Home Perkebunan Strategi Meningkatkan Harga Jual Lada

Strategi Meningkatkan Harga Jual Lada

lada hitam dan putih

Agrozine.id – Lada merupakan komoditas ekspor andalan Indonesia. Khususnya Provinsi Bangka Belitung yang dikenal sebagai penghasil lada terbesar dan terbaik di dunia sejak tahun 2014. Produk lada dari Bangka Belitung ini menguasai 30 hingga 40 persen pasar global. Harga penjualan komoditas produk tersebut yang terus menurun menjadi permasalahan petani setempat. Sementara, lada menjadi salah satu komoditas ekspor yang harganya mengikuti harga internasional. Melihat permasalahan tersebut, Kementerian Pertanian RI mendorong petani lada agar menjual komoditas mereka dalam bentuk kemasan. Strategi ini dinilai dapat meningkatkan harga jual lada.

“Kita harus menyiapkan strategi kalau biasanya selama ini dijual dalam bentuk biji atau curah maka coba kita kemas karena harga jual bisa lebih tinggi,” kata Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Ditjen Perkebunan Kementan Hendratmojo Bagus Hudoro ketika meninjau kebun lada di Belitung, Sabtu (8/8/2020).

Diketahui bahwa harga lada yang masih berbentuk biji atau curah harganya lebih murah jika dibandingkan dengan lada dalam bentuk kemasan bubuk. Dilansir dari ekonomi.bisnis (14/08/2020), saat ini lada yang dijual dalam bentuk curah atau biji harganya Rp 47.000 per kilogram, sedangkan jika dijual dalam bentuk kemasan dan telah melewati proses penyortiran diperkirakan bisa mencapai Rp 70.000 per kilogram.

Dikutip dari medcom.id, Jumat (14/08/2020) Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kasan Muhri memaparkan sejumlah strategi telah disiapkan untuk pemasaran lada, salah satunya dengan diversifikasi produk agar nilai jualnya meningkat sebelum diekspor. Sosialisasi juga terus didorong agar menjadi pengetahuan pelaku usaha terutama petani.

Kasan melanjutkan, pihaknya juga akan meningkatkan harga lada di tingkat hulu untuk kesejahteraan petani melalui pemberian fasilitas pengembangan lada seperti bantuan benih dan sarana produksi.

Langkah tersebut diperkuat dengan memanfaatkan sistem resi gudang (SRG) yang dikelola Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan (Kemendag). Dengan adanya SRG, diharapkan para petani dapat mengoptimalkan kualitas dan kuantitas produk yang disimpan. Sehingga produk akan terjamin dengan baik dan membuat harga jual tetap optimal.

Selain itu, dalam strategi penjualan lada, pemerintah juga membangun koperasi lada, kantor marketing lada, hingga pengembangan pasar lelang berbasis teknologi informasi sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP).

Tidak hanya Pemerintah Pusat saja yang mendongkrak harga lada, melainkan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung saat ini juga sedang berupaya menyusun strategi untuk meningkatkan harga jual lada tersebut. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here