tanaman yang tumbuh untuk memudahkan identifikasi dan pemetaan, sedangkan untuk memetakan ragam satwa Siti bekerjasama dengan lembaga non pemerintah memasang kamera trap.

Tak hanya sampai disitu, untuk melestarikan tanaman hutan Mungkubar, Siti mendirikan sebuah penangkaran tanaman langka, ia menangkarkan aneka spesies anggrek dan kantong semar yang didapatnya dari hutan.

Melalui program hasil hutan bukan kayu yang digagasnya, Siti mengajak warga setempat untuk terlibat dalam upaya pelestarian hutan. Salah satu warga yang sudah ikut dalam program gagasan Siti ini adalah Armadianto yang dulunya adalah penambang emas di sungai sekitar hutan Mungkubaru kini beralih profesi menjadi pencari getah meranti/damar. Masyarakat yang terlibat dalam program HHBK gagasan Siti kini merasakan peningkatan ekonomi dari hasil hutan tanpa harus merusak hutan.

Atas dedikasinya mempelopori hutan pendidikan Mungkubaru, kini Siti telah meraih berbagai penghargaan dari pemerintah. Pada 2017 ia menjadi nominator penerima kalpataru kategori perintis lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Tak hanya di dalam negeri, Siti Maimunah juga telah mendapat penghargaan di kancah internasional. Ia meraih penghargaan Green Awards dari United State Agency for International Development Indonesia Forest and Climate Support atas kontribusinya dalam mitigasi perubahan iklim di Kalimantan pada tahun 2015. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here