Home Pertanian Dosen IPB University Temukan Teknik Pengeringan Matahari Tanpa Merusak Warna Produk

Dosen IPB University Temukan Teknik Pengeringan Matahari Tanpa Merusak Warna Produk

Agrozine.id – Sejauh ini teknik pengeringan konvensional menggunakan terik matahari masih merupakan cara pengeringan yang paling banyak digunakan. Namun sebagai imbasnya, biasanya teknik ini mengubah warna produk ketika sudah kering. Maka untuk mendapatkan hasil produk kering yang awet,pengeringan perlu menggunakan freeze dryer. Menanggapi permasalahan tersebut, Dr Tjahja Muhandri, seorang dosen dari Departemen Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB University menemukan teknik pengeringan matahari tanpa merusak warna produk.

Teknik pengeringan  matahari yang sederhana ini menggunakan sinar matahari tanpa merusak warna produk. Alat tambahan yang dibutuhkan hanya kipas angin untuk menyempurnakan tekniknya.

Sebenarnya di pasaran sudah tersedia fluidzed bed dryer yang dapat menghasilkan produk kering dengan warna yang relatif utuh. Namun permasalahannya adalah alat ini belum bisa dijangkau oleh semua kalangan masyarakat yang menjalankan industri rumahan baik dari segi ketersediaan pasar maupun dari segi biayanya operasionalnya.

Teknik pengeringan matahari  tersebut ditemukan oleh Dr Tjahja tanpa sengaja selama melakukan aktivitas kesehariannya membersihkan rumah. Ia menemukan dedaunan yang tetap hijau meski sudah berada di dalam wadah selama beberapa minggu, sedangkan daun di wadah lainnya sudah membusuk. Melalui hal tersebut, ia mulai melakukan penelitian dan percobaan untuk menemukan teknik pengeringan sederhana tersebut.

“Angin bermanfaat untuk mencegah peningkatan suhu dan penumpukan uap air secara drastis serta penumpukan zat aktif yang menyebabkan reaksi oksidasi yang menyebabkan produk berubah warna menjadi coklat”, jelas Dr Tjahja.

Baca Juga: Tantangan Generasi Muda Terjun ke Pertanian di AS

“Sekitar 3 minggu sebelumnya saya memangkas pohon-pohon di halaman. Saya meletakkan daun yang dipangkas ke dalam plastik. Dedaunan yang menghijau ini  mulai berwarna coklat dan menghasilkan aroma fermentasi yang khas. Padahal di plastik lain ada tiga daun hijau yang saya campur dengan daun kering dan warnanya tetap hijau”, tambahnya.

Melalui pengamatannya, Dr Tjahja menarik kesimpulan bahwa penyebab daun menjadi berubah warna adalah penumpukan uap air, peningkatan suhu yang drastis dan menyebabkan degradasi klorofil dan penumpukan zat aktif yang dikeluarkan oleh daun segar.

“Dari situ menurut saya artinya proses pengeringan yang kalau kita menghilangkan kelembaban, menurunkan suhu, kita membuang zat aktif dari daun segar agar produk  tidak berwarna coklat”, jelas Dr Tjahja lagi.

Selain sebagai dosen, Dr Tjahja adalah peneliti aktif di Seafast Center dan Tropical Biopharmaca Study Center IPB University. Ia kerap kali mengadakan eksperimen terhadap berbagai hal dan menemukan inovasi baru dari hasil penelitiannya.

Baca Juga: Startup Pheronym Kembangkan Biopestisida untuk Perlindungan Tanaman

“Hari itu saya langsung membeli kipas angin dan kain kasa nyamuk. Saya mengumpulkan bahan-bahan di sekitar rumah seperti daun salam dan seledri dan benar keesokan harinya saat saya amati, daunnya sudah kering dan warnanya tidak berubah”, jelas Dr Tjahja menjelaskan alur percobaan yang ia lakukan untuk mengumpulkan data terkait penelitian teknik pengeringan matahari yang ia lakukan.

Mulai dari segi fisik warnanya bisa dipertahankan, namun teknik pengeringan matahari ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan teknik tersebut tidak hanya mampu mempertahankan warna tetapi juga berbagai zat aktif yang ada di dalam produk. Namun demikian, Dr Tjahja mengatakan teknik ini menjadi harapan yang sangat besar khususnya bagi para pengusaha rumahan atau home industri untuk meningkatkan kualitas produk dengan alat pengering yang sederhana dan tentu dengan biaya operasional yang lebih terjangkau. (ira)

 

Tonton video menarik ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here