Home Peternakan Smart Farming: Pemodelan Pertanian Berkelanjutan, Produksi Intensif

Smart Farming: Pemodelan Pertanian Berkelanjutan, Produksi Intensif

Pemodelan

Agrozine – Sebagai upaya untuk memastikan pasokan protein hewani berkelanjutan, peneliti Texas A&M AgriLife Dr. Luis Tedeschi menggunakan pemodelan matematika untuk menghubungkan peningkatan efisiensi produksi dalam operasi peternakan dan meminimalisir dampak lingkungan. Tedeschi, ahli gizi ruminansia AgriLife Research dan timnya di departemen ilmu hewan Texas A&M University menerbitkan sebuah makalah pada Scientia tentang intensifikasi ternak berkelanjutan yang berjudul “Modelling a Sustainable Future for Livestock Production.”

Tim peneliti menyimpulkan, konsep smart farming terintegrasi menggunakan sistem padang rumput (pasture systems) inovatif dan alat pendukung keputusan berbasis pemodelan dapat menciptakan sistem peternakan yang lebih berkelanjutan.

Dalam makalahnya, Tedeschi mengatakan, intensifikasi berkelanjutan tidak hanya dihasilkan dari proses biologis dan fisik yang lebih baik. Perbaikan juga memerlukan pengelolaan sistem yang tepat dan canggih, yakni secara terpadu dan holistik. Dengan demikian, sistem pendukung keputusan yang terintegrasi dan berbasis pemodelan dapat menjadi dasar intensifikasi berkelanjutan industri peternakan di masa depan.

Dampak Lingkungan

Dengan sistem produksi pangan yang sebagian besar fokus pada produktivitas dan keuntungan maksimal, terdapat kekhawatiran bahwa perlindungan regenerasi lingkungan tidak menjadi fokus utama tiap produsen. “Dengan populasia dunia yang diperkirakan mencapai 9,55 miliar pada tahun 2050. Tekanan akan semakin tinggi pada produksi pangan global,” kata tim peneliti. “Prosesnya dilakukan sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan tanaman, tanaman, tanah, dan peneliti hewan di seluruh dunia untuk menciptakan solusi yang cepat dan efektif,”

Keberlanjutan tidak harus dipertanyakan dalam bidang nutrisi ternak dan dampak lingkungan. “Kami memahami nutrisi ruminansia yang tepat untuk memahami pakan yang diberikan pada ternak berdampak pada lingkungan. Kami telah mengembangkan model matematika, meskipun belum 100 persen akurat, namun secara pasti dapat memberi tahu dampak tersebut baik atau buruk bagi lingkungan,” ujar Tedeschi.

 

Dampak Pemberian Pakan

Tedeschi mengatakan, pemodelan perlu berkaca pada masa lalu, sekarang dan masa depan serta memperhitungkan perkembangan teknologi canggih seperti remote sensing dan instrumen berbasis lahan, komunikasi, teknologi prakiraan cuaca, teknologi sensor, sistem pendukung keputusan dan alat manajemen lainnya. “Alat ini memungkinkan pengguna mengevaluasi dengan cepat berbagai skenario produksi dan memilih opsi yang dapat diterima, berkelanjutan, dan fleksibel,” jelasnya.

Alat-alat ini membantu produsen ternak mengelola risiko mereka, beradaptasi dengan perubahan lingkungan, membuat keputusan manajemen, bahkan meningkatkan efisiensi dengan sistem otomatis pada beberapa kegiatan, seperti jadwal pemberian pakan dan deteksi penyakit dini. Tedeschi menambahkan, idenya yakni menggabungkan semua konsep produksi ternak, nutrisi, dan keberlanjutan ke dalam model computer.

“Kami membutuhkan fakta aktual tentang produksi ternak dan pengaruhnya terhadap lingkungan dalam hal produksi dan keberlanjutan rumah kaca,” katanya. “Kami melihat banyak perkiraan yang tidak realistis. Kami telah mengerjakan model matematika komputer ini untuk memprediksi efek nyata dari produksi hewan pada lingkungan kita. Kami belajar cara memberi mereka pakan untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan,”

Tedeschi mengatakan, tim penelitiannya telah menciptakan serangkaian model yang ditujukan untuk intensifikasi ternak melalui perbaikan nutrisi hewan. Setiap model memiliki tujuan tertentu, tetapi inti logika kalkulasi dapat digunakan dalam aplikasi dan diterapkan pada operasi peternakan yang beragam, termasuk sapi potong, sapi perah, domba dan kambing. Model nutrisi telah digunakan di seluruh dunia. Secara khusus, model pertumbuhan ternak digunakan oleh industri tempat pemberian pakan di Texas serta operasi peternakan di seluruh dunia. Software ini telah banyak diunduh dan didaftarkan di AS, Meksiko, Kanada, Kolombia, Brasil, Argentina, Inggris, Italia, Turki, Iran, Cina, dan Australia.

 

Pemodelan Smart Farming

“Bila mengganti jumlah pakan tertentu, berapa banyak metana yang akan dihasilkan ternak saya?” Pertanyaan seperti ini, biaya produksi, dan input lingkungan dapat dijawab hanya dengan pemodelan, kata Tedeschi. Pemodelan matematika yang menggunakan sensor telah ada sejak 5-10 tahun terakhir dan memungkinkan ilmuwan mengukur segalanya.

“Kami dapat mengumpulkan informasi dari waktu ke waktu jika diperlukan,” kata Tedeschi. “Apakah hewan tersebut melakukan aktivitas fisik? Kapan dan seberapa cepat hewan itu makan? Seberapa jauh mereka berjalan atau bergerak untuk mendapatkan air? Kita dapat menggunakan semua informasi ini untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan hewan. Kami kemudian membangun informasi tentang iklim dan menghubungkan semuanya bersamaan. Saat mengambil semua informasi ini, kami dapat membuat model artificial intelligence (AI) yang dapat mengidentifikasi hewan mana yang memiliki kinerja lebih baik dalam berbagai situasi,”

Tedeschi mengatakan pada labnya, tim peneliti dapat menggunakan produksi gas vitro untuk menguji kualitas pakan atau padang rumput dan menentukan bagaimana dan kapan harus memberinya pad ternak berdasarkan informasi tersebut. “Hal ini membuat intervensi lebih akurat, dan membuat kita lebih sadar apa yang harus diberikan dibandingkan hanya memberi makan suplemen secara rutin,” katanya.

“Kami dapat meningkatkan produksi sebagai produsen, namun berkelanjutan dan memperhatikan lingkungan,” paparnya. “Kami harus menggunakan semua yang kami ketahui, menggabungkan dan mengoordinasikannya untuk membuat keputusan yang lebih baik yang memungkinkan kelestarian lingkungan, ekonomi, dan sosial,” Tim peneliti menyimpulkan, pengembangan alat ini di masa depan harus memperhitungkan dampak perubahan iklim terhadap kesejahteraan hewan, kebutuhan nutrisinya, dan produktivitas. Alat tersebut juga harus mengakomodasi permintaan konsumen yang meningkat akan makanan berkualitas tinggi dan kaya protein sekaligus meminimalkan jumlah karbon pada lingkungan dan jumlah air yang dikonsumsi ternak. (rin)

Dilansir dari Feedstuffs

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here