Home Kampus Vetiver Sebagai Tanaman Konservasi Kawasan Rawan Banjir

Vetiver Sebagai Tanaman Konservasi Kawasan Rawan Banjir

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kanan), Menteri LHK Siti Nurbaya (ketiga kanan) dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (keempat kanan) menanam bibit akar wangi atau vetiver di lokasi terdampak banjir dan tanah longsor Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/2/2020). Penanaman tanaman tersebut untuk mencegah longsor di sekitar lokasi jika cuaca sedang buruk.

Agrozine.id – Dr.Meika Syahbana Rusli dosen departemen teknologi pertanian IPB University sekaligus pendiri dan ketua pelaksana Dewan Atsiri Indonesia (DAI) tahun 2010-2015, melakukan riset terhadap beberapa tanaman yang berpotensi untuk mereduksi longsor dan banjir. Salah satu tanaman yang berpotensi untuk mereduksi longsor adalah akar wangi (Crysopogon zizanoides). Tanaman ini juga dikenal dengan nama vetiver dan telah dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak atsiri dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan parfum dengan harga yang relatif tinggi. Riset ini dilakukan sebagai salah satu upaya tanggap darurat daerah yang dilanda banjir dan longsor. Saat ini telah ditetapkan vetiver sebagai tanaman konservasi untuk kawasan rawan banjir.

Secara ekonomi, minyak atsiri merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia. Selain itu vetiver dapat menjadi tanaman konservasi tanah dan air karena memiliki banyak akar dan panjangnya bisa mencapai dua hingga tiga meter.

Tanaman akar wangi atau vetiver juga dikenal memiliki kekuatan tarik (tensile strength) 1/6 dari zat besi sehingga bila diintegrasikan dengan tanah dapat membentuk matriks yang membuat struktur tanah menjadi kokoh. “Dengan kemampuan membentuk matriks tanah yang kokoh,tanaman akar wangi dapat bermanfaat sebagai pencegah longsor”, jelas Dr Meika.

Lebih lanjut Dr Meika menjelaskan bahwa pemanfaatan vetiver hanya fokus pada satu fungsi yaitu konservasi atau produksi minyak atsiri. Hal ini memperhitungkan perbedaan waktu tanam yang dibutuhkan dan waktu panen akar tanaman. Jika semua akar tanaman dicabut maka dapat merusak kekokohan struktur tanah yang telah terbentuk.

Tanaman vetiver memiliki kelebihan yaitu mudah tumbuh dan jika tanaman sudah berumur satu tahun minyaknya sudah bisa diambil. Namun untuk kepentingan konservasi tanah atau lahan akan membutuhkan waktu 3-4 tahun tergantung tanaman. kondisi tanah.

Di Indonesia budidaya akar wangi saat ini lebih banyak digunakan untuk memproduksi minyak atsiri dan sebagai produk kerajinan dari akar wangi yang telah dikeringkan. Namun jika budidaya tanaman ini dilakukan secara tumpangsari peluang kedua tujuan untuk produksi dan konservasi dapat dipadukan.

Lebih lanjut Dr. Meika menyampaikan harapannya agar perhatian terhadap budidaya tanaman penghasil minyak atsiri ini  semakin meningkat. “Apalagi di sisi lain kami juga prihatin dengan kondisi kerusakan lingkungan yang mengakibatkan banjir, sehingga perlu adanya integrasi”, ungkapnya.

Harapan agar vetiver sebagai tanaman konservasi juga mendapat perhatian untuk kegiatan budidaya.“Harapan saya, bisa ditemukan sistem tumpang sari yang memungkinkan akar wangi (vetiver) bisa menjadi tanaman konservasi dan setelah jangka waktu tertentu sudah bisa dipanen untuk penggunaan minyak atsiri. Ini menjadi tantangan bagi IPB University untuk menemukan pola tumpang sari yang cocok sehingga bisa dapat memberikan nilai ekonomi dan nilai lingkungan pada produk akar wangi ini,” tutur Dr Meika. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here