Home Kehutanan Tantangan Lahan Gambut Kalimantan untuk Padi Berkelanjutan

Tantangan Lahan Gambut Kalimantan untuk Padi Berkelanjutan

Agrozine – Pemanfaatan lahan gambut Kalimantan untuk program lumbung pangan nasional tengah menjadi polemik. Kegagalan seperti pada proyek tahun 1995 dikhawatirkan terulang kembali dan gagal menjadi sumber cadangan pangan. Lahan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman dengan beberapa syarat.  Yang pertama, lahan gambut berada di zona fungsi budidaya seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri LHK tahun 2017. Jika dikembangkan, lahan gambut dangkal dapat menambah pemasukan dan terhindar dari kerusakan.

Kedua, aktivitas budidaya tanaman harus ramah gambut. Petani tidak diperbolehkan merusak ekologi lahan gambut dengan pengeringan, pembakaran, dan pencemaran lingkungan. Walaupun lahan dapat dimanfaatkan dengan mengikuti syarat tersebut, tantangan lahan gambut Kalimantan untuk padi berkelanjutan tetap terpampang nyata. Dari aspek sosial, masyarakat sekitar biasa membakar lahan gambut sebelum ditanam padi. Metode pembakaran dinilai praktis, murah, dan dipercaya dapat menambah kesuburan.

Dengan membakar lahan, tanaman lebat akan mudah dibersihkan. Namun, kebiasaan ini menyumbang emisi karbon besar dan akan membuat gambut hilang jika dilakukan berulang kali. Mengubah kebiasaan membakar merupakan tantangan tersendiri karena keahlian dan keilmuan yang minim. Sedangkan dari sisi tanaman padi, penanamannya di lahan gambut akan menemui kendala ketersediaan air. Pada musim kemarau lahan akan mengering dan tidak ideal untuk tumbuh kembang padi.

 

Peluang dan Tantangan Lahan Gambut Kalimantan

Walaupun menemui banyak tantangan, lahan gambut Kalimantan juga memiliki beberapa peluang untuk padi berkelanjutan. Yang pertama, praktik pertanian harus diterapkan sesuai kaidah pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Pembersihan lahan digunakan dengan cara manual menggunakan parang secara hati-hati agar tidak mengikis lapisan permukaan tanah gambut. Opsi kedua untuk membuat lahan gambut Kalimantan kondusif yaitu melalui pemberian pupuk hayati dan penyubur tanah.

Pada tahun 2017, telah dilakukan uji coba pertanian padi di lahan gambut dengan metode pembersihan lahan manual dan pemberian pupuk hayati. Hasilnya, padi dapat dipanen setelah 102 hari ditanam di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Dari pengujian ini, hasil produksi gabah mencapai 4,5 ton per hektare. Sedangkan pembersihan lahan dengan cara dibakar menghasilkan gabah paling banyak 2,5 ton per hektare. Dalam dua tahun terakhir, masyarakat menerapkan praktik ini dan telah mencetak 10 hektare lahan pertanian padi swadaya tanpa metode membakar.

Peluang kedua yakni dari sisi ekologis. Kedalaman gambut pada pertanian padi tergolong dangkal dan kurang dari satu meter. Sehingga resiko kerusakan lebih rendah dan tingkat kesuburannya relatif lebih tinggi. Ketiga, guna memastikan pertanian padi tidak merusak lahan gambut maka kebasahan lahan selama budidaya harus terjaga. Ketersediaan air untuk tanaman sangat penting, untuk itu berikan sekat-sekat pada wilayah gambut yang dibangun kanal.

Yang keempat, pemilihan varietas padi harus disesuaikan dengan kondisi gambut basah dan tergenang. Varietas padi rawa seperti Inpari 3 dapat dipilih karena tidak perlu melakukan pengeringan lahan gambut. Peluang pertanian padi berkelanjutan di lahan gambut Kalimantan juga harus didukung oleh lembaga dan kementrian terkait. Perihal penyiapan sekat kanal untuk irigasi, Kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) memiliki peranan penting. Sementara Kementerian Pertanian berperan untuk memberikan penyuluhan, penyediaan sarana dan prasarana, dan pengawasan agar metode pertanian yang digunakan ramah gambut. (rin)

Dilansir dari Mongabay

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here