Home Ikan Hias Ikan Zebra, Ikan Hias Air Tawar Yang Suka Berkelompok

Ikan Zebra, Ikan Hias Air Tawar Yang Suka Berkelompok

inaturalist.org

Agrozine – Kalau di daratan ada kuda zebra maka di perairan ada ikan zebra. Ikan ini adalah salah satu spesies ikan bermarga Danio dari keluarga Siprinide. Nama ikan ini didasari oleh adanya garis-garis pigmen horizontal pada tubuhnya. Ikan ini bernama ilmiah Danio rerio. Nama ilmiah ikan ini diberikan pada tahun 1822 oleh Francis Hamilton, seorang dokter berkebangsaan Skotlandia yang bekerja sebagai peneliti di bidang biologi untuk Perusahaan Hindia Timur Britania.

Habitat asli ikan zebra berada di negara-negara kawasan Asia Selatan, yaitu Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, dan Bhutan. Selain di Asia Selatan, ikan ini juga ditemukan di kawasan Asia Tenggara, yaitu di negara Myanmar. Ikan ini terdistribusi secara luas di perairan dangkal yang arusnya mengalir pelan di anak benua India.

Pada umumnya ikan zebra hidup di sungai yang arusnya mengalir pelan. Ikan ini suka berada di dalam air dengan permukaan tanah yang tertutup oleh pasir, lanau, atau kerikil. Jenis habitat ini banyak ditemukan pada percabangan antara anak sungai dan sungai utama. Habitat ini juga ditemukan pada persawahan hijau dan lahan basah.

Ikan zebra dapat hidup di alam liar pada kisaran suhu 6 °C hingga 38,6 °C. Ikan ini juga ditemukan pada ketinggian 8 hingga 1.576 meter di atas permukaan laut. Tingkat pH (derajat keasaman) di habitat alaminya berkisar antara 5,9 hingga 9,8.

Panjang tubuh ikan zebra dewasa dapat mencapai 3–5 cm. Permukaan tubuh ikan ini ditutupi oleh suatu pola khas yang memadukan antara warna gelap dan warna terang. Garis-garis yang berwarna gelap sebagian besar menampakkan warna biru kehitaman, sedangkan garis-garis yang terang menampakkan warna jingga kekuningan. Kedua garis ini membentang dari kepala hingga ke sirip ekor. Sel melanofor yang menghasilkan melanin merupakan sel yang menimbulkan warna gelap, sedangkan warna terang dihasilkan oleh xantofor yang mengandung pigmen pteridin dan karotenoid.

Warna-warna lain yang terlihat pada tubuh ikan zebra dihasilkan oleh trombosit di dalam sel pigmen irodofor. Trombosit ini mengandung guanin yang berlimpah. Tubuh ikan ini juga memiliki tulang belakang, insang berongga, dan kantung apung, serta sirip yang terbentuk dari duri-duri bertulang. Ikan ini memiliki lima jenis sirip. Sirip-sirip tersebut yaitu sirip dada, sirip panggul, sirip punggung, sirip anal, dan sirip ekor. Pada sirip-sirip ikan zebra tidak ditemukan otot-otot penggerak.

Bentuk tubuh ikan zebra jantan lebih kurus dari betinanya dan menyerupai bentuk torpedo. Pejantan juga ditandai dengan adanya warna emas pada bagian perut dan seluruh sirip. Pada saat musim kawin, ikan yang melakukan pengejaran adalah pejantan. Ikan betinanya terlihat lebih gemuk dan tidak memiliki warna emas pada bagian bawah perutnya.

Tubuh ikan zebra terdiri dari mata, mulut, otak, organ-organ pencernaan, hidung, otot, darah, tulang, dan gigi. Ikan ini memiliki indera penglihatan yang baik serta memiliki telinga dan gurat sisi sebagai organ penyensor gerakan. Penciuman ikan zebra berfungsi sebagai sensor tanda akan adanya bahaya dan sebagai isyarat kekerabatan.

Ikan ini suka membentuk kawanan dan kelompok-kelompok yang mempunyai penampilan dan tingkah laku yang serupa. Kawanan ikan ini memiliki fungsi anti-pemangsa. Ketika tubuhnya mengalami cedera, seekor ikan zebra akan mengeluarkan feromon yang menjadi pertanda bahaya bagi ikan lainnya. Adanya bahaya ditandai dengan perilaku merapatkan jarak antar anggota kawanan, berenang secara tidak teratur, dan melakukan banyak agresi.

Ikan zebra merupakan salah satu jenis ikan omnivora. Makanan ikan ini berupa organisme hidup yang berukuran lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Zooplankton dan lalat menjadi makanan utama ikan zebra di habitat alaminya. Selain itu, ikan ini juga memakan fitoplankton, alga berserat, tumbuhan vaskular, lalat, dan telur krustasea. Sistem pencernaan makanannya berupa usus panjang yang dapat mencerna makanan dalam jumlah yang banyak.

Pemangsa utama bagi ikan zebra dewasa adalah ikan kepala ular, ikan gabus, dan ikan jarum air tawar. Belut berduri merupakan pemangsa utama embrio dan telur ikan ini. Pada dataran banjir di anak benua India, bangau tambak India, blekok India, dan raja udang merupakan pemangsa utama ikan ini. Parasit yang paling sering ditemui pada tubuh ikan ini adalah Pseudoloma neurophilia. Tubuh ikan yang terinfeksi oleh parasit ini akan terlihat berwarna gelap, kurus, dan pergerakannya melambat.

Ikan zebra memiliki telinga dan organ gurat sisi berupa garis lateral yang berfungsi sebagai sistem sensor gerakan. Garis lateral ini berfungsi untuk mengetahui adanya getaran yang timbul di dalam air. Fungsi keseimbangan tubuh dan pendengaran dilakukan oleh telinga. Ikan ini hanya memiliki telinga dalam yang terhubung langsung dengan kantung renang dan tulang-tulang kecil. Indera penglihatan ikan ini mampu melihat warna merah, hijau, dan biru, serta cahaya ultraungu. Penciuman ikan ini berfungsi sebagai sensor tanda akan adanya bahaya dan isyarat kekerabatan, serta berfungsi untuk mencari makanan dan mencium bau feromon pada masa perkawinan.

Musim kawin ikan zebra di alam liar berkaitan dengan kelangsungan musim hujan dan ketersediaan makanan di lingkungan hidupnya. Di laboratorium, ikan ini dapat melakukan reproduksi sepanjang tahun dengan diberi penyinaran selama 12–14 jam sehari. Awal perkawinan ditandai dengan aksi saling kejar antara hewan jantan dan betina. Berlangsungnya perkawinan ditandai dengan pejantan yang berulang kali mencium bagian tubuh betinanya dengan mulutnya. Berakhirnya perkawinan ditandai dengan pejantan yang mengawal betinanya menuju ke tempat pemijahan.

Sebagian besar pemijahan dilakukan oleh pasangan ikan zebra secara terpisah dari kawanan. Ikan betina akan memilih situs pemijahan yang dekat dengan sumber makanan dan menjaga situs pemijahannya dari pasangan ikan lainnya. Pemijahan berlangsung selama 30 menit. Setelah pemijahan selesai, pasangan ikan ini akan berenang dengan perlahan di sekitar tempat pemijahannya.

Para pejantan ikan zebra tidak memiliki perilaku reproduksi yang sama. Sebagian besar pejantan aktif selama masa reproduksi, tetapi hanya sebagian kecil yang melakukan pembuahan telur ke ikan betina pasangannya. Sebagian besar reproduksi ikan ini dilakukan oleh satu pasangan pejantan dan satu betina yang sama. Ikan betina yang melakukan reproduksi dengan lebih dari satu pejantan sangat jarang terjadi. Selama reproduksi, pejantan selalu aktif melakukan gerakan bolak-balik dan berputar-putar.

Siklus hidup ikan zebra dimulai dari tahap embrio, larva, ikan muda, hingga ke tahap ikan dewasa. Tahap embrio berlangsung selama 0–3 hari setelah pembuahan. Setelah tahap embrio selesai, ikan zebra berada di tahap larva. Tahap larva terbagi dua, yaitu tahap larva muda dan tahap larva akhir yang masing-masing berlangsung selama 3–13 hari dan 14–29 hari setelah pembuahan. Larva akan berubah bentuk menjadi ikan muda pada usia satu bulan setelah pembuahan. Tahap ikan muda berlangsung hingga tiga atau empat bulan. Tahap dewasa pada ikan zebra ditandai dengan matangnya organ reproduksi.

Demikian pengenalan tentang ikan zebra. Semoga bermanfaat dan memotivasi kamu untuk turut serta melestarikannya. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here