Home Kampus Mahasiswa Fapet UB: Pemanfaatan Batok Kelapa Menjadi Pestisida

Mahasiswa Fapet UB: Pemanfaatan Batok Kelapa Menjadi Pestisida

batok kelapa untuk pestisida

Agrozine.id – Daging buah kelapa merupakan komponen utama yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk turunan. Dalam proses pengolahannya, buah kelapa menghasilkan tempurung yang dianggap sebagai limbah sisa. Namun siapa sangka, batok kelapa ternyata bisa digunakan sebagai pestisida yang berguna untuk menbasmi hama.

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) yaitu Wakhidatul bersama empat temannya Maulana A’inul Yaqin, Bakti Pertiwi Purnama Sari, Yohana Christine Tiurma Manurung, dan Muhammad Usman Sihab berinovasi membuat pestisida dari limbah batok kelapa tersebut. Mereka melakukan program sosialisasi dan pelatihan secara bertahap melalui media online untuk menangani masalah limbah organik khususnya batok kelapa di Desa Sutojayan.

Limbah batok kelapa sengaja dipilih menjadi bahan utama karena desa Sutojayan, Kabupaten Blitar merupakan daerah dengan lahan pertanian yang luas, dan jumlah pohon kelapa yang melimpah. Diketahui limbah batok di Desa Sutojayan mencapai 15 ton per-tahun. Namun sebagian masyarakat hanya memanfaatkan limbah tersebut sebagai kerajinan tangan, bahan bakar gamping, dan sisanya dibuang ke TPA.

Dikutip dari berita UB (19/09/2020), salah satu perwakilan tim Wakhidatul Fitriyah mengatakan, “Padahal batok kelapa memiliki kandungan Lignin, selulosa, hemiselulosa dan sumber karbon, yang dapat dijadikan  bahan baku pembuatan asap cair”.

Program pelatihan yang dinamakan LIKE-TOK tersebut, bertujuan memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat dalam produksi asap cair dan produk samping berupa briket untuk meningkatkan dan memberdayakan kesejahteraan masyarakat. Selain itu program LIKE-TOK dapat menciptakan kelompok tani yang mandiri.

“Prosesnya dilakukan dengan alat pirolisis. Dengan alat ini akan dilakukan proses pembakaran batok kelapa dengan suhu kurang lebih 400 derajat Celcius selama 3-6 jam. Setelah proses pembakaran akan terjadi destilasi uap dan terjadi proses kondensasi dan terbentuklah asap cair. Asap cair inilah nanti yang akan digunakan untuk bahan Petsida,”kata Wahidatul.

Dalam upaua mengurangi pencemaran lingkungan, asap cair dari batok kelapa bisa memberdayakan dan  meningkatkatkan ekonomi masyarakat Desa Sutojayan dengan penjualan produk pestisida asap cair dan pupuk karbon sebesar Rp 5.519.900 per bulan.

Dia menambahkan, program LIKE-TOK akan terus berlanjut dan akan terus dikembangkan untuk mencapai peningkatan kesejahteraan dan mengurangi permasalahan limbah Desa Sutojayan. Misalnya saja terkait penjualan secara online dengan menggunakan e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas, serta bekerja sama dengan toko penjualan bahan pertanian dan dinas pemerintahan terkait. (ran)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here