Home Kampus Webinar PATANI: Kewirausahaan Pertanian Alumni UNPAD

Webinar PATANI: Kewirausahaan Pertanian Alumni UNPAD

Agrozine.id – Apa tujuan mulia kamu dalam membangun bisnis? Empat alumni Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran membagikan ceritanya. Masing-masing memiliki noble purpose nya sendiri, dengan harapan bisnisnya bisa bermanfaat bagi orang lain. Pada Sabtu (18/7) pukul 15.30 WIB diselenggarakan webinar kerjasama BEM KMFP (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian) dengan PATANI Indonesia via platform Zoom dan Live Youtube PATANI bertema ‘Kewirausahaan Pertanian’. Didirikan lulusan Faperta Unpad, PATANI merupakan ruang kolaborasi untuk mewujudkan pertanian alternatif yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dalam event ini, hadir pula para dosen, mahasiswa, dan alumni Faperta Unpad. Kemudian, Kepala Bidang Ekonomi dan Kemitraan BEM KFMP Ignatia Putri, selaku moderator memperkenalkan pembicara pertama. Djaka Padmaprasetya, lulusan prodi Agroteknologi 2010 merupakan seorang Co-Founder dan COO Inagri, supplier sayur dan buah online. Tak terasa sudah empat tahun Djaka bergelut di bidang pertanian digital. Sebelum memulai Inagri, pria asal Bandung ini mencoba peluang bisnis ternak lele dan kudapan cilok. Sayangnya, Djaka belum begitu paham manajemen bisnis. Ia mengikuti pesan ibunya untuk bekerja di perusahaan dan menggali ilmu bisnis.

“Saya kira bisnis hanya sekedar jual beli, ternyata banyak hal kompleks yang harus dipelajari,”sambung Djaka. Pada tahun 2016, ia mengawali karirnya di Alamanda Farm, eksportir buah dan sayur sebagai staff gudang. Tak lama, Djaka pindah ke bagian lapangan sebagai Field Officer dan berkoordinasi dengan petani, membuat pola tanam untuk pemenuhan purchase order. Karena satu hal dan lainnya, Djaka mengundurkan diri dan mengikuti berbagai event yang dihelat di kampus.

Djaka mengikuti program Wirausaha Muda Pertanian yang diadakan Kementrian Pertanian. Dari program tersebut, Djaka mendapatkan modal awal sebesar 30 juta untuk memulai bisnis bersama tiga temannya. Daerah Dago, Bandung dipilih sebagai lokasi kebun dengan buncis kenya sebagai komoditas yang dibudidayakan. “Alhamdulillah produksinya lumayan, tapi menemui batu sandungan lagi untuk belajar,”ujar Djaka.

Image for post

Pada akhir tahun 2016, Djaka mengamati perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Ia menyadari sebuah peluang bisnis yang memungkinkan produk pertanian digabungkan dengan konsep digital. Ia kemudian mengajak seorang temannya yang memiliki latar belakang IT untuk membentuk Inagri dengan visi “empowering business to grow”. Kini, Inagri telah tumbuh dan berkembang dan melayani pemesanan via Whatsapp untuk keperluan rumah tangga juga horeka (hotel, resto, dan café). “Fokus Inagri adalah pemasaran digital, bagaimana caranya kita memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang seluas-luasnya,”tutup Djaka.

Pembicara kedua merupakan seorang lulusan Agroteknologi 2009 yang menekuni hobinya. Muhammad Rizqi, atau yang akrab disapa Faqot merupakan seorang owner dan Head Manager Balad Coffee. Rizqi memilih Jatinangor sebagai lokasi bisnis karena sentimen emosi dan rasa nyaman yang terbentuk selama berkuliah disana. Ia memang hobi ngopi, biasa menggiling kopi nya dengan alat sendiri dan kerap membagikan kopi ke teman-temannya. “Alat penggiling diletakkan di sekre, tujuannya untuk berbagi rasa saat minum kopi,”ujar Rizqi.

Rizqi mengambil langkah serius untuk meneruskan hobinya. Bersama empat temannya dari Faperta yang hobi ngopi, Rizqi membuka stand jualan di tengah pemukiman warga di Cibiru, Bandung. Sayangnya, usaha Rizqi dan teman-temannya tidak berlangsung lama karena tidak disambut baik warga. “Ya udah kita bikin coffee shop, kita tak punya modal jualan dan mengandalkan duit pribadi,”kata Rizki. Pada Agustus 2016, Balad Coffee lahir saat keberadaan coffee shop di Jatinangor masih langka.

Lokasi pertama Balad Coffee terletak di Jalan Raya Jatinangor-Bandung, tidak jauh dari kampus. Sementara di lokasi kedua, Rizqi kolaborasi dengan Dr Cepi Nasehi, dosen Faperta yang mempunyai tempat kos-kosan di daerah Kampung Geulis, Jatinangor. Rizqi mengaku harus menyesuaikan harga dengan dompet mahasiswa, terlebih ada kalanya Jatinangor sepi karena libur semester dan lebaran. “Bisa dibilang satu tahun setelah buka tidak makan, asal bisnis bisa jalan. Kita belajar dari proses, sampai sekarang pun masih terus belajar,”tambahnya. Seiring merebaknya pandemi Covid 19, Balad Coffee terpaksa tutup dan beradaptasi dengan keadaan. Balad Coffee kini menerima pesanan pre-order untuk dikirimkan ke Jabodetabek dan Bandung juga untuk keperluan catering dan private event.

Nasrul Hakim, seorang lulusan Agroteknologi 2009 menjadi pembicara ketiga dalam webinar ini. Nasrul merupakan owner Kahfi Farm yang dikukuhkan Kementerian Pertanian sebagai salah satu Duta Petani Milenial. Ia telah merintis usaha jauh sebelum kuliah yakni saat SMP melalui bisnis percetakan. Nasrul merupakan teman baik Faqot, yang mengajaknya untuk kuliah di Faperta Unpad. Latar belakangnya sebagai lulusan jurusan IT SMKN 1 Cimahi membuat teman-teman seangkatan meledeknya. “Suatu hari dunia akan dikuasai teknologi digital. Begitu pula bisnis pertanian yang tidak akan mati selama manusia membutuhkan makanan,”jelas Nasrul.

Semasa kuliah, Nasrul aktif dalam perhimpunan Klinik Tanaman dan sering mengunjungi daerah Arjasari, Sumedang. Ia melihat potensi bisnis pertanian dan memikirkan cara untuk meningkatkan value pertanian sebagai mahasiswa. Bersama teman kuliah, Nasrul mencoba bisnis pertanian organik. Sayangnya, hal ini dirasa berat bagi mahasiswa dari segi aset, fokus, dan pengolahan lahan. Ia mencoba proyek tanaman hias dan bisnis on-farm melalui Kahfi Farm setelah menikah. “Apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar? Saya belajar menemukan value dan mencoba menanam ubi cilembu,”ujarnya.

Kini, komoditas seperti pisang rajapulu, jagung manis, terong ungu, cabe, dan mentimun menjadi unggulan Kahfi Farm. Nasrul memiliki 10 titik lokasi kebun di daerah Arjasari dan Balaendah dengan segmentasi pasar lokal, ritel, hingga ekspor ke Singapura dan Hongkong. “Kalau segmentasi pasar ekspor grade nya sedikit berbeda, kemulusan dan keseragaman diperhatikan.  Kami juga bekerjasama dengan Bimandiri dan toko oleh-oleh di daerah Purwakarta, Cikopo, Subang, dan lainnya,”kata Nasrul. Saat ini Nasrul mulai merambah e-commerce melalui platform AGretail. Menurutnya, kebutuhan pangan masyarakat ditengah pandemi harus tetap terpenuhi.

Giliran Andro Tunggul Namuretha, lulusan Agroteknologi 2008 yang membagikan ceritanya. Andro merupakan seorang petani yang mendirikan Fruitable Farm di Bogor. Sejak semester 3 Andro menaruh perhatian terhadap inovasi pertanian, ia dan teman-temannya mengikuti PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) untuk membuat kerajinan dari limbah pisang dan berhasil masuk PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional). Ide ini tidak ia lanjutkan, Andro beralih ke bisnis travel yang sempat jalan selama dua tahun.

Andro menemukan turning point selama rutin bimbingan ke kampus. “Sempat dilema, setelah lulus kuliah melanjutkan bisnis travel atau bertani sebagai lulusan pertanian,”ujarnya. Andro kemudian membagikan empat pendekatan yang mendasari pilihannya untuk memulai bisnis pertanian. “Yang pertama idealisme. Selama ngobrol dengan dosen dan teman-teman, rasanya sayang sudah belajar bertahun-tahun di Faperta tapi tidak melanjutkan ke bidang pertanian,”katanya. “Lalu, pendekatan agama. Misalnya produk kangkung yang kita tanam dimakan oleh dokter yang menyembuhkan pasien. Maka ada nilai keberkahan disana,”jelas Andro.

Pendekatan ketiga yaitu prospek bisnis. Bisnis pertanian harus dilanjutkan oleh petani muda. “Dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta orang yang makan 2 kali sehari, maka ada 540 juta piring yang bergantung dari petani,”menurutnya. Pendekatan lingkungan juga menjadi perhatiannya, bagaimana cara manusia membangun relasi dengan alam dengan kondisi bumi yang sudah tua. Andro sadar kesehatan tanah semakin rapuh karena penggunaan pestisida. Pada tahun 2015, ia bersama empat orang temannya memulai Fruitable Farm yang mengadopsi sistem hidroponik. Selain produk sayur seperti kangkung dan pakcoy yang menjadi komoditas unggulan, Fruitable Farm juga menyediakan jasa re-instalasi dan edukasi hidroponik.

Keempat pembicara memegang noble purpose yang sama dalam membangun bisnis. “Bagaimana manusia bisa bermanfaat bagi sesamanya”, jelas Nasrul. Masing-masing juga membagikan tips untuk mahasiswa dan lulusan Faperta yang akan memulai bisnis. Djaka menegaskan untuk menanamkan niat dan tujuan, agar tidak hanya mengejar materi semata. “Akan ada masa nya ingin mundur, jangan bosan untuk belajar. Buatlah catatan keuangan yang baik, perhatikan teknik marketing dan bangun relasi dengan mitra,”ujar Djaka. Nasrul menambahkan hal serupa, “Pencatatan keuangan penting untuk bisnis, begitu pula manajemen resiko. Penting untuk bertemu orang baru, lakukan kolaborasi,”jelasnya.

Andro juga membagikan tipsnya, “Penting untuk memiliki mental yang baik, pikiran yang baik, agar selalu memiliki passion untuk belajar,”. Menurutnya dalam memulai bisnis, visi dan misi harus matang dan jujur dalam berkarya. Jika benar paham akhirnya seperti apa, maka akan memiliki pijakan bisnis yang tepat. Rizqi menambahkan, segi kualitas menjadi tolak ukur suatu bisnis.  “Ketika kita memberikan kualitas baik, pasar akan mengerti value suatu produk. Berbeda jika kita mengejar kuantitas yang tidak pernah ada habisnya,”tutup Rizqi. (rin)

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here