Home Peternakan Kisah Sukses Ginanjar, Pengusaha Pelopor Madu Trigona Banten

Kisah Sukses Ginanjar, Pengusaha Pelopor Madu Trigona Banten

Agrozine.id –Putra Banten ini terlahir di Pandeglang 45 tahun yang lalu dengan nama lengkap Gin Gin Ginanjar. Awalnya, Ginanjar muda tak pernah berangan-angan menjadi pengusaha madu. Berasal dari keluarga broken home membuat kehidupan masa remajanya luput dari perhatian orang tua. Ginanjar melampiaskan kegelisahannya pada narkoba, racun dunia yang banyak menghancurkan generasi muda. Namun, Tuhan masih sayang padanya, terjadi sebuah peristiwa yang kemudian mengubah kehidupannya…

Tahun 1997, saat perjalanan dari Bogor menuju Pandeglang, tepatnya di wilayah Tangerang, Ginanjar mengalami kecelakaan. Akibatnya, lengan kanannya diamputasi dan kaki kanannya cacat. Ginanjar sadar bahwa peristiwa tersebut merupakan wujud kasih sayang Allah terhadap dirinya. Inilah cara Allah menyembuhkannya dari kecanduan narkoba.

Dua tahun Ginanjar harus berada di atas kursi roda. Namun, dalam sakitnya tersebut, sanksi sosial masih diterimanya. Masyarakat di sekitarnya masih tetap memandangnya sebagai pemakai narkoba, melarang anak-anak mereka mendekatinya. Mereka bilang, “Hati-hati, Jangan main sama Gin Gin, tukang racun (narkoba).”

Ginanjar merasa sangat lelah dengan vonis dari masyarakat tersebut hingga akhirnya ia berdoa, “Ya Allah, berikan aku kesempatan bisa berjalan lagi, aku ingin mengubah penilaian masyarakat pada diriku, yang tadinya tukang racun menjadi tukang madu.”

Atas izin Allah,Ginanjar bisa berjalan lagi. Ia pun mulai belajar secara otodidak mengenai lebah dan madu. Ginanjar mengamati kehidupan lebah di alam hingga ia mencintai serangga penghasil madu ini.

Satu saat, ada dokter spesialis anak dari RSCM Jakarta yang bernama dr. Aji yang sedang melakukan riset tentang lebah di Pandeglang. Saat itu, dokter Aji melihat koloni lebah dan madunya yang ditemukan di rumah Hasan, tetangga Ginanjar. Dokter Aji sangat senang karena menemukan koloni lebah yang dicari-carinya untuk penelitian. Itulah lebah trigona atau lebah klanceng, lebah berukuran kecil yang tidak menyengat. Masyarakat setempat menyebutnya “teuweul”.

Dua botol madu lebah trigona yang ada di rumah Hasan dibeli oleh dr. Aji dengan harga Rp 800 ribu, harga yang cukup tinggi dibanding harga madu pada umumnya. Dari situlah Ginanjar kemudian melihat peluang dan memiliki keyakinan hingga ia menetapkan hati untuk membudidayakan lebah trigona.

Sekitar tahun 2000-an, keinginan Ginanjar untuk usaha madu terealisasi. Ia mulai melestarikan lebah trigona dengan membudidayakannya. Saat itu, belum ada orang yang membudidayakan lebah kecil ini. Padahal, sudah sejak dari dulu sebenarnya para sesepuh Banten menggunakannya untuk pengobatan. Namun, bukannya dukungan yang didapat dari masyarakat, melainkan cibiran. Bahkan, ada yang menganggapnya stress karena beternak teuweul.

Ginanjar tetap meneruskan usaha budidaya lebah trigona, terus memproduksi madu yang diberi merek “Madu Banten”. Baginya, berdagang madu bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga sebagai ladang dakwah karena madu merupakan minuman sehat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Produksi madunya makin berkembang dan makin dikenal. Makin banyak orang yang telah merasakan khasiat madu ini. Permintaan akan madu trigona semakin banyak. Produknya berkembang, tidak hanya madu, melainkan juga propolis dan bee pollen. Ia pun kemudian membina dan memberdayakan masyarakat sekitarnya untuk turut serta memproduksi madu trigona. Banyak orang datang dari jauh untuk belajar mengenai madu trigona padanya, termasuk dari kalangan akademisi kampus.

Perjuangan untuk memasarkan madu trigona tidaklah mudah.  Rasa madu ini tidak semanis madu pada umumnya, melainkan terasa asam sehingga ada saja orang yang meragukan keaslian madunya. Namun, dengan sabar Ginanjar memberikan bukti konkret atas keaslian madunya. Ginanjar berusaha melakukan edukasi pada masyarakat maupun pada para pejabat tentang kualitas madu ini, terutama khasiatnya untuk kesehatan dan pengobatan.

Kantor-kantor instansi pemerintah didatanginya dengan percaya diri. Ia datang membawa misi mulia menyehatkan bangsa dengan madu. Kerja keras Ginanjar membuahkan hasil hingga mereka dapat menerima dan akhirnya menjadi konsumen madunya. Bahkan, Ginanjar bisa berkolaborasi dengan instansi pemerintah dalam program pelatihan keterampilan budidaya madu.

Produk “Madu Banten” dan madu trigona umumnya semakin dikenal tidak hanya di wilayah Banten, melainkan hingga ke luar negeri. Doa Ginanjar terkabul, kini ia dikenal sebagai tukang madu, bahkan lebih dari itu. Pendapatan Ginanjar dari usaha madu trigona bisa mencapai 32 juta per bulan. Luar biasa, bukan?

Dalam rangka pengabdian pada masyarakat dan untuk empowering (pemberdayaan) masyarakat, Ginanjar dengan dukungan pemerintah daerah, Hipec (Himpunan Peternak Lebah Klanceng), dan LSM membagikan ilmu tentang budidaya lebah trigona pada masyarakat luas, mulai dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan.

Tidak sedikit orang yang dibinanya kemudian berhasil, bahkan ada yang menjadi pengusaha yang lebih besar daripada dirinya. Empowering memang berisiko menimbulkan kompetitor bagi usahanya, tetapi Ginanjar yakin, dengan berbagi ilmu kepada masyarakat, ia akan mendapatkan kelapangan dari Allah. (das)

Yuk, tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here