Home Kehutanan Agrosilvofishery, Metode Jitu Pulihkan Ekosistem Gambut Yang Rusak

Agrosilvofishery, Metode Jitu Pulihkan Ekosistem Gambut Yang Rusak

wetlands.org

Agrozine – Sobat Agro, kali ini kita akan membahas mengenai sebuah metode atau cara memulihkan ekosistem lahan gambut yang rusak atau istilahnya terdegradasi. Metode ini disebut Agrosilvofishery. Seperti apakah metodenya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
Lahan gambut adalah jenis lahan basah yang terbentuk dari timbunan material organik berupa sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk di dalam tanah. Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan mencapai 22,5 juta hektar. Persebaran lahan gambut di Indonesia berkisar di pulau Sumatera, Kalimantan, Papua serta sebagian kecil di Sulawesi. Luas lahan gambut terbesar terletak di Papua dengan luas 6,3 juta ha. Berikutnya Kalimantan Tengah 2,7 juta ha, Riau 2,2 juta ha, Kalimantan Barat 1,8 juta ha dan Sumatera Selatan 1,7 juta ha.
Kerusakan lahan gambut menyebabkan dampak yang nyata bagi masyarakat yang tinggal di dan sekitar lahan gambut, seperti terjadinya banjir, kekeringan, pencemaran tanah dan air, kebakaran, serta asap yang disebabkan oleh kebakaran lahan gambut. Selain itu, rusaknya habitat alami gambut membuat masyarakat yang dulunya memanfaatkan hasil alam seperti ikan dan atau hasil hutan bukan kayu lainnya dari lahan gambut kehilangan mata pencahariannya.

Tantangan saat ini adalah bagaimana agar aktivitas budidaya pada lahan gambut dapat memberikan dua manfaat sekaligus, ekologi dan ekonomi. Budidaya skala besar seperti hutan tanaman dan perkebunan perlu menyeting ulang aktivitas pengelolaannya mengikuti regulasi yang baru untuk mencegah dan meminimalkan bencana lingkungan di masa mendatang, sekaligus untuk menjamin kelestarian usaha dalam jangka panjang. Budidaya skala kecil yang dilakukan oleh masyarakat juga perlu mengadopsi pola-pola budidaya yang lebih ramah gambut untuk menggantikan pola pemanfaatan yang ekstraktif dari sumber daya alami gambut.

Pola budidaya terpadu yang ramah gambut dapat disintesis melalui pendekatan integrasi beragam sumber daya. Sumber daya yang dijumpai pada ekosistem gambut dapat dibagi dalam 3 kelompok utama, yaitu sumber daya lahan, sumber daya hutan dan sumber daya perairan. Jika ketiga sumber daya tersebut diintegrasikan maka akan dapat diperoleh pola pemanfaatan lahan terpadu untuk budidaya pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Agrosilvofishery adalah sistem usaha tani atau penggunaan lahan yang mengintegrasikan potensi sumber daya dan budidaya pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam satu hamparan lahan. Manfaat ekologi dan ekonomi yang diperoleh dari penerapan pola tersebut adalah pemanfaatan lahan lebih ramah lingkungan karena tidak mengubah ekosistem rawa gambut secara radikal dan tetap mempertahankan sumber daya awal, efisiensi pemanfaatan lahan, serta diversifikasi komoditas dan pendapatan. Dampak yang diharapkan dari penerapan pola tersebut adalah terbentuknya pola pemanfaatan lahan rawa gambut menetap yang efisien, intensif, dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Pola agrosilvofishery dapat diterapkan secara intensif atau semi intensif tergantung dari lokasi, luas lahan dan tujuan pengembangannya. Pola agrosilvofishery intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang dekat dengan pasar atau pusat pelayanan dan pemukiman, luas lahan 0,25 sampai 0,5 hektar per kepala keluarga (KK). Pola agrosilvofishery semi intensif dapat dikembangkan pada lahan rawa yang belum berkembang (desa-desa hutan), luas lahan 1 sampai 2 hektar per KK. Pemilihan jenis komoditas pertanian, kehutanan dan perikanan yang akan dikembangkan dalam pola agrosilvofishery harus didasarkan pada kesesuaian lahan dan pasar.

Budidaya terpadu ramah gambut berbasis agrosilvofishery sangat sejalan dengan pendekatan 3R (Rewetting, Revegetasi dan Revitalisasi) restorasi gambut yang dilaksanakan oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). Integrasi ketiga pendekatan tersebut dalam satu hamparan lahan gambut merupakan kebutuhan sekaligus tantangan dalam merestorasi lahan gambut terdegradasi (rusak).

Pada pola agrosilvofishery terdapat tiga komponen utama, yaitu pematang, kolam/parit, dan lahan usaha. Ketiga komponen ini harus dipenuhi sebagai syarat untuk integrasi budidaya pertanian, kehutanan dan perikanan dalam satu hamparan lahan. Beberapa hasil riset memberikan bukti bahwa pola agrosilvofishery (wana – mina – tani) mampu menjadi solusi pemulihan ekosistem gambut yang rusak. Pola agrosilvofishery juga merupakan pola yang paling dibutuhkan dalam skala rumah tangga.

Dengan pola agrosilvofishery, lahan gambut yang tergolong lahan marjinal dapat digunakan untuk aktivitas budidaya pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tersusun baik secara parsial maupun temporal dalam satu hamparan lahan. Pola agrosilvofishery di lahan gambut merupakan pemanfaatan lahan rawa berwawasan ekosistem, ramah lingkungan, dan berbasis sumberdaya lokal seperti perikanan, kehutanan dan pertanian serta dapat mengubah pola budidaya, dari ekstensif menggunakan api ke budidaya intensif tanpa penggunaan api.

Secara finansial, pola agrosilvofishery intensif layak untuk dijadikan sebagai usahatani. Pola agrosilvofishery ini juga dapat diintegrasikan dengan program pencetakan sawah pada lahan rawa gambut untuk pencegahan kebakaran yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian atau program community development yang dilakukan oleh perusahan HTI dan perkebunan.

Aktivitas budidaya yang digunakan pada sistem agrosilvofishery adalah dengan jarak tanam pohon dibuat longgar (10 m x 4 m) agar tersedia ruang yang cukup untuk budidaya tanaman pangan (lebar jalur 10 m). Hal ini dilakukan agar masyarakat memperoleh penghasilan yang memadai dari aktivitas budidaya pada lahan kelolanya.

Jenis tanaman pohon asli gambut yang biasa digunakan adalah belangeran (Shorea blangeran). Bibit yang digunakan berukuran besar dengan tinggi 150-200 cm untuk menyesuaikan dengan tinggi genangan atau dengan membuat guludan. Setelah penanaman dilakukan, dilanjutkan dengan kegiatan pemeliharaan dan pemupukan. Kegiatan pemeliharaan dilakukan sebanyak 4 kali. Pemeliharaan tahun pertama berupa penyulaman dan pemupukan. Pemeliharaan kedua sampai keempat dilakukan pada bulan ke-4, ke-8 dan ke-12 setelah tanam dengan aktivitas berupa pemupukan, pembersihan gulma, dan perbaikan gundukan yang rusak. Selanjutnya, pada tahun ke-2 dan ke-3 pemeliharaan dilakukan masing-masing sebanyak 3 kali berupa pemupukan dan pembersihan gulma. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here