Home Pertanian Tani Organik Merapi, Budidaya Sayuran Organik Hasilkan Omzet Ratusan Juta

Tani Organik Merapi, Budidaya Sayuran Organik Hasilkan Omzet Ratusan Juta

Tani Organik Merapi

Agrozine.id – Tani Organik Merapi (TOM) merupakan sebuah badan usaha yang bergerak di bidang agribisnis organik, agrowisata dan juga penyedia jasa konsultan di bidang pertanian. TOM berlokasi di Dusun Balangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.  Berdiri sejak tahun 2008, kini TOM telah mempunyai cabang di beberapa kota seperti Magelang dan Solo.

Awal mulanya, Tani Organik Merapi didirikan oleh Untung Wijanarko selepas lulus kuliah bersama dengan temannya bernama Sugiyanto. Namun, seiring perjalanan dan semakin banyak permintaan pasar akan sayuran organik, kini jumlah karyawan TOM di pusat Jogja sudah ada 15 orang.

Yuli Dyah Sihanti selaku manajer dari TOM mengatakan jika tujuan dari didirikannya TOM ini adalah untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat.

“Tani Organik Merapi dulu dirintis yang pertama untuk kelestarian lingkungan. Tujuan organik agar lingkungan ini sehat dan masyarakat mau berpola hidup sehat dengan cara mengonsumsi sayuran organik,” jelasnya.

Tani Organik Merapi

Luas lahan TOM pusat yang ada di Yogyakarta yaitu sekitar 1 hektar. Untuk memberdayakan masyarakat sekitar, TOM mempekerjakan masyarakat sekitar untuk menjadi mitra TOM. Diantaranya ada yang menjadi petani, yang menanam jenis tanaman organik,  kemudian menyetorkan hasil tanamnya kepada TOM. Kerjasama yang terjalin dengan mitra petani tersebut konsepnya adalah saling menguntungkan dan terbuka.

“Jadi untuk luas lahan TOM, luas lahan kita sendiri itu ada 1 hektar yang ada disini. Kemudian, kita juga bekerjasama dengan mitra. Jadi luas lahan di mitra, kita ada dua kemitraan, yang pertama itu di Jogja, kemudian yang kedua itu di Magelang di daerah Kopeng. Untuk di Jogja sendiri untuk luas totalnya ada 2,5 hektar. Kemudian, yang di daerah Kopeng itu ada sekitar 6,5 hektar,” ungkap Riyanto, asisten manajer TOM.

Tani Organik Merapi

Saat ini, di Tani Organik Merapi terdapat 37 komoditas sayuran organik yang dibudidayakan. Diantaranya yakni, brokoli, wortel, tomat, buah bit, cabai, terong, bayam hijau, bayam merah, kangkung, selada hijau, selada merah, dan sebagainya.

Dalam satu hari, produksi sayuran yang dihasilkan oleh TOM berbeda-beda tergantung dari jenis sayuran yang dipanen. Biasanya berkisar 10 kg hingga 50 kg per harinya.

Baca Juga : Tips Budidaya Sayuran Organik

Sayuran yang sudah dipanen sebelum dipasarkan harus dikemas terlebih dahulu sesuai dengan standar SNI. Di Tani Organik Merapi itu sendiri sudah terdapat rumah pengemasan yang berstandar SNI. Dimana setiap prosesnya harus menggunakan SOP yang berlaku seperti perempesan sayuran yang kualitasnya tidak baik, kemudian pencucian menggunakan air steril, pengemasan menggunakan plastik yang aman untuk makanan dan ramah lingkungan.

Tani Organik Merapi

“Plastik yang kita gunakan pun itu plastik yang berkualitas nomor satu. Kita menggunakan plastik polypropylene yang itu aman buat sayuran dan dikonsumsi. Kemudian, untuk pengemasan sayuran umbi dan buah itu kita menggunakan plastik wrapping. Kita tidak lagi menggunakan styrofoam untuk alas wrapping kita, tetapi kita gunakan anyaman bambu yang itu lebih jelas aman untuk dikonsumsi dan lebih ramah lingkungan,” jelas Riyanto.

Sayuran organik yang sudah dikemas tersebut lalu dipasarkan ke seluruh supermarket dan beberapa rumah makan khususnya yang ada di Jogja. Para pembeli juga dapat memesan sayuran yang mereka inginkan melalui sosial media TOM.

Sayuran organik lebih tahan lama karena menggunakan pupuk organik serta perawatannya tidak menggunakan bahan kimia. TOM memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan bahan-bahan alami. Namun, karena keterbatasan lahan dan sebagainya, untuk benih TOM saat ini masih membelinya di pabrikan. Sebelum menanamnya, benih diberi perlakuan khusus yakni didaftarkan di Lembaga Sertifikasi Organik Indonesia agar menghasilkan sayuran organik yang berkualitas.

Sampai saat ini omzet dari Tani Organik Merapi sudah mencapai sekitar Rp 200 juta per bulan saat pasar sedang ramai. Akan tetapi, saat hari biasa atau sedang-sedang saja, omset yang didapatkan sekitar Rp 150 juta per bulan.

Baca Juga : Dosen FTIP Unpad: Pemanfaatan Botol Bekas untuk Budidaya Sayuran Hidroponik

Selama kurang lebih 12 tahun berdirinya TOM, tentu tidak lepas dengan adanya kendala dalam budidaya sayuran organik. Secara umum, kendala tersebut yaitu terkait pergantian musim yang berdampak pada produksi sayuran.

Namun, Riyanto masih melihat prospek pertanian organik kedepannya sangat menjanjikan keuntungannya. Mengingat, saat ini TOM hanya bisa membackup sekitar 70% dari kebutuhan supermarket di Jogja, sedangkan permintaannya sangat tinggi hingga belum bisa terpenuhi.

Harapannya kedepan, TOM bisa melebarkan sayap ke seluruh penjuru Indonesia dan semakin banyak masyarakat yang mau mengkonsumsi sayuran organik guna penyelamatan lingkungan dan kesehatan. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here