Home Populer Upaya Untuk Mengatasi Berkurangnya Keanekaragaman Hayati Global

Upaya Untuk Mengatasi Berkurangnya Keanekaragaman Hayati Global

Agrozine.id – Upaya global untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati terus-menerus dilakukan melalui serangkaian kegiatan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. 20 target keanekaragaman hayati Aichi ditetapkan berdasarkan Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati pada konferensi di Jepang pada tahun 2010. Tujuan diadakannya konferensi tersebut adalah untuk melindungi flora dan fauna yang terancam di dunia pada tahun 2020. Tanpa intervensi seperti itu menurut PBB, sekitar satu juta spesies bisa menghilang dalam beberapa dekade.

170 negara dan wilayah setuju dengan target Aichi untuk membuat strategi konservasi nasional yang mencerminkan atau terkait dengan tujuan Aichi. Namun menurut edisi kelima Global Biodiversity Outlook (GBO) PBB, komunitas internasional secara keseluruhan telah gagal memenuhi bahkan satu target keanekaragaman hayati pada tenggat waktu yang telah ditentukan itu dan tidak ada negara yang berhasil memenuhi semuanya.

Banyak aktivitas yang dilakukan manusia dapat menyusutkan keanekaragaman hayati, termasuk di dalamnya adalah penggundulan hutan, polusi dan masuknya spesies asing. Tujuan Aichi adalah untuk melawan penyusutan tersebut, namun lagi lagi para ahli mengatakan bahwa negara-negara peserta telah gagal menangani masalah konservasi sambil berfokus pada ekonomi mereka dan populasi penduduknya yang meningkat.

Kegagalan untuk menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati sejalan dengan kurangnya kemauan politik negara-negara untuk menjaga pemanasan global di bawah peningkatan dua derajat Celcius seperti yang telah dijanjikan dalam Perjanjian Paris tahun 2015. Bahkan AS secara resmi akan keluar pada 4 November mendatang dan negara tersebut memang tidak pernah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati. Selain itu, meski Cina telah membuat langkah besar untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, menghentikan proyek pembangunan senilai $ 6 triliun, tetap menimbulkan resiko bagi flora dan fauna di dalam dan diluar perbatasannya.

Mengingat kepentingan ini , David Cooper wakil sekretaris eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati dan penulis GBO mengatakan bahwa hasil target Keanekaragaman Hayati Aichi tidak mengalami kemajuan yang mencukupi.

” Terus terang kami kehilangan waktu pada awal dekade ini karena negara-negara mengembangkan target nasional mereka sendiri. Pada pertengahan dekade negara-negara akhirnya memperoleh keuntungan tetapi tidak cukup untuk memenuhi tenggat waktu” kata Cooper. Kita perlu memikirkan tentan apa yang dapat kita lakukan untuk membantu negara-negara memulai lebih cepat dan membangun momentum yang kita miliki sekarang”, tambahnya.

Cooper juga menyalahkan insentif yang merugikan. Pasalnya meskipun banyak negara berhasil memobilisasi sumberdaya keuangan untuk membantu konservasi keanekaragaman hayati, dana tersebut dirusak oleh faktor-faktor seperti subsidi yang mendukung bahan bakar fosil dan penangkapan ikan yang berlebihan” ,katanya.

” Sudah ada kemajuan dalam pencapaian tapi belum cukup untuk mengatasi penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati” kata Cooper. Misalnya subsidi yang terkait dengan perusakan hutan hujan Brasil dan Indonesia jauh lebih besar daripada jumlah yang dihabiskan untuk upaya reboisasi.

Meskipun negara-negara tidak memenuhi tujuan Aichi secara langsung, tapi banyak yang membuat kemajuan yang lumayan. Menurut GBO kelima, hanya 11% target nasional yang tidak mengalami kemajuan berarti. Wilayah pesisir laut, permukaan air dan bawah permukaan serta perairan pedalaman adalah yang mendapat perhatian signifikan dan bisa dibilang menghasilkan perubahan paling konkret.

Ilmuwan dan pembuat kebijakan kini sedang mempertimbangkan cara terbaik untuk bergerak maju dan memperlambat hilangnya keanekaragaman hayati secepat mungkin. Dalam sebuah riset yang diterbitkan di Science Advances, peneliti dari Universitas Tsinghua di Beijing mengusulkan agar negara-negara menargetkan zona hemat biaya (CEZ) yang mencakup nilai konservasi tinggi dengan sedikit dampak pada manusia. Menurut para peneliti bahwa strategi konservasi saat ini memberikan terlalu banyak perhatian pada area dimana kurangnya tindakan konservasi, seperti yang terjadi pada lahan pertanian.

Untuk mengidentifikasi zona yang cocok untuk perlindungan, para peneliti melapisi peta keanekaragaman hayati global dengan yang menunjukkan area dengan dampak manusia yang rendah. Pada tahun 2020, kurang dari seperempat CEZ ini dilindungi.

“Enam negara menempati lebih dari separuh CEZ global — Federasi Rusia, Australia, Kanada, Brasil, Cina, dan Amerika Serikat,” kata Rui Yang, seorang arsitek lanskap di Universitas Tsinghua dan penulis utama studi tersebut.

Perencanaan tata guna lahan yang bijaksana sangat penting, tetapi memperluas populasi manusia dan tekanan selanjutnya pada sistem pangan akan membuat perencanaan menjadi tantangan yang lebih besar, menurut David Leclère, seorang ilmuwan lingkungan di Institut Internasional untuk Analisis Sistem Terapan.

“Meskipun perubahan iklim saat ini mempengaruhi spesies dua hingga tiga kali lebih sedikit daripada perubahan penggunaan lahan, kami tahu ancaman dari perubahan iklim akan meningkat di masa depan,” katanya. “Jika kita mengambil proyeksi paling pesimistis tentang perubahan iklim dan dampaknya, kemungkinan bengkoknya kurva [hilangnya keanekaragaman hayati] sama sekali tidak mungkin dilakukan. (ira)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here