Home Pertanian Kebun Tin Pekanbaru: Bermula dari Hobi dan Niat Menolong Sesama

Kebun Tin Pekanbaru: Bermula dari Hobi dan Niat Menolong Sesama

Agrozine – Bermula dari hobi bertani, Imran Sutiono telah menanam buah tin sejak lima tahun lalu. Buah ini sempat booming di Indonesia pada tahun 2013, ia mulai menanam satu tahun berikutnya. Menurut Imran, masih banyak manfaat yang harus digali lebih lanjut dari buah yang disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an dan Injil ini. Saat akan menyerah karena tanamannya ludes diserang hama penggerek batang, sebuah keluarga meminta bantuan Imran untuk menemukan bibit tin untuk pengobatan diabetes. Saat itu pula, Imran merasa ini merupakan jalannya untuk membantu orang lain dan terpikir untuk membuat usaha yang lebih matang. Simak ulasan wawancara redaksi Agrozine bersama Imran Sutiono, petani tin dan Founder dari Kebun Tin Pekanbaru yang berlokasi Jalan Pisang 4 Nomor 3 Pekanbaru.

 

Awal Terbentuk Kebun Tin Pekanbaru

Sebelum memulai usaha ini, Imran bekerja di PT Chevron Pacific Indonesia dan bertugas di Duri. Ia mulai pindah ke Pekanbaru pada tahun 2016 dan membawa sekitar 20-30 bibit tin yang telah ditanamnya. Sayangnya, semua tanaman yang telah berusia 2-3 tahun musnah karena hama ulat penggerek batang. Belum adanya green house juga menjadi salah satu faktor penyebab. “Kalau sekarang harganya sudah normal. Pada awal booming, 1 batang yang berukuran 20 cm bisa seharga Rp 20 juta. Dulu saat saya beli bibit kecil bisa mencapai Rp 1 juta namun belum tentu hidup, karena saat itu masih belajar,” ungkap lulusan D3 Instrumentasi Elektronika Universitas Indonesia ini.

Imran mulai menabung untuk membuat green house Kebun Tin Pekanbaru.  Sebab, hewan seperti monyet dan lutung kerap mendatangi area kebun dan dikhawatirkan merusak tanaman.  Ia juga sempat kesulitan mencari media sekam untuk tin, karena tidak ada area persawahan di Pekanbaru. “Salah satu kendala waktu itu adalah media tanam. Karena untuk tin, media harus poros dan tidak boleh menyimpan terlalu banyak air. Namun harus lembab, disitulah tantangannya. Tidak boleh terlalu kering dan terlalu basah. Kita harus mengkondisikan akar agar tetap lembab dan nyaman untuk berkembang,” jelas pria kelahiran tahun 1983 ini.

Imran mengaku belajar membudidayakan tin secara otodidak. Ia juga bergabung dalam berbagai komunitas seperti Fig Lovers Indonesia, Paguyuban Petani Tin, dan Komunitas Buah Tin Indonesia. “Kita belajar dari senior yang sudah lebih berpengalaman. Sambil mengulik sendiri juga, media yang pas untuk kita disini,” Biasanya proses pembelajaran dan diskusi dihelat dari grup WhatsApp, Facebook, dan Telegram.

 

Produk Kebun Tin Pekanbaru

Kebun Tin Pekanbaru telah memiliki green house kokoh sejak Oktober 2019 lalu. Setelah 1 tahun berjalan, buahnya sudah dapat dirasakan. Kebun Tin Pekanbaru menjual buah dalam sistem waiting list dengan bobot 200 gram per pack. Di tengah pandemi, respon masyarakat justru semakin bagus, banyak yang mencari buah dan bibit tin. Beberapa yang telah mengetahui khasiat buah ini akan melakukan repeat order. Saat ini, terdapat 350 bibit tin di Kebun Tin Pekanbaru dan sekitar 100-150 bibit sudah mulai berbuah. Dalam sebulan, dapat dihasilkan sekitar 1 kilogram buah tin dari green house Kebun Tin Pekanbaru. Per minggu sekitar 200 gram, dapat dikirimkan buahnya ke konsumen.

Bibit tin yang dijual di Kebun Tin Pekanbaru dibanderol dengan harga mulai dari Rp 50.000. Harga ini ditentukan berdasarkan jenis dan kondisi bibit, apakah bibit masih anakan atau indukan. Kebun Tin Pekanbaru memiliki sekitar 40 jenis tin, diantaranya Green Yordan, Purple Yordan, Red Palestine, BTM6, LSU Gold, TGF Jumbo, Wuhan, LSU Purple, JHA, LDA, Matsui Dauphine, Red California, Burnswick, Blue Giant, Super Jumbo, NDC, dan White Libanis. Ada pula bibit tin jenis Joly Tiger Varigata, BNR, dan Pallazo yang dijual dengan harga Rp 1 jutaan.

Ketiganya memiliki keunggulan karena masih jarang ditemukan di pasaran dan memiliki nilai estetika tersendiri. “Joly Tiger Varigata memiliki daun berwarna kuning karena hasil mutasi gen, daunnya juga belang. Ketika sudah berbuah, BNR akan memiliki buah yang belang. Bila normalnya buah memiliki satu warna, BNR akan memiliki beberapa warna seperti merah, kuning, dan hijau pada buahnya,” papar lulusan S1 Teknik Kimia Universitas Riau ini.

 

Pengembangan Aquaponik

 

Dalam green house Kebun Tin Pekanbaru, ditemui pola kolam terpal yang akan digunakan dalam sistem aquaponik untuk memenuhi kebutuhan sayur di rumah Imran. Saat ini, Imran baru melakukan eksperimen dan membudidayakan ikan nila dan gurame. Ia juga masih merancang sistem filter air, sehingga belum mulai membudidayakan sayuran dan buah-buahan. Sistem filter air akan membuat air kolam lebih jernih dan nantinya bermanfaat dalam proses nitrifikasi untuk tanaman. Ayah tiga anak ini juga memanfaatkan air dari kolam untuk menyiram pohon buah tin.

“Disamping mendapatkan hasil budidaya ikan, kita juga mendapatkan manfaat dari kotoran ikan tersebut jadi tidak ada yang terbuang. Kita harapkan nanti akan zero-waste dan reduce water, sehingga air yang dimanfaatkan tidak terbuang kemana-mana, tapi akan dikembalikan lagi ke sistem,” jelasnya. Rencananya, Imran akan membudidayakan tanaman tomat, sawi, dan sayur lainnya yang dibutuhkan, sehingga dapat mewujudkan kemandirian pangan dari skala rumah tangga.

Adapun alasannya memilih ikan nila dan gurame, karena dinilai tidak terlalu berbau. “Ikan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi nutrisi protein. Setiap 3-4 bulan, ikan bisa diambil untuk dikonsumsi dan meningkatkan kebutuhan gizi keluarga. Kotorannya bisa dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman,” tambahnya. Selain mengembangkan aquaponik, Imran juga mulai merakit vertical composter sendiri untuk menanam sayur dan memperoleh kompos. Di dalam pipa yang terletak di tengah wadah, dimasukkan sampah organik dapur yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Selanjutnya, cacing akan menghancurkan sampah yang ada di dalam, dan kotorannya dapat menjadi nutrisi untuk tanaman.

 

Pengembangan Kebun Tin Pekanbaru

Kebun Tin Pekanbaru menerima pesanan dari luar kota menggunakan pesawat untuk pembelian bibit dalam jumlah banyak. “Permintaan dari Tanjung Pinang lumayan banyak. Di sekitar Riau, ada dari Duri, Kerinci, Kandis, masih seputaran Pekanbaru,” ungkap Imran. Bibit tin yang dijual didatangkan dari pulau Jawa dalam bentukan cangkokan kecil. Namun, sebelum menjual, Imran benar-benar memastikan bibit dalam kondisi yang layak dan memiliki kriteria yang sesuai. Kriteria bibit yang layak dijual dapat dilihat dari tunas yang sudah mulai tumbuh keatas, memiliki ruas hijau panjang-panjang, dan pada ketiak batang sudah mulai tumbuh kecambah,” Sementara itu, kecambah yang tumbuh pada ketiak batang dapat berupa tunas atau bakal buah.

Saat ini, Kebun Tin Pekanbaru masih fokus dalam pembesaran dan pembuahan tin. Namun kedepannya, Kebun Tin Pekanbaru juga ditargetkan dapat menyuplai buah fresh ke supermarket. “Peluang ini masih terbuka di Pekanbaru. Saat bergabung di Komunitas Tin Riau, belum ada teman-teman yang fokus untuk buah. Buah tin yang fresh hanya tahan selama 7 hingga 10 hari,” terang Imran. Harapannya, akan lebih banyak orang yang mengetahui buah tin dan khasiatnya. “Masih banyak pengetahuan yang harus saya gali dalam budidaya tin, seperti penggunaan pupuk agar tanaman tumbuh optimal. Karena di Pekanbaru, ada tantangan cuaca panas. Kita harus ekstra agar tanaman tidak sampai layu pada siang hari,” ungkapnya.

Imran juga berencana untuk membuat photo booth di dalam green house. Nantinya, bunga baby rose, krissan, dan tanaman tin akan dijadikan hiasan sebagai backdrop. “Jadi orang yang kesini tidak sekadar beli buah, mereka juga bisa merasakan pengalaman lain, dan agar terasa lebih homey. Karena bila kebun dihias semenarik mungkin, kita yang merawat tanaman akan lebih semangat,” pungkasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here