Home Hortikultura Teknologi Pascapanen Bawang Merah untuk Pengeringan dan Penyimpanan

Teknologi Pascapanen Bawang Merah untuk Pengeringan dan Penyimpanan

teknologitinggi.files.wordpress.com

Agrozine.id – Bawang merah (Allium cepa L. var ascalonicum Backer) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang menjadi primadona di pasar pertanian. Hal ini tidak mengherankan karena bawang merah berfungsi sebagai salah satu bumbu masakan utama sehari-hari bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia. Jika diasumsikan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini sebanyak 250 juta jiwa maka kebutuhan Indonesia terhadap bawang merah adalah sekitar 690.000 ton/tahun. Pada artikel kali ini, Agrozine akan memperkenalkan teknologi pascapanen bawang merah. Langsung disimak saja ya Sobat Agro.

Masalah utama bawang merah adalah sering menimbulkan fluktuasi harga yang tinggi di pasaran. Sebab, tanaman ini merupakan tanaman musiman sehingga produksinya tidak merata di sepanjang tahun dan adanya kehilangan/kerusakan  yang tinggi hingga mencapai 20-45% akibat penanganan pascapanen yang kurang tepat.

Hasil observasi di lapang menunjukkan bahwa tingkat kehilangan pascapanen bawang merah mencapai lebih dari 45% setelah disimpan selama 2 bulan. Tingkat kehilangan terutama terjadi pada proses pengeringan dan penyimpanan.

Momen kritis kegagalan dalam penanganan pascapanen bawang merah terutama saat panen di musim penghujan, yaitu pada tahap pengeringan daun atau pelayuan serta pengeringan umbi. Kegagalan proses pelayuan daun dapat menyebabkan infeksi bakteri pembusuk. Kegagalan pengeringan umbi dapat menyebabkan rendahnya daya simpan, umbi cepat busuk, bertunas, dan keluar akar.

Kabar baiknya, Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian telah menemukan teknologi yang menjadi solusi dari masalah pengeringan  dan penyimpanan bawang merah, yaitu teknologi Instore Drying. Teknologi ini terbukti mampu mengurangi kerusakan (losses) bawang merah yang sebelumnya sebesar 25% menjadi 16% selama masa penyimpanan selama 8 minggu .

Selama ini teknik pengeringan yang dilakukan petani adalah penjemuran di bawah sinar matahari yang membutuhkan waktu antara 7-9 hari. Pengeringan dengan teknik ini sangat tergantung dengan kondisi cuaca saat penjemuran. Saat suaca cerah penjemuran dapat berlangsung dengan baik. Sebaliknya, saat cuaca mendung atau bahkan hujan, penjemuran sama sekali tidak dapat dilakukan sehingga umbi bawang merah menjadi cepat busuk.

Untuk mengatasi masalah ini, Balai Besar Pascapanen Pertanian mengintroduksikan suatu teknologi sistem pengeringan-penyimpanan (Instore Drying). Dalam sistem ini kondisi ruang dapat diatur sesuai kondisi optimum untuk proses pengeringan-penyimpanan bawang merah.

Bangunan Instore Drying berkapasitas 5-10 ton dengan spesifikasi sebagai berikut:

  • Ukuran bangunan 6m x 6m x 3m
  • Atap bangunan terbuat dari fibre glass transparan yang dilengkapi dengan aerasi udara (ballwindow). Dinding bangunan juga terbuat dari fibre glass.
  • Terdapat rak pengering-penyimpanan berupa rak gantung yang dibuat dari batang bambu.
  • Terdapat tungku pemanas dari kayudan sekam
  • Terdapat 2 buah blower penghisap berkecepatan 1.400 rpm jika curah hujan tinggi.

Pengeringan bawang merah dengan Instore Drying dapat dilakukan dalam waktu 3 hari, lebih cepat dibandingkan dengan pengeringan cara petani (penjemuran) yang bisa mencapai 9 hari. Selain itu, pengeringan bawang merah di dalam Instore Drying juga tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Instore Drying dapat mempertahankan warna dan tekstur bawang merah dan menekan tingkat kerusakannya sekitar 11 persen dibandingkan dengan pengeringan di bawah matahari sekitar 25-30 persen. Dengan teknologi ini, kadar air ideal bawang merah dalam penyimpanan juga bisa tercapai.
Instore Drying yang merupakan gudang pengeringan sekaligus penyimpanan yang sesuai untuk daerah sentra produksi dengan musim hujan tinggi. Kondisi ruangan dapat diatur sesuai kondisi optimum bawang merah. Proses pelayuan dan pengeringan diatur pada suhu 26-30°C dan kelembapan 70-80%.
Bila cuaca cerah, terjadi efek rumah kaca, yaitu gelombang panjang dari sinar matahari akan diubah menjadi gelombang pendek setelah melewati fiber sehingga akan meningkatkan suhu Instore Drying.

Instore Drying berperan penting dalam menstabilkan harga bawang merah. Saat panen raya, petani dapat menyimpan hasil panennya dalam Instore Drying sehingga saat harga telah kondusif petani dapat menjualnya.
Teknologi pascapanen Instore Drying lebih efisien menjaga nilai bawang merah. Tingkat efisiensinya mencapai dua kali lipat dibanding metode konvensional. Inovasi tersebut menjadi harapan baru untuk menjaga kestabilan stok bawang merah nasional, sekaligus mengatasi gejolak harga bawang merah di pasaran. Dengan adanya Instore Drying diharapkan ketersediaan bawang merah dapat terjaga sepanjang tahun dan menjadi salah satu teknologi pascapanen pertanian yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi salah satu lumbung pangan dunia di tahun 2045. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here