Home Kampus Vaksin Ikan Budidaya dan Isolat Lokal Inovasi Guru Besar IPB University

Vaksin Ikan Budidaya dan Isolat Lokal Inovasi Guru Besar IPB University

Agrozine.id – Kematian massal pada ikan selalu terjadi setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit. Kematian massal pada ikan ini menjadi masalah besar di sektor akuakultur yang mengakibatkan kerugian ekonomi hingga 5,2 triliun per tahun. Sedangkan vaksin ikan budidaya yang tersedia untuk mengatasi masalah ini masih harus didatangkan dari luar negeri dan memiliki resiko berbeda dengan isolat bakteri atau virus di Indonesia sehingga hasilnya tidak efektif.

Melihat permasalahan tersebut, Guru Besar IPB University. Prof Dr Sukenda menjelaskan vaksin untuk budidaya ikan dan isolat lokal yang diisolasi dari ikan sakit saat terjadi wabah merupakan solusi realistis dan prospektif.

Penggunaan isolat lokal juga bisa mengontrol penyebab penyakit pada ikan karena jenis bakteri yang digunakan homolog dengan vaksin yang dibuat. Vaksin Streptococcus iniae berhasil dikembangkan oleh tim peneliti dari Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University. Vaksin tersebut dikembangkan dalam dosis tunggal maupun campuran dan mampu meningkatka kekebalan ikan terhadap infeksi patogen.

baca juga : Perikanan UGM Tebar Benih Ikan di Rawa Kalibayem

Selain vaksin untuk penyakit akibat bakteri, tim peneliti juga mengembangkan vaksin untuk penyakit yang disebabkan infeksi virus atau jamur. Adalah Vaksin Anti Koi Virus Herpes Vaksin anti-KHV DNA yang dapat meningkatkan kekebalan dan melindungi ikan mas ketika terjadi wabah.

Ragamnya penyakit dan jenis ikan budidaya, juga tingkat kerentanan ikan yang berbeda-beda menjadi tantangan dalam pengembangan vaksin. Disamping itu, penggunaan juga dinilai lebih aman jika dibandingkan dengan antibiotik pada budidaya perikanan.

Tim peneliti mengataan ke depannya akan terus dilanjutkan pengembangan vaksin dengan metode penyampaian, evaluasi dan diseminasi sebagai upaya untuk mendukung industri perikanan.

Prof Sukenda menjelaskan ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk metode vaksinasi yaitu injeksi, perendaman dan oral. Metode perendaman dinilai paling praktis karena dapat diterapkan pada benih ikan yang masih rentan terhadap penyakit akibat daya tahan tubuh ikan yang masih belum sempurna.

Terdapat juga metode infiltrasi hiperosmotik yang merupakan modifikasi dari metode perendaman dengan tujuan agar vaksin menjadi efektif, namun masih dalam tahap pengembangan juga dijelaskan oleh Prof Sukenda.

Metode infiltrasi hiperosmotik ini dilakukan menggunakan media yang terbuat dari hipertonik tubuh ikan dengan memberikan kejutan salinitas sehingga besarnya dosis vaksin yang diberikan dapat diserap ikan.

“Dari hasil penelitian menunjukkan vaksinasi ikan nila dengan infiltrasi hiperosmotik menggunakan syok salinitas 20 gram per liter dalam waktu 5 menit mampu meningkatkan perlindungan ikan terhadap bakteri S.agalactiae ” jelas Prof Sukenda.

Selain itu terdapat pula metode vaksinasi ibu yang dilakukan dengan pemindahan kekebalan dari orang tua ke anak. Metode ini dilakukan sebelum pemijahan. Induk ikan yang sudah diberi vaksin kemudian akan membentuk kekebalan yang akan ditransfer ke generasi barunya. Hal tersebut terbukti dengan antibodi yang lebih tinggi dan tingkat kelangsungan hidup ikan dari induk yang divaksinansi dibandingkan dengan yang tidak divaksinasi.  Pengujian vaksin ikan budidaya dan isolat lokal bisa meningkatkan kelangsungan hidup ikan dalam perikanan budidaya. (ira)

 

Tonton video menarik ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here