Home Biodiversitas Burung Kukuk, Berperilaku “Nyleneh”, Tetapi Disukai Petani

Burung Kukuk, Berperilaku “Nyleneh”, Tetapi Disukai Petani

plantura.garden

Agrozine Burung Kukuk atau dalam bahasa inggris disebut cuckoo ini bernama latin Cuculus Canorus. Burung ini menyerupai burung elang, terutama pada dada dan ekor, begitu pula suaranya. Nama “kukuk” berasal dari suara yang dibuat burung untuk berkomunikasi dengan kawanan, mengungkapkan kebutuhan, atau mempertahankan diri dari pemangsa.

Habitat burung ini berada di daerah beriklim tropis dan sedang, seperti di Australia, Asia, Eropa, hingga Afrika. Burung ini melalui proses migrasi yang cukup lama. Biasanya, burung ini hidup di daerah dingin di Eropa, lalu menempuh perjalanan jauh ke Afrika untuk mendapatkan tempat yang lebih hangat. Selain di hutan tropis, kukuk juga sering ditemukan di perkebunan.

Burung ini memiliki corak yang beragam, mulai abu-abu, jingga, cokelat, hingga hijau. Warnanya yang mirip dengan burung lain membantu mereka menyusupkan telur dan “mengusir” burung lain dari sarangnya. Ukuran tubuhnya bisa mencapai 5 hingga 25 inci atau sedikit lebih besar dari merpati. Kecepatan terbang kukuk bisa mencapai 60 km/jam dan sanggup menempuh jarak sejauh 12 ribu km.

Burung yang jauh lebih besar dan predator dapat menjadi ancaman mematikan bagi burung kukuk, terutama di habitat yang berbagi dengan elang atau burung nasar. Kehadiran beberapa rubah, musang, dan lynch bisa menjadi ancaman bagi kukuk.

Makanan utama burung kukuk adalah tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Burung ini juga mengkonsumsi serangga dan parasit lain yang merupakan sumber protein bagi tubuh mereka, contohnya capung, kupu-kupu, belalang, laba-laba, ngengat, lalat, ulat. Burung ini juga memangsa kadal dan ular.

Burung ini bisa beradaptasi dengan kondisi iklim lingkungan, tetapi kemampuan untuk menahan suhu yang sangat rendah terbatas sehingga kukuk bermigrasi ke tempat yang lebih hangat saat musim dingin.

Burung ini menyukai pohon dengan daun kering karena mudah untuk berkamuflase dengan bulunya. Mereka biasanya mencari tempat berlubang untuk tinggal di dalamnya dalam jangka waktu yang lama.

Burung kukuk jantan harus merayu betinanya dengan membawakan dedaunan dan makanan. Setelah upaya yang cukup lama, pejantan bisa bereproduksi dengan sang betina.

Ketika masa inkubasi betina dimulai, dia bersembunyi di antara pepohonan untuk mencari sarang burung lain untuk bertelur. Dia menunggu burung betina lain itu bertelur. Saat burung betina lain itu pergi mencari makanan, kukuk betina mendatangi sarangnya. Dia menjatuhkan salah satu telur betina lainnya itu ke tanah agar tidak terlihat perubahan yang dia buat di sarangnya. Kemudian, kukuk betina bertelur dan pergi, meninggalkan telurnya di sarang calon induk angkat anaknya. Oleh karena kebiasaannya menyelundupkan telurnya di sarang burung lain, burung ini dikenal sebagai burung parasit.

Jadi, telur burung ini dierami hingga menetas oleh induk burung lain, bahkan diberi makan pula oleh induk burung lain hingga anak kukuk bisa mencari makan sendiri. Jika betina memiliki dua telur, akan disimpan di sarang yang berbeda. Telurnya bisa diselundupkan pada 100 jenis burung lain.

Perilaku nyleneh burung ini tak cuma sampai di situ. Anak burung kukuk setelah berusia sekitar 10 hari, melemparkan anak-anak induk angkatnya sendiri agar ia menjadi satu-satunya yang diberi makan dan dirawat. Sangat unik, bukan?

Meski perilakunya nyleneh, para petani menyukai kehadiran kukuk di sekitar tanaman mereka. Sebab, burung ini dapat diandalkan untuk membasmi hama yang mengancam tanaman para petani.

Demikianlah informasi tentang burung kukuk. Semoga bermanfaat dan menambah rasa cinta kamu pada alam sehingga termotivasi untuk menjaga kelestariannya. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here